Berita Tabanan

Pariwisata Berangsur Pulih, Teh Beras Merah Jatiluwih Mulai Dibidik Lagi Konsumen

Pariwisata Berangsur Pulih, Teh Beras Merah Jatiluwih Mulai Dibidik Lagi Konsumen

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Fenty Lilian Ariani
TB/Ardhiangga Ismayana
Pak Krisna menujukkan packaging teh beras merah dan beras merah olahan dari sawah yang ia garap 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Pertanian menjadi magnet bagi Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih, Desa Jatiluwih Kecamatan/Kabupaten Tabanan. Beras merah yang jadi unggulan. Produk turunan beras merah yang sedang digandrungi ialah teh. Teh beras merah. Bisa dicampur dengan jahe dan daun pandan.

Saat ini pariwisata mulai pulih. Bersamaan dengan itu, teh beras merah pun menjadi bidikan wisawatan. Baik Wisata Mancanegara (Wisman) atau wisatawan domestik (Wisdom). Hal ini diakui oleh Petani Beras Merah sekaligus pemilik salah satu warung di DTW Jatiluwih, I Wayan Semara Jaya.

Pak Krisna karib ia disapa, mengaku pariwisata sudah menggeliat. Meskipun, tidak seratus persen seperti 2019 atau pandemi berlangsung. Dua tahun vakum DTW Jatiluwih.  Teh beras merah menjadi produk turunan, yang digandrungi. Dan tentu saja, panorama alam berupa sawah di dataran tinggi itu menjadi bidikan wisatawan.

“Kalau untuk konsumsi beras merah memang kurang. Saat ini para saudagar sudah terbatas membeli. Hanya saudagar yang merupakan pelanggan yang akan mengambil,” ucapnya, kemarin saat ditemui di warungnya.

Khusus untuk teh beras merah, sambungnya, paling tidak sebulan dirinya bisa menjual sekitar 90 hingga 200 packing teh. Satu packing dengan ukuran 200 gram itu, dibandrol dengan harga sekitar Rp 20 ribu. Dan satu packing bisa untuk dikonsumsi beberapa orang. Tergantung keinginan untuk kepekatan teh beras merah itu sendiri.

“Kebanyakan sebelum pandemi bisa lebih dari itu. Sekarang paling tidak hanya 90 sampai 120 packing sebulan. Kami jual per packing 200 gram Rp 20 ribu. Kebanyakan memang wisatawan asing,” ungkapnya.

Sedangkan untuk beras merah sendiri, menurut Pak Krisna, paling tidak sebulan menghabiskan sekitar 50 packing. Satu packing seberat satu kilogram. Untuk beras merah dijual dengan harga berbeda. Wisdom per kilogram akan dibandrol dengan harga Rp 25 ribu. Wisman, akan dikenai harga lebih tinggi sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 40 ribu per kilogram.

Dan memang mulai Juni 2022 lalu, aktivitas pariwisata sudah mulai menggeliat. Kalau sebelum ini, saat pandemi tepatnya, vakum.

“Wisman yang berkunjung paling tidak seminggu itu 20 orang per minggunya. Ya, mampir ke warung. Kalau harinya tidak menentu. Kebanyakan wisatawan dari Perancis, Belanda Jerman Spanyol. Atau kebanyakan dari Eropa. Kalau Asia kebanyakan saat ini dari India,” paparnya.

Pak Krisna mengaku, sudah menggeluti pertanian khususnya beras merah sejak 12 tahun lalu. Untuk areal tanam beras merah miliknya, sekitar 50 are. Dan saat ini memang belum musim tanam untuk padi beras merah. Biasanya, masyarakat Jatiluwih yang keseluruhan lahan garapan sekitar 200 hektare, akan menanam pada akhir Desember hingga Januari. Dan pola tanam yang dilakukan ialah semi organik. Ada beberapa pola tanam yang non organik.

“Untuk hasil paling tidak sekitar 3 ton padi kering. Bukan kering giling. Masa panen sekitar lima bulan dari masa tanam. Kalau kering giling paling tidak menghasilkan separuh lebih dari hasil padi kering,” bebernya.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved