Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Dewan Pakar BPIP: Pancasila Menginspirasi KTT G20

BPIP kembali menggelar Seminar Pancasila 2022 yang menunjukkan diplomasi Pancasila sebagai solusi perdamaian dunia dan kesejahteraan internasional.

Dok. Humas BPIP
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) kembali menyelenggarakan Seminar Pancasila series 5 yang merupakan penutup dari rangkaian kegiatan Seminar Pancasila 2022 yang diselenggarakan oleh BPIP dan Kompas TV secara hybrid di Universitas Udayana, Bali, pada Senin (21/11/2022). 

TRIBUN-BALI.COM – Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri Dr Darmansjah Djumala mengatakan, diplomasi Pancasila terlihat jelas saat pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20) di Bali 15-16 November 2022.

Lalu apakah diplomasi Pancasila di KTT G20 tersebut berhasil? Terkait hal ini, Darmansjah Djumala menyatakan, terdapat tiga dimensi untuk melihat keberhasilan diplomasi suatu ideologi, yaitu tataran kenegaraan, partisipasi negara-negara dalam tataran substansi, dan tataran masyarakat.

“Apabila dilihat dalam tata negara, KTT G20 adalah suatu perhelatan akbar yang mempertemukan dua pihak berseteru, sehingga tidak mudah dilakukan,” ungkap Djumala dalam keterangan pers yang diterima Tribun-Bali.com, Selasa (22/11/2022).

Hal tersebut disampaikan Djumala dalam acara seminar episode kelima “Seminar Pancasila 2022” yang diselenggarakan oleh BPIP dan Kompas TV secara hybrid di Universitas Udayana, Bali, pada Senin (21/11/2022).

Djumala menjelaskan, keberhasilan tidak hanya menghasilkan deklarasi, tetapi juga aksi nyata (tangible result) untuk hal kemanusiaan. Apalagi, saat melakukan musyawarah di G20, nilai Pancasila terlihat begitu jelas terutama dalam substansi membangun ekosistem kesehatan yang menghasilkan pandemic fund.

“Hasil tersebut menunjukkan sosial kemanusiaan yang menekankan pluralitas serta keadilan sosial sebagai nilai-nilai yang dipancarkan Pancasila di dalam G20. Jadi, Pancasila akan terasa di dalam tataran masyarakat,” jelas Djumala.

Ia melihat adanya inspirasi nilai Pancasila yang dihasilkan di G20, yakni pandemic fund yang nantinya akan diarahkan kepada negara-negara yang mengalami keterbatasan dalam mengakses alat-alat kesehatan. Dengan demikian, ada manfaat langsung untuk masyarakat sesuai sosial kemanusiaan dan keadilan sosial yang sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.

“Keberadaan nilai Pancasila dan manfaatnya bagi masyarakat sudah diatur dalam perhelatan G20. Hal ini tidak terlepas dari peran besar Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi. Dalam penyelenggaraan G20, Presiden Jokowi dianggap berhasil dalam upaya mempertemukan pihak yang berseteru,” ujar Djumala.

Selain itu, Djumala mengatakan, Menlu Retno juga berhasil dalam mempertemukan Menlu Amerika dan Menlu Rusia. Di sisi lain, Presiden Jokowi juga berhasil membuat deklarasi yang disetujui oleh semua peserta dan Indonesia berperan sebagai penghubung sejumlah negara melalui jalur kompromi.

“Dari sana terlihat bahwa nilai-nilai Pancasila terutama pesan perdamaian yang diterapkan dalam skala internasional. Diharapkan, untuk ke depannya akan memberikan inspirasi bagi bangsa lain di dunia untuk turut menerapkannya,” kata Djumala.

Pada seminar tersebut, Wakil Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Brigjen Heru Langlang Buana mengatakan, pada G20, Presiden Jokowi berkali-kali telah menggaungkan “stop the war”.

Dengan demikian, kata dia, Indonesia dapat berperan besar dalam rangka perdamaian dunia. untuk itu, peran TNI dalam perdamaian skala internasional yang sesungguhnya ada di level operasional.

“Untuk para anggota TNI yang bertugas ke suatu daerah misi tertentu dalam rangka mendukung tercapainya cita-cita perdamaian harus penuh persiapan, termasuk dalam hal politik negara. Kami mendukung dengan menyiapkan dan membantu penyerapan pasukan-pasukan yang akan dikirimkan ke daerah misi, mulai dari mendukung pelaksanaan seleksi, pelatihan dan rotasi, hingga monitoring setiap pelaksanaan kegiatan di lapangan,” ujar Heru.

Menurut Heru, TNI telah menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam rangka mendukung misi perdamaian yang sesuai dengan mandat dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB).

Tugas tersebut sudah ditentukan semua, mulai dari perlindungan dan membantu masyarakat sipil, menghindari terjadinya konflik, membangun supremasi hukum, hingga pemberdayaan wanita.

“TNI berperan khusus dalam melaksanakan tugas pemeliharaan perdamaian dunia di berbagai negara konflik dan mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan terhadap masyarakat sipil, sehingga membangun rasa percaya dan perdamaian. Meskipun sekilas yang dilakukan berupa negosiasi kecil, mulai dari prajurit ke masyarakat, tetapi efeknya begitu luar biasa hingga mendapatkan sebuah informasi,” jelas Heru.

Hadir pula dalam seminar tersebut Penulis buku Pancasila dari Indonesia untuk Dunia Bernada Rurit. Ia mengatakan, isi dari buku yang ditulisnya memuat sejarah lahirnya Pancasila, pemikiran-pemikiran para pendiri bangsa, hingga kutipan dari Bung Karno.

Ia berharap karyanya bisa diamalkan tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia, seperti yang sudah dilakukan oleh Bung Karno pada sidang PBB tahun 1960.

“Diharapkan buku dan perhelatan G20 yang berlangsung kemarin dapat membuat para pemimpin dunia terkesan, sehingga dapat mencari tahu nilai-nilai serta ideologi bangsa Indonesia. Saat ini, masyarakat dunia terhubung melalui globalisasi, sehingga generasi muda Tanah Air sewajarnya merepresentasikan Pancasila,” ujar Bernada.

Adapun Putri Indonesia 2022, Laksmi De-Neefe Suardana yang juga hadir dalam seminar tersebut menjelaskan, beauty pageant berperan mengenalkan nilai-nilai Pancasila kepada dunia. Salah satu contohnya melalui ajang Miss Universe 2022.

“Penting untuk membangun kesadaran literasi bagi generasi muda agar bisa mengaktualisasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari serta mendorong anak muda untuk gemar membaca, menulis, dan bersastra agar Pancasila tidak hanya menjadi sekadar hafalan saja,” ujar Laksmi.

Sementara itu, Diplomat RI sekaligus Sekretaris Pertama PTRI Jenewa Nara Masista Rakhmatia mengapresiasi keberhasilan Indonesia pada Presidensi G20 yang menjadi jalan pembuka bagi negara-negara berkembang lainnya.

Nara mengatakan, negara peserta G20 mengesampingkan ego negara masing-masing sebagai bentuk penghormatan kepada Indonesia sebagai keketuaan KTT G20.

“Tidak hanya pemerintah, masyarakat Indonesia juga berperan penting dalam berkomitmen menerapkan Pancasila terlebih dahulu dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, Pancasila akan berpotensi menjadi ideologi alternatif perdamaian dunia yang diimplementasikan oleh masyarakat dunia,” jelas Nara yang juga menjadi narasumber dalam seminar tersebut.

Sebagai informasi, Pancasila sebagai ideologi perdamaian merupakan jalan ketiga yang memuat nilai-nilai pemersatu kehidupan berbangsa yang sudah lama ada di Indonesia. Meskipun sosialisme dan kapitalisme ada terlebih dahulu, tetapi Pancasila memuat nilai-nilai persatuan.

Dalam forum G20, Indonesia kembali memperkenalkan Pancasila kepada para pemimpin negara dunia yang hadir. Pancasila sebagai ideologi yang bisa mempersatukan rakyat pertama kali diperkenalkan oleh Presiden RI pertama, Soekarno.

Pada sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-bangsa tahun 1960, Soekarno menggemparkan dunia dengan pidato yang berjudul “To Build the World a New”.

Dalam pidato tersebut, Soekarno menawarkan Pancasila sebagai solusi bagi permasalahan bangsa yang mengandung nilai musyawarah dan gotong royong yang bersifat universal dan mampu menyatukan berbagai perbedaan.

Nilai yang terkandung dalam Pancasila itu yang menginspirasi Indonesia untuk menjalankan diplomasi dan menjaga perdamaian, khususnya ketika kunjungan Presiden Jokowi ke Rusia dan Ukraina pada 2022.

Situasi yang sengi tantara Rusia dan Ukraina rupanya tidak menyurutkan langkah Presiden Jokowi untuk membuka pintu dialog agar masyarakat internasional dapat mengatasi krisis pangan dan energi secara gotong royong.

Selain itu, Pancasila juga mengandung nilai-nilai universal dan positif dalam menciptakan perdamaian. Nilai-nilai itu, antara lain menghargai perbedaan dan mengutamakan jalan damai dalam menyelesaikan konflik.

Dengan demikian, masyarakat Indonesia patut bersyukur, sebab Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki landasan ideologi Pancasila yang kuat. Pancasila juga telah menjadi napas bersama dan bintang penuntun ketika permasalahan yang dihadapi bangsa ini begitu besar.

Indonesia juga diprediksi akan menjadi salah satu negara dengan kekuatan ekonomi terbesar di dunia yang selalu berperan aktif dalam mewujudkan perdamaian dan kesejahteraan dunia.

Untuk diketahui, KTT G20 menjadi momentum yang tepat dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila yang diyakini dapat menjadi solusi untuk mewujudkan kesejahteraan dan perdamaian dunia.

Selama setahun, Indonesia berhasil memegang Presidensi G20 dan puncaknya pada Selasa (15/11/2022) hingga Rabu (16/11/2022) telah digelar KTT ke-17 di Bali yang dihadiri oleh para pemimpin dunia anggota G20. Hasil dari pertemuan tersebut pun diabadikan dalam Bali G20 Leaders Declaration.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved