Berita Tabanan

Dilirik Investor Australia, Desa Kelating Bangun Wisata Terjun Payung

Desa Kelating memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan. Sampai-sampai kini dilirik oleh investor negeri Kangguru

ist
Wisata Desa Kelating di Kecamatan Kerambitan, Tabanan 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN- Desa Kelating memiliki potensi luar biasa untuk dikembangkan. Sampai-sampai kini dilirik oleh investor negeri Kangguru atau Australia. Pengembangan wisata mengarah ke wisata terjun payung. Desa yang terletak di Kecamatan Kerambitan ini memiliki potensi wisata yang sebelumnya juga menjadi daya tarik. Namun, kini akan menjadi lebih lengkap dengan pengembangan wisata terjun payung.

Bendesa Adat Kelating Dewa Made Maharjaya mengatakan, bahwa penjajakan untuk wisata terjun payung sudah sejak 2019 silam. Hanya saja, saat ini masih dalam pengurusan ijin untuk di pusat. Sedangkan untuk seluruh ijin di daerah denga kata lain Bali, sudah rampung. Direncanakan areal yang digunakan untuk wisata itu sekitar 7,5 hektare. Dimana itu dimiliki sekitar 25 orang. Antara pemilik dan investor menggunakan sistem kesepakatan sewa lahan.

“Yang terbaru dari perkembangan informasi yang tiang (saya, dalam bahasa bali), masih menunggu ijin dari pusat,” ucapnya, Rabu 30 November 2022.

Ia mengaku, seluruh ijin di daerah atau Bali sudah rampung. Yang awalnya, juga dibarengi oleh perstujuan warga untuk dilakukan pembangunan. Menariknya lagi, investor bahkan sudah membayarkan lima persen dari harga sewa lahan yang disepakati. Sehingga warga pun bersepakat. Dan nantinya akan dilakukan pula pertemuan dengan Bupati Tabanan, Komang Gede Sanjaya untuk audiensi di tahun depan. Sehingga juga dapat dibarengi dengan pembangunan di awal tahun 2023.

"Lokasi dibangunnya di Banjar Dangin Jalan, sebelah timur Pura Khayangan Puseh," jelasnya.

Ia menambahkan, bahwa investor melirik Desa Kelating, dengan dikembangkan berupa wisata terjun payung juga sesuai dengan koordinasi di Airnav Denpasar Tabanan. Dimana tidak terganggu penerbangan mengingat daerah yang jauh dari area pesisir Pulau Bali. Meski dibangun dilahan produktif, namun warga tidak dapat memanfaatkan ketika musim kemarau tiba.

“Jadi itu juga jadi alasan warga mau menyewakan,” bebernya. (*).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved