Berita Denpasar

PPKM Dicabut Diseluruh Indonesia, Bawa Angin Segar Untuk Pariwisata

Usai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) di seluruh wilayah Indonesia dicabut pada Jumat 30 Desember 2022 lalu

Tribun Bali/Rizal Fanany
Pengendara melintas di kawasan Gatsu Tengah, Denpasar, Minggu 21 November 2021. Pemerintah akan menerapkan kembali pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 3 saat libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) di seluruh wilayah Indonesia. Aturan itu akan berlaku mulai 24 Desember 2021 sampai 2 Januari 2022. 

TRIBUN BALI.COM, DENPASAR - Usai pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat ( PPKM) di seluruh wilayah Indonesia dicabut pada Jumat 30 Desember 2022 lalu, membawa angin segar pada dunia pariwisata di Bali.

Pelaku pariwisata khususnya di Bali pun tentunya menyambut keputusan tersebut dengan positif. Diharapkan dengan dicabutnya PPKM, dapat mendatangkan lebih banyak wisatawan ke Bali.

“Dibukanya PPKM sangat menguntungkan sekali, apalagi kita sudah lihat bagaimana dampak dari penutupan tahun 2022. Sangat antusias sekali. Terjadi ledakan yang sangat pesat, khususnya masih di daerah Bali Utara,” kata, Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata (Forkom Dewi) Provinsi Bali I Made Mendra Astawa pada Selasa 3 Januari 2022. 

Meskipun PPKM dicabut, Mendra menegaskan, fasilitas-fasilitas terkait protokol kesehatan atau CHSE yang telah ada di desa wisata tetap tersedia. Salah satunya seperti wastafel untuk mencuci tangan. 

“(Fasilitas prokes) Tetap kami adakan di desa wisata. Apalagi ada yang disediakan oleh pemerintah. Artinya, apakah pengunjung tetap melaksanakannya ini tergantung setiap individu. Kita kan tidak pernah tahu. Ini gaya hidup namanya. Ketika fasilitas kesehatan kita jaga dan pelihara, wisatawan akan percaya. Ini juga menjadi salah satu magnet bagi mereka agar hadir di tempat kita,” sambungnya.

Sementara itu terkait kunjungan wisatawan saat libur tahun baru di desa wisata, Mendra mengaku, sangat luar biasa. Khususnya di Desa Penglipuran, ia mengungkapkan, wisatawan masih mengincar desa wisata yang berlokasi di daerah Bangli tersebut. Selain itu, banyak wisatawan yang mengunjungi air terjun di wilayah Bali sepanjang Bangli sampai Gianyar. Harga yang terjangkau serta tersedianya beragam kuliner menjadi alasan wisatawan memilih desa wisata sebagai destinasi tujuan libur tahun baru.

“Saya lihat dan merasakan sendiri di beberapa tempat, contohnya di daerah Klungkung. Kuliner yang mereka miliki di tempat mereka habis dalam waktu singkat. Kuliner langganan saya, biasanya pukul 17.00 Wita itu masih, tapi saat saya datang pukul 13.30 Wita tinggal sisa-sisanya. Pedagangnya bilang ini dampak per ekonomian membaik,” tuturnya.

Diakuinya, kunjungan wisatawan pasca pandemi ini bahkan lebih bagus dari sebelum pandemi. Hal ini dilihat dari kedatangan wisatawan domestik di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali yang mencapai 17 ribuan per hari pada puncak kedatangan libur Nataru, keterisian kamar hotel yang rata-rata penuh, dan kemacetan dimana-mana.

“Dengan dibukanya PPKM, tentu ini menjadi berita baik. Jadi setiap insan pariwisata di desa wisata, ini merupakan tanggung jawab pengelola. Mencakup kenyamanan dan keamanan diri sendiri dan pengunjung,” katanya.

Menurutnya, hal ini juga menjadi harapan baru. Kedepannya ia berharap, pemerintah dapat lebih menguatkan kerja sama dengan maskapai agar lebih banyak yang bisa masuk ke Bali. “Sejauh ini baru masuk sekitar 29, kita harapkan bisa lebih sehingga kita mendapatkan kedatangan wisatawan-wisatawan lebih banyak lagi,” tutupnya. (*) 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved