Berita Karangasem

Cuaca Tak Bersahabat, Hasil Panen Petani Garam Turun

Hasil panen petani garam di Br. Dinas Yeh Malet, Antiga Klod, Kec. Manggis, Kab. Karangasem menurun.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Fenty Lilian Ariani
Tribun Bali/ Saiful Rohim
Lahan pertanian garam di Banjar Dins Yeh Malet, Desa Antiga Klod, Kec. Manggis. Bebedapa petani terlihat masih tetap berproduksi. 

TRIBUN-BALI.COM,AMLAPURA - Hasil panen petani garam di Br. Dinas Yeh Malet, Antiga Klod, Kec. Manggis, Kabupaten Karangasem menurun. Pemicunya dikarenakaan cuaca di lokasi pembuatan garam tidak bersahabat. Mendung dan sering turun hujan, sehingga terkendara di penjemuran.

Wayan Budiasa, petani garam di Banjar Dinas Ye Melat, mengatakan, hasil panen sedikit turun dibanding bulan sebelumnya. Rata - rata perminggu bisa hasilkan lebih dari 50 kilogram. Ini dikarenakan cuaca yang tak bersahabat.Kondisi ini terjadi sejak bulan Desember 2022 kemarin.

"Saya kerja sama keluarga. Kalau dulu saat musim panas bisa hasilkan sekitar 100 kilogram perminggu.Tetapi itu tidak menentu. Bisa lebih, atau kurang. Kalau sekarang 50 kilogram,"ungkap Wayan Budiasa kepada Tribun Bali, Minggu (15/1)

Proses penjemuran terhambat dikarenakan cuaca mendung. Sehingga memerlukan waktu cukup lama untuk memanen.

"Disini (Yeh Malet) ada seekitar 40 petani garam. Sebagian besar masih beroperasi. Kalau hujan, sementara di tutup memakai terpal,"kata Budiasa, sapaan akrabnya.

"Semoga cuaca segera kembali normal, sehingga petani garam bisa beroperasi seperti biasa. Hasil panennya bisa kembali meningkat. Saya kerja bareng saudara,"harapnya.

Terkait penjualan garam, tak ada masalah. Para petani garam di Banjar Yeh Malet menjual garamnya ke Pasar Galiran, Kabupaten Klungkung. Harganya variatif tergantung wadah yang dipakai. Pembeli garam di Galiran sudah ada, cuma pembayarannya kadang dicicil lantaran garam belum laku terjual.

"Untuk penjual garam sudah ada pembelinya. Sistem pembayaran kadang dicicil. Dan kadang di tukar dengan kebutuhan pokok. Kalau seandainya ada pembeli yang datang ke lokasi kemungkinan pembayarannya tunai. Satu kaleng besar kita jual sekitr 20 ribu. Lumayan pembeli,"jelasnya.

Untuk diketahui, selain di Yeh Malet, produksi gram di Amed, Desa Purwakerti, Kecamatan Abang sedikit terhambat. Pemicunya karena cuaca yang tidak sahabat. Untung petani gram amed yang tergabung di MPIG memiliki stok baanyak. Untuk pengiriman ke hotel dan restaurant lumayan aman.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved