Sponsored Content

Dialog Budaya Imlek Bersama 2574, Bedah Akulturasi Budaya Tionghoa & Bali yang Berusia Ribuan Tahun

Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali menggelar dialog budaya pada Kamis 26 Januari 2023 di Kampus ISI Denpasar

Editor: I Putu Juniadhy Eka Putra
Istimewa
Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali menggelar dialog budaya pada Kamis 26 Januari 2023 di Kampus ISI Denpasar 

TTRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Tionghoa dan Bali memiliki keterikatan yang erat.

Hal itu ditandai kebudayaan dan budaya Bali yang hampir selalu dibalut budaya Tionghoa. 

Spirit tersebut menjadi penggerak Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali dalam menggelar Festival Imlek Bersama 2574 pada Sabtu 28 Januari dan Minggu 29 Januari di sepanjang Jl. Gajah Mada, Denpasar. 

Mengungkap kemistri Tionghoa dan Bali, INTI Bali juga menggelar dialog budaya pada Kamis 26 Januari 2023 di Kampus ISI Denpasar.

Dialog yang dipandu moderator Budayawan dan Jurnalis I Wayan Juniarta ini mengundang tiga budayawan sebagai narasumber. 

Mereka adalah Dr. Drs. I Made Sendra, M.Si., Ida Ratu Shri Bhagawan Putra Natha Nawa Wangsa Pemayun dan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M. Litt. Bersanding dengan keynote speaker Ketua INTI Bali Dr. Putu Agung Prianta yang juga Ketua INTI Bali dan Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. Wayan Kun Adnyana. 

Ida Bhagawan sebagai narasumber pertama memaparkan, dialog budaya yang digelar INTI Bali ini sangat positif karena menyegarkan nilai-nilai akulturasi Tionghoa dan Bali yang dirajut oleh sejarah panjang. 

"Semoga dialog ini bisa menjadi tauladan menyebarkan kesejukan di dunia ini. Terlebih terselenggaranya G20 agar Bali bisa menjadi contoh (perdamaian dunia)," ujar Sulinggih yang merupakan Bhagawanta Gubernur bali.

Tentang sejarah Tionghoa dan Bali, dirinya merujuk prasasti Tabanendra, yang menunjukkan jejak Tionghoa di Bali. Salah satunya dibuktikan dengan kisah Dalem Balingkang dan Kang Ching Wei. 

Baca juga: Mohon Kerahayuan Jagat, Parade Imlek 2023 Meriahkan Jalan Gajah Mada Denpasar Bali

"Muncullah sebuah kebudayaan dimana bersama ditetapkan spiritualnya, budayanya, ekonominya, dan politiknya. Seperti uang kepeng jadi alat transaksi," ungkapnya.

Ke depan, dia berharap hubungan Tionghoa dan Bali tidak saja tentang budaya, namun dapat bersama membangun manusia Bali yang unggul menuju Bali Kabinawa. 

Dr. Made Sendra dalam paparannya menerangkan tentang revitalisasi akulturasi Budaya Bali Tionghoa. Menurutnya, tidak saja urusan perdagangan, Bali dan Tionggoa juga berkaitan tentang penaklukan. Hal tersebut tersirat dalam beberapa kisah masa lampau. 

Beberapa akulturasi budaya yang ia cermati yakni, miniatur stupa Ratnagiri Odisa India dan Pura Pagulingan di Gianyar Bali, dan Pagoda di Cina yang mirip dengan Meru di Pura-pura di Bali.

Juga terkait sarana sembahyang di Bali yakni Kwangen, yang selalu berisikan uang kepeng. Dalam uang kepeng Cina sendiri terdapat sejumlah huruf Cina yang artinya harapan-harapan terbaik, seperti Perdamaian, Kebahagiaan dan Ketenangan. 

"Dari segi sejarah, Cina dan Bali memiliki hubungan diplomatik budaya yang sudah berumur 2000 tahun. Sehingga Bali dan Cina memiliki kesamaan genetik budaya," simpulnya. 

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved