Bali United

Kisah Pelatih Bali United Coach Teco dan Keluarga Kecilnya Senang Menikmati Suasana Nyepi di Bali

Kisah Pelatih Bali United dan keluarga kecilnya yang senang menikmati suasana Nyepi di Bali: Hargai dan Hormati Tradisi Budaya Adat Pulau Dewata.

|
Penulis: Adrian Amurwonegoro | Editor: Putu Kartika Viktriani
Dok. Tribun Bali
Stefano Cugurra Teco - Kisah Pelatih Bali United dan keluarga kecilnya yQang senang menikmati suasana Nyepi di Bali: Hargai dan Hormati Tradisi Budaya Adat Pulau Dewata. 

TRIBUN-BALI.COM, BALI – Pelatih Bali United, Stefano Cugurra yang sudah 4 tahun atau tepatnya ditunjuk 14 Januari 2019 menangani klub kebanggaan warga Pulau Dewata mengaku sudah menyatu dengan budaya, adat dan tradisi di Bali.

Baru saja, tepat pada Rabu 22 Maret 2023 umat Hindu dan seluruh masyarakat di Bali, melaksanakan hari raya Nyepi yang menjadi hari suci diperingati setiap Tahun Baru Saka.

Hari Suci Nyepi sebagai momentum untuk menyucikan Bhuana Alit alam manusia (microcosmos) dan Bhuana Agung  alam semesta (macrocosmos) dengan Catur Brata Penyepian.

Saat perayaan tiba, masyarakat di Pulau Bali menghentikan segala aktivitas di luar rumah dan seluruh kegiatan publik ditutup selama 24 jam, termasuk Teco dan keluarga kecil istri dan dua anaknya, Roma dan Gabriella.

Bagi kebanyakan orang, Nyepi penuh refleksi dan menahan diri mengikuti aturan yang disebut Catur Brata Penyepian atau empat pantangan yaitu amati karya, amati geni, amati lelungan, dan amati lelanguan

Teco yang berasal dari negara Brasil merasakan langsung bagaimana Bali menjadi pulau yang sangat tenang dengan kesunyian saat Nyepi.

Apalagi, kebetulan Teco dan skuat asuhannya yang pada putaran kedua ini menjadi tim musafir di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) karena tidak bisa bermain di markasnya Stadion Kapten I Wayan Dipta Gianyar Bali karena keperluan venue event Piala Dunia U-20 2023, mereka menyempatkan pulang kampung ke Bali usai laga melawan Madura United, dan sebelum laga melawan Arema FC di Jakarta pada 28 Maret 2023

“Saya sangat menghargai dan menghormati sama aacara kegiatan adat abudaya dari orang Bali, kami di sini harus benar-benar respect sama semua peraturan adat, saat Nyepi kami matikan lampu tidak boleh keluar, ini tidak ada masalah buat saya dan buat keluarga, kami menikmatinya,” ungkap Teco kepada Tribun Bali, pada Jumat 24 Maret 2023.

Baca juga: Sambut Pengerupukan, Ratusan Ogoh-ogoh Sudah Berjejer Rapi Dipinggir Jalanan Kota Denpasar Bali

Malam sebelum Nyepi, atau pada Selasa 21 Maret 2023, umat Hindu di Bali melaksanakan Pengerupukan dengan mengarak atau Pawai Ogoh-ogoh atau patung sebagai perwujudan Buta Kala yang menggambarkan sifat buruk manusia.

Teco menuturkan bahwa pawai Ogoh-ogoh hampir serupa dengan karnaval yang ada di Brasil. Bahkan, anaknya Roma, senang dan mengabadikan gambar Ogoh-ogoh dengan kamera ponsel.

“Biasa kami lewat Kuta, anak saya bisa melihat dan senang lihat ogoh-ogoh besar, senang sekali melihat dan foto foto. Ya, seperti parade di Brasil ada Karnaval tapi mungkin beda dari karnaval. Kalau di Brasil buat pesta liburan, saya tahu ini acara beda. Ya, orang Bali pasti nikmati acara dari mereka,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved