Berita Karangasem

Harga Salak Turun Drastis Pasca Hari Raya Kuningan di Karangasem

Harga salak di petani turun perkilogram. Penurunannya terjadi  setelah Hari Kuningan.

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Fenty Lilian Ariani
Saiful Rohim
Petani salak menjual hasil panennya ke salah satu pasar di Karangasem 

AMLAPURA, TRIBUN-BALI.COM - Harga salak di petani turun perkilogram. Penurunannya terjadi  setelah Hari Kuningan.

Salak biasa berukuran besar yang  semulanya 12 ribu turun  menjadi 5 ribu, sedangkan salak gula yang semula mencapai 23 ribu menjadi 15 ribu perkilonya. Artinya harga turun 50 persen lebih.

Putu Sudita, petani salak asal Sibetan, Kec. Bebandem, mengatakan, harga salak mengalami penurunan sejak se minggu lalu. Penurunan bertahap, tak langsung.

Pemicunya  kemungkinan karena memasuki  panen, sehingga pasokan salak di Karangasem  meningkat. Ditambah adanya persaingan harga antar petani.

"Salak itu musim panennya dua kali.  Pertama yakni Januari sampai Februari, dan panen kedua yakni Agustus. Sekarang  petani salak  mulai masuk masa  panen ke 2. Kemungkinan sampai awal September 2023,"kta Sudita,Minggu (20/8)

Kondisi ini dikeluhkan petani salak di Karangasem. Harganya  tidak sesuai dengan biaya yang dikeluarkan.

"Biaya  operasionalnya tak sesuai dengan hasil yang di dapat. Kemungkinan harga terus mengalami penurunan karena pasokan akan terus meningkat. Kalau pasokan kurang, harga akan naik,"prediksi Sudita

Petani salak di Kabupaten Karangasem berharap harga kembali normal, sehingga para petaninya tidak banyak rugi banyak.

Pihaknya berharap ada solusi untuk bisa mengatasinya. Sehingga petani salak di Kab. Karangasem tidak merugi banyak saat musim panen.

Apalagi jumlah petani salak di Kab. Karangasem cukup banyak.

Sedangkan untuk harga salak di pasar perkilogram berada diangka 7 - 8 ribu ukuran besar, sedangkan kecil 5 - 6 ribu.

Kemungkinan harga akan terus menurun mengingat  pasokannya  banyak.

Mengingat hampir semua petani sekarang panen.

"Kondisi ini rutin terjadi setiap tahun saat masuki panen,"imbuh Sudita.

Baca juga: Peluncuran Bali-Kerthi Development dan Project Management Office


"Petani terpaksa jual buah salak ke pengepul di pasar. Biasanya salak yang di beli pengepul dikirim ke Jakarta, Nusa Tenggara, dan Jawa. Daripada  rugi  banyak  mendingan dijual ke pasar dengan harga segitu,"tambah Sudita, sapaannya.

Untuk diketahui, banyak lahan pertanian salak di Kec. Selat beralih jadi lahan pertanian  sawah (padi). Pemicu utaamanya karena harga salak turun saat memasuki panen.

Seperti di Desa Duda Timur, Kecamatan Selat. Pendapatan dari penjualan salak dianggap tidak sesuai dengan  pengeluarannya, kerugian banyak.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved