Berita Bali

Baba Kenalkan Joged Bumbung Bali ke Thailand dengan Pakem, Ajak Masyarakat Hilangkan Stigma Negatif

Baba membawakan Joged Bumbung pada acara FDJ 3rd Regional Training of Partners di Thailand

Istimewa
Ingin Joged Bumbung dengan pakem-nya lebih dikenal secara Internasional, Ni Nyoman Praba Putri Mahadewi atau yang akrab disapa Baba bawa tarian tersebut ke Negeri Putih Gajah - Baba Kenalkan Joged Bumbung Bali ke Thailand dengan Pakem, Ajak Masyarakat Hilangkan Stigma Negatif 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ingin Joged Bumbung dengan pakem-nya lebih dikenal secara Internasional, Ni Nyoman Praba Putri Mahadewi atau yang akrab disapa Baba bawa tarian tersebut ke Negeri Putih Gajah.

Baba membawakan Joged Bumbung pada acara FDJ 3rd Regional Training of Partners (2022-2023) 1 Oktober 2023 lalu di Chiang Mai, Thailand.

Selain bisa mengajak para audien menari, alasan gadis berusia 17 tahun tersebut membawakan tari Joged Bumbung ke acara tersebut yakni ingin ungkapkan rasa kegembiraan melalui Joged Bumbung.

“Baba memilih tari joged bumbung karena tari itu merupakan salah satu tari tradisional Bali dan juga tari sosial dan solidarity, di mana Baba bisa mengajak para audience untuk menari bersama, mengungkapkan rasa kebersamaan dan kegembiraan,” ungkap, siswi SMAN 1 Kuta Utara ini.

Baca juga: 15.179 Wisatawan Kunjungi DTW Tanah Lot Bali, Joged Bumbung Jadi Daya Tarik Baru

Perasaannya saat memperkenalkan tari Joged Bumbung di Thailand tentunya sangat bangga dan senang.

Karena, selain diberi kesempatan untuk menari di depan jaringan Asia Pasifik dan sebagai paralegal LBH BALI WCC ternyata para audien sangat antusias menyambut Baba saat menari Joged Bumbung.

Sebelum menari, Baba juga memberikan sedikit pengenalan tentang tari Joged Bumbung.

Lalu Baba juga mengatakan bahwa nanti akan ada audience yang dapat menari bersama jika Baba mengalungkan selendang di lehernya.

“Mereka (audience) langsung pada heboh, dan pada saat diajak nari pun mereka kelihatan senang banget. Ada (yang ngibing), teman-teman Asia Pasifik 4 orang,” kata Baba yang gemar mengonsumsi nori ini.

Menurut perempuan kelahiran Kota Denpasar 7 Januari 2006 ini, menari Joged Bumbung sebetulnya tidak sulit.

Karena menurutnya, sebetulnya tarian ini penuh dengan improvisasi penari, jadi gerakannya bebas, tapi tetap dengan gerakan tari Bali yang sopan dan tidak berlebihan.

Baba mengatakan sudah gemar menari sejak masa taman kanak-kanak dan saat duduk dibangku 1 SMP, ia pernah ditunjuk untuk menari Joged Bumbung pada acara sekolahnya.

Untuk saat ini Baba sendiri melihat Joged Bumbung di acara-acara seperti acara pawiwahan (pernikahan) di Bali gerakan yang digunakan cukup vulgar seperti goyang ‘ngebor’ dan para pengibing yang seharusnya hanya boleh berinteraksi dengan penari itu menggunakan gerakan tari, malah justru dengan kontak fisik seperti merangkul, menyentuh bagian tubuh penari.

“Harapannya semoga nanti tari Joged Bumbung bisa lebih dikenal dan menjadi sebuah kesenian yang selalu dilestarikan oleh para generasi penerus, karena tari ini merupakan tarian sosial, tetapi sering dijuluki tarian yang kesannya remeh,” ujarnya.

Ia pun mengajak semua masyarakat agar menghilangkan stigma negatif pada Joged Bumbung, dengan melestarikan tarian Joged Bumbung yang gerakannya sesuai dengan pakem gerakan tari Bali.

Serta para pengibing juga diharapkan untuk melakukan interaksi dengan penari hanya menggunakan gerak tari.

Ia pun baru membawa tarian Joged Bumbung ke Thailand, selanjutnya ia berharap bisa membawakan tarian ini ke Negara lain.

“Baru bawa Joged Bumbung ke Chiang Mai saja, semoga nanti ke depannya agar dapat kesempatan nari di berbagai negara lainnya,” tutupnya. (*)

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved