Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Hadapi Kemarau, Petani Lakukan Disertifikasi Tanaman, Lebih Banyak Tanam Sayuran Daripada Padi

Hadapi kemarau panjang, petani tanam sayuran kacang, pokcay hingga bayam cabut yang umurnya 3 minggu

Istimewa
Ilustrasi petani - Hadapi Kemarau, Petani Lakukan Disertifikasi Tanaman, Lebih Banyak Tanam Sayuran Daripada Padi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Untuk menghindari gagal panen karena kemarau panjang, para petani lebih memilih menanam sayuran berusia 3 minggu.

Pengalihan komuditas ini dikatakan Gede Sedana selaku Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Bali sebagai disertifikasi tanaman.

“Selain padi ada sayur, jadi di beberapa daerah misalnya di Tabanan contohnya di Marga itu banyak mereka menanam sayuran dan itu tanaman berumur pendek yang dalam jangka waktu 1 bulan sudah bisa panen, sehingga bisa menghasilkan uang dan kebutuhan airnya tidak banyak,” kata Sedana pada Kamis 26 Oktober 2023.

Sayuran tersebut diantaranya kacang, pokcay, bayam cabut yang umurnya 3 minggu dan kangkung.

Baca juga: Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Bali Katakan Tak Ada Petani Gagal Panen Sejak Kemarau Panjang

Dengan menanam sayuran tersebut, setiap hari para petani dapat melakukan panen sebab telah menerapkan sistem disertifikasi tanaman yakni para petani tetap menanam padi tapi tidak di seluruh arealnya kemudian di beberapa area yang tidak ditanami padi ditanami tanaman yang bisa menghasilkan dalam jangka waktu cepat.

“Kalau dikenal di Bali dengan situasi air dan subak yang mengatur diterapkanlah program pemerintah yakni disertifikasi tanaman. Jadi berbagai jenis tanaman yang diusahakan sehingga keuntungannya kalau salah satu tanaman gagal masih ada tanaman lain yang memberikan kontribusi untuk pendapatan,” bebernya.

Kata Sedana, sebenarnya potensi gagal panen lebih sering terjadi di musim hujan.

Di mana awalnya akan terjadi kerusakan jaringan irigrasi.

Sehingga kerusakan jaringan irigrasi ini akan menyebabkan para petani mencurahkan tenaganya untuk memperbaiki saluran.

Yang kedua, pada saat sudah mulai menanam, intensitas sinar matahari lebih rendah karena mendung hujan. Tanaman padi itu kan membutuhkan sinar matahari. Sehingga penggunaannya termasuk produksinya tidak maksimal di musim hujan.

Selain itu, gagal panennya bisa terjadi jika menjelang panen itu ada hujan, apalagi disertai sedikit angin, dapat berakibat tanaman padi roboh.

Pada saat tanaman padi roboh, karena di dalam sudah ada bulir-bulir ujung tanaman padi akan terasa berat.

“Ilmu padi kan merunduk, kemudian ada hujan ada air semakin berat sehingga didorong sedikit angin dia menjadi roboh. Dimana gagal panennya? Gagal panennya adalah banyak buah padi yang rontok. Jadi ada kehilangan hasil di sana. Pada saat di sana hujannya semakin deras, semakin lebat di sana bisa menjadi gagal panen karena sawahnya terendam air,” tandasnya.

Terlebih jika misalnya pada saat musim hujan terjadi banjir, potensi gagal panen lebih tinggi.

Risikonya di musim hujan jauh lebih tinggi dibandingkan musim kemarau, karena kalau musim kemarau petani sudah bisa memperhitungkan.

“Di musim hujan ini jauh lebih besar kemungkinan gagal panennya karena kalau hujan apalagi cuaca yang tidak bisa diprediksi ini bisa kalau pengalaman di Bali ini bisa mencapai 10-15 persen mengalami gagal panen,” tutupnya.

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved