Sponsored Content

Mengenali Penyakit Rabies, Ini Penjelasan Grantika Nugraha

Apa si itu Rabies? Rabies adalah penyakit infeksi virus akut yang menyerang sistem saraf pusat manusia dan mamalia.

|
Editor: Fenty Lilian Ariani
Tribun Bali/dwi suputra
Ilustrasi rabies 

TRIBUN-BALI.COM - Apa si itu Rabies? Rabies adalah penyakit infeksi virus akut yang menyerang sistem
saraf pusat manusia dan mamalia. Rabies juga disebut penyakit anjing gila yaitu penyakit
hewan menular yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus (dari bahasa Yunani Lyssa
yang berarti mengamuk atau kemarahan). Menurut World Health Organization (WHO)
terdapat sekitar 55.000 orang per tahun mati karena Rabies, 95 persen dari jumlah itu berasal dari
Asia dan Afrika. Di Indonesia rata-rata 131 kasus/tahun, Adapun berbagai macam hewan
yang dapat menularkan rabies ke manusia yaitu kucing, anjing, kera, kelelawar, dan musang

Sumber gambar : https://ayosehat.kemkes.go.id/mengenal-penyakit-rabies
Secara umum Virus masuk melalui kulit yang terluka atau melalui mukosa utuh
seperti mata, mulut, anus, genitalia eksterna. Infeksi melalui inhalasi virus sangat jarang
ditemukan. Setelah virus rabies masuk melalui luka gigitan, maka selama 2 minggu virus
tetap tinggal pada tempat masuk dakat, kemudian bergerak mencapai ujung-ujung serabut
saraf tanpa menunjukkan perubahan-perubahan fungsinya. Masa inkubasi virus rabies sangat
bervariasi, mulai dari 7 hari sampai lebih dari 1 tahun, rata-rata 1-2 bulan, tergantung jumlah
virus yang masuk, berat dan luasnya kerusakan jaringan tempat gigitan, jauh dekatnya lokasi
gigitan ke sistem saraf pusat, persarafan daerah luka gigitan dan sistem kekebalan tubuh
hinga sesampainya di otak virus kemudian memperbanyak diri dan menyebar luas, terutama
predileksi terhadap sel-sel di otak. Setelah memperbanyak diri dalam saraf sentral, virus
kemudian ke arah perifer dan saraf otonom menghasilkan gejaa klinis. Dengan demikian
virus menyerang hampir tiap organ dan jaringan didalam tubuh, dan berkembang biak dalam
jaringan, seperti kelenjar ludah, ginjal, dan sebagainya. Tanpa perawatan setelah presentasi
gejala klinis, infeksi virus bisa berakibat fatal dalam 2 minggu dan menyebabkan kematian.

Pada tahap awal gejala yang timbulkan pada manusia adalah demam, lemas, lesu,
tidak nafsu makan/ anorexia, insomnia, sakit kepala hebat, sakit tenggorokan dan sering
ditemukan nyeri. Kemudian timbul rasa kesemutan, cemas, penderita tampak bingung,
gelisah, mengalami halusinasi, tampak ketakutan disertai perubahan perilaku menjadi agresif,
serta adanya bermacam-macam fobia yaitu hidrofobia (takut air), aerofobia (takut udara),
fotofobia (takut Cahaya). Gejala lainnya yaitu kaku pada otot, produksi air mata dan air liur
yang berlebih. Setelah beberapa hari pasien meninggal karena henti jantung dan pernafasan.

Pencegahan penularan rabies pada manusia dapat dilakukan dengan cara:

Pencucian luka dengan menggunakan sabun dibawah air mengalir selama kurang lebih 15
menit,

Setelah dilakukan pencucian luka sebaiknya diberikan antiseptic (alkohol 70 persen, dan zat
antiseptic),

dan segara datang ke fasilitas pelayanan Kesehatan agar memperoleh Vaksin Anti
Rabies (VAR)

Serum Anti Rabies (SAR) untuk membangkitkan sistem imunitas dalam tubuh terhadap virus rabies dan diharapkan antibodi yang terbentuk akan menetralisasi virus rabies.

Namun Pemberian vaksin anti rabies dan serum anti rabies perlu dipertimbangkan kondisi hewan pada saat pajanan terjadi, hasil observasi hewan, hasil pemeriksaan laboratorium spesimen otak hewan, serta kondisi luka yang ditimbulkan Mengingat dampak rabies terhadap kesehatan masyarakat cukup besar terutama dari segi terhadap perekonomian khususnya bagi daerah-daerah pariwisata di Indonesia yang tertular rabies, maka upaya pengendalian penyakit perlu dilaksanakan seintensif mungkin untuk mewujudkan Indonesia Bebas Rabies.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved