DBD Di Bali

Kasus DBD Berpotensi Naik di Musim Hujan

Wilayah Kabupaten Bangli saat ini telah memasuki musim penghujan. Kondisi ini tentu berpotensi menimbulkan penyakit.

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Fenty Lilian Ariani
Pixabay
Ilustrasi nyamuk - Kasus DBD Berpotensi Naik di Musim Hujan 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Wilayah Kabupaten Bangli saat ini telah memasuki musim penghujan. Kondisi ini tentu berpotensi menimbulkan penyakit.

Salah satunya Demam Berdarah Dengue (DBD), yang dinilai sangat mungkin terjadi lonjakan kasus. 

Hal tersebut diungkapkan Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bangli, I Nyoman Sudarma, Kamis, 30 November 2023.

Kata dia, genangan air akibat hujan sangat berpotensi menjadi sarang ataupun tempat berkembangbiak nyamuk. 

"Medianya bisa berupa genagnan air di botol plastik yang dibuang secara sembarang, hingga air bak mandi yang tidak pernah dikuras. Apabila hal ini diabaikan, tidak menutup kemungkinan bisa terjadi lonjakan kasus DBD. Karenanya sedini mungkin kami mengimbau agar masyarakat rutin memelihara kebersihan lingkungan," ujarnya 

Berdasarkan data, tercatat hingga bulan Oktober 2023, jumlah kasus DBD di Bangli tercatat sebanyak 233 kasus.

Sudarma mengatakan, setiap ada laporan kasus pihaknya turun ke lokasi melakukan langkah antisipasi penyebaran lewat fogging. 

"Pelaksanaan fogging dilakukan secara selektif jika ada kasus baru. Selain itu kami juga menyebarkan bubuk abate ke masyarakat," ucapnya.

Menurut Sudarma, solusi terbaik pencegahan DBD adalah dengan memutus mata rantai perkembangan nyamuk.

Baca juga: Penerapan Pembayaran Parkir Non Tunai Manless di Bandara Ngurah Rai Besok Ditunda

Upaya ini dapat dilakukan lewat gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). 

"Misalnya melalui kegiatan 3 M, yakni menguras/membersihkan tempat yang sering dijadikan tempat penampungan air seperti bak mandi, ember, mengubur atau mendaur ulang barang yang memilki potensi untuk dijadikan tempat berkembang biaknya nyamuk aides aegepty," paparnya. 

Disinggung mengenai anggaran fogging tahun 2024, Sudarma mengaku besaran anggarannya sama dengan tahun 2023, yakni Rp 200 juta.

"Anggaran tersebut cukup hingga setahun. Mengingat fogging dilaksanakan secara selektif. Namun apabila terjadi kekurangan, tentunya akan ditambah," tandasnya.(*)

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved