Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Tabanan

Registrasi Kebun, Salak Madu Munduk Temu Siap Ekspor

Desa Munduk Temu, menjadi penghasil salak madu kualitas ekspor. Khususnya salak yang diproduksi di Banjar Dinas Anggasari.

Tayang:
Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana | Editor: Fenty Lilian Ariani
Istimewa
Salak Madu Munduk Temu. 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Desa Munduk Temu, menjadi penghasil salak madu kualitas ekspor. Khususnya salak yang diproduksi di Banjar Dinas Anggasari.

Kali ini, buah yang dihasilkan dari lahan seluas 14,5 hektare itu akan bersiap untuk diekspor.

Kepala Dinas Pertanian Tabanan I Made Subagia mengatakan, bahwa saat ini untuk salak madu yang dihasilkan dari Munduk Temu sedang bersiap untuk ekspor.

Persiapan ini, adalah menyangkut registrasi kebun. Yang tujuannya, adalah menjamin kualitas buah.

“Ya sedang persiapan untuk eskpor. Salah satunya ialah registrasi kebun. Karena menjadi  syarat utama untuk ekspor,” ucapnya, Jumat 9 Februari 2024.

Subagia menjelaskan, bahwa registrasi itu menyangkut keseluruhan kebun.

Dimana registrasi ini adalah menjamin, untuk meyakinkan konsumen bahwa salak madu munduk temu adalah hasil budidaya.

Kemudian, bebas dari hama, dan memudahkan tracking jika ditemukan masalah dikemudian hari. 

"Registrasi kebun itu, pada prosesnya adalah kebun salak madu milik petani didata dan difoto. Kemudian seluruh berkas itu dimasukkan web. Ini untuk memudahkan pengekspor yang ingin melihat kebun, petani, hingga buah salak dan bagaimana pengelolaannya bisa langsung melihatnya ke web,” paparnya.

Baca juga: Personel Polres Kawasan Bandara Ngurah Rai Disiagakan Untuk Antisipasi Kemacetan


Ia menegaskan, menjadi penting dalam registrasi kebun karena itu nantinya adalah jaminan ketika ada persoalan.

Misalnya saja, ada kandungan zat yang tidak diperkenankan, hama, maka buah bisa ditracking lewat nomer registrasi kebun.

Dan saat ini, permintaan salak madu itu sudah diminati oleh negara Vietnam.

“Syarat utama untuk didaftarkan registrasi kebun adalah petani harus sudah paham budidaya tanaman salak mulai dari pemeliharaan, panen hingga pasca panen. 

Ya selain itu, juga harus paham proses pemeliharan, penekanan apda budidaya ramah lingkungan dan sudah menerapkan pemakaian pupuk organik. Hingga soal packing dan mengatasi hama,” bebernya.

Di bagian terpisah, Ketua kelompok tani Raja Buah Bali, I Kadek Ogi Darmawan, sejak tahun 2017 pihaknya telah menerapkan sistem pertanian organik.

Pupuk itu digunakan dari kotoran kambing sapi dan difermentasi dengan enzim selama 30 hari. Sehingga pihaknya siap dalam registrasi kebun ini.

“Pemeliharaan sistem organik itu buah yang dihasilkan lebih manis. Kami sudah siap ikuti proses ini, apalagi potensi eskpor tinggi karena ketika panen raya dari luas 14,5 hektare bisa hasilkan 20,9 ton salak," pungkasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved