Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sponsored Content

Bupati Sedana Arta Pimpin Penanganan Ikan Red Devil di Danau Batur

Populasi ikan red devil di perairan Danau Batur, Kecamatan Kintamani menjadi ancaman bagi pembudidaya ikan di sekitar.

Penulis: Muhammad Fredey Mercury | Editor: Fenty Lilian Ariani
Istimewa
Populasi ikan red devil di perairan Danau Batur, Kecamatan Kintamani menjadi ancaman bagi pembudidaya ikan di sekitar. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Populasi ikan red devil di perairan Danau Batur, Kecamatan Kintamani menjadi ancaman bagi pembudidaya ikan di sekitar. Sebab ikan jenis ini merupakan ikan predator yang berkembang cukup pesat. 

Menyadari hal tersebut, pemerintah Kabupaten Bangli melalui Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (PKP) Bangli gerak cepat, dengan melakukan pengendalian red devil di Danau Batur. Salah satunya melalui gebyar penanganan ikan invasif red devil pada Jumat (5/4/2024).

Kegiatan yang dipusatkan di Dermaga Kedisan ini, dipimpin langsung oleh Bupati Bangli, Sang Nyoman Sedana Arta. Pada kesempatan itu, Sedana Arta mengungkapkan ikan Red Devil sifatnya teritorialis dan invasif, serta perkembangannya cukup pesat di Danau Batur

"Kondisi ini sangat dikhawatirkan oleh pembudidaya ikan di danau Batur. Sebab ikan ini pemangsa serangga, cacing, ikan kecil, termasuk telur ikan. Bahkan tak jarang ikan Red devil juga memakan pakan ikan ketika pembudidaya memberi makan ikan peliharaannya. Jika populasinya tidak terkendali, tentu akan merugikan petani," jelasnya. 

Sementara itu, Kepala Dinas PKP Bangli, I Wayan Sarma mengungkapkan, merebaknya populasi ikan red devil berdampak pada 2 hal. Diantaranya mengancam keberadaan keanekaragaman hayati atau biodiversity, yang sesungguhnya merupakan bagian penting dari Geopark. Sebab ikan-ikan endemis danau Batur terancam punah, akibat keberadaan ikan ini. "Kedua, keberadaan ikan ini menimbulkan dampak ekonomis, karena mengakibatkan turunnya pendapatan para nelayan," ungkapnya.

Terhadap kondisi ini, Sarma mengaku pihaknya dia setidaknya telah melakukan dua upaya. Yakni menawarkan hasil tangkapan ikan Red Devil ini kepada pengelola taman safari, yang kiranya bisa menjadi pakan hewan di sana. "Namun ternyata tidak memenuhi syarat," ucapnya.

Kemudian upaya lainnya yakni melalui  pemanfaatan ikan Red Devil untuk menjadi kuliner berupa olahan krispi. Diakui saat ini sudah ada dua kelompok binaan yang mampu mengolah ikan red devil. "Akan tetapi serapan bahan baku mereka belum maksimal," ujarnya.

Sarma menambahkan, pihaknya telah merancang empat kegiatan ke depan. Pertama yakni gebyar penanganan ikan invasif red devil, sebagai bentuk sosialisasi dan edukasi bahwa Red Evil adalah ikan infasif yang menjadi musuh bersama.

Selain itu penangkapan Red Devil oleh masyarakat pesisir, yang hasil tangkapan  akan ditawarkan kepada pengusaha pabrik pakan ternak yang ada di Pengambengan Jembrana. Sehingga bisa diolah menjadi tepung ikan. 

"Upaya ketiga yakni peningkatan SDM para Bendega dan para pengolah, untuk bisa meningkatkan volume usahanya. Dan terakhir adalah restoking atau pelepasan benih ikan endemis Danau Batur," sebutnya. 

Kegiatan tersebut dirangkaikan pula dengan Gertak Eco-Enzym Bangli Bisa Periode II Tahap Pertama. Kegiatan ini sebagai salah satu upaya mengatasi masalah pencemaran di Danau Batur.

"Terhadap masalah pencemaran, Pemerintah Kabupaten Bangli dalam hal ini Bapak Bupati dan para pemerhati lingkungan telah secara konsisten dan terus menerus menuangkan Eco-Enzim. Yang mana pada saat ini telah memasuki Periode II Tahap Pertama. Hasilnya secara kasat mata sudah bisa kita lihat kita buktikan bahwa air danau nampak lebih jernih," tandasnya.(*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved