Populer Bali

Viral Bali: Shuttle Bus Gratis Bagi Pemedek Tangkil di Pura Besakih dan Rencana Palebon Cok Sawitri

Sorotan berita Viral Bali pertama terkait kabar baik bagi pemedek yang tangkil atau sembahyang ke Pura Besakih Bali kini siap dilayani shuttle bus

Penulis: Saiful Rohim | Editor: Ady Sucipto
Tribun Bali/Putu Supartika
Walikota Denpasar Ngaturang Bhakti Penganyar di Pura Agung Besakih, Ribuan Umat Tangkil 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA- Berikut kompilasi berita Viral Bali sepanjang Jumat, 5 April hingga Sabtu, 6 April 2024 yang dihimpun redaksi Tribun Bali.

Sorotan berita Viral Bali pertama terkait kabar baik bagi pemedek yang tangkil atau sembahyang ke Pura Besakih Bali kini siap dilayani shuttle bus gratis.

Kemudian berita Viral Bali selanjutnya terkait prosesi mengkisan ring gni, hingga rencana palebon Cok Sawitri yang telah berpulang pada Kamis (4/4).

Baca juga: Kabar Baik Bagi Pemedek yang Sembahyang di Pura Besakih Bali, Kini Dilayani Shuttle Bus Gratis

Berikut ulasan berita Viral Bali selengkapnya:

Badan Pengelola Kawasan Pura Besakih, Rendang, Karangasem, Bali menggratiskan layanan shuttle bus listrik bagi pemedek yang sembahyang ke Pura Agung Besakih selama Upacara Ida Bhatara Turun Kabeh.

Tujuannya agar pemedek yang tangkil merasa nyaman.

Kepala Badan Pengelola Fasilitas Kawasan Pura Agung Besakih, I Gusti Lanang Muliarta membenarkan, layanan shuttle bus dari area Parkir Kedundung ke Manik Mas gratis sejak awal karya.

Sedangkan pelayanan shuttle bus dari Parkir Manik Mas ke Padma Buana Besakih digratiskan dari Kamis (4/4).

"Sebelumnya kita hanya gratiskan untuk pemedek yang Lansia, ibu hamil, disabilitas, dan anak kecil. Sedangkan pemedek lain dikenakan Rp 20 ribu per orang. Setelah berjalan, kita putuskan untuk menggratiskan ke semua pemedek yang tangkil ke Pura Agung Suci Besakih," ungkap I Gusti Lanang Muliarta, Jumat (5/4/).

Layanan shuttle bus gratis tetap diprioritaskan ke Lansia, ibu hamil, disabilitas, dan anak kecil.

Seandainya ada pemedek yang sehat ingin memanfaatkan dipersilakan, dengan catatan harus antre.

Pemedek yang akan turun dari Padma Buana ke Parkir Manik Mas juga dipersilakan memakai shuttle bus gratis.

Gusti Lanang Muliarta mengatakan, layanan shuttle bus gratis diberikan untuk memberikan pelayanan yang maksimal terhadap pemedek.

Sehingga nyaman serta tenang saat sembahyang.

Jalan dari Parkiran Manik Mas ke Padma Buana lumayan jauh serta menanjak. Khawatir pemedek kelelahan jika berjalan kaki.

"Ini untuk kenyamanan pemedek yang sembahyang selama Karya Ida Batara Turun Kabeh.

 Apalagi pemedek yang bersembahyang ke Besakih cukup padat tiap harinya. Cuma kita minta pemedek agar sabar antre. Jumlah armada terbatas, serta tidak bisa dipakai terus menerus dikarenakan pakai daya," ujarnya.

Baca juga: Niluh Djelantik: Perempuan Bali Berhak Mendapatkan Ruang Yang Sama di Ruang Publik

Jumlah shuttle bus yang ada sebanyak 10 unit. Tapi semua armada tak bisa beroperasi bersamaan.

Mengingat shuttle bus memakai tenaga listrik. Seandainya dayanya habis, otomatis butuh pengisian daya.

Setelah daya terisi, shuttle bus kembali bisa dipakai untuk melayani pemedek sembahyang ke Pura Besakih.

Untuk diketahui, rangkaian Karya Ida Bhatara Turun Kabeh di Pura Agung Besakih dimulai dari 29 Februari 2024, tepatnya di Wrehaspati Umanis Dungulan.

Dimulai karya Ngaturang Pemiyut, Negtegang, Ngunggahang Sanuri, Pengrajeg dan Pengemit Karya digelar di Pura Besakih.

Beberapa hari setelah negtegang, tepatnya 7 Maret 2024, digelar piuning mider. Penyangranya yakni panitia karya di Pura Besakih.

Sedangkan tanggal 9 Maret digelar Mepepade lan Bhumi Suda serta dilaksanakan Memben.

Sedangkan tanggal 10 Maret 2024 Tawur Tabuh Gentuh. Penyanggra kegiatan panitia.

Sedangkan untuk penganyar digelar selama 21 hari, dari 25 Maret hingga 14 April 2024.

Sedangkan penyineban tanggal 14 April 2024. Prosesi nedunan Ida Bhatara dilakukan 21 Maret 2024.

Sehari setelah itu dilaksanakan prosesi melasti ke tegal suci oleh panitia.

Mekingsan Ring Gni Cok Sawitri di Bangli, Prosesi Palebon Masih Dibicarakan, Mungkin Agustus

Baca juga: Duka Iringi Kepergian Cok Sawitri, Konsisten Lestarikan Kebudayaan Bali Sejak Kecil

Rencana palebon Cok Sawitri

Tjokorda Sawitri atau yang dikenal dengan Cok Sawitri (55) mengembuskan napas terakhir, Kamis (4/4).

Jenazah budayawan, sastrawan dan pemain teater Bali itu selanjutnya dilakukan proses mekingsan ring gni di Krematorium Bebalang, Bangli, Jumat, 5 April 2024.

Keluarga dan kerabat hadir untuk memberi penghormatan terakhir.

Penglingsir Puri Pemayun Sidemen Karangasem, Tjokorda Sutedja Pemayun menjelaskan, alasan prosesi mekingsan ring gni di Krematorium Bebalang, karena di Setra Sidemen sedang dilaksanakan upacara palebon.

"Antara upacara palebon dan mekingsan tidak bisa dilaksanakan bersamaan. Sehingga kami mengalah, dan melaksanakan prosesi mekingsan ring gni di sini," jelasnya.

Sementara upacara palebon, lanjut Tjok Sutedja, masih akan dirembuk terlebih dahulu.

Pihak keluarga juga masih menunggu kedatangan kakak Cok Sawitri dari Jerman.

"Mungkin (upacara palebon) sekitar bulan Agustus," imbuhnya.

Tjok Sutedja mengaku sangat kehilangan atas berpulangnya Cok Sawitri.

Sosoknya dikenal sangat positif, sebab selalu mendukung apapun keputusan keluarga.

"Almarhum juga merupakan sosok yang sangat rendah hati, walaupun di luar namanya sangat dikenal masyarakat," ucapnya.

Dikatakan pula, pada Purnama kemarin pihak keluarga mendapati Cok Sawitri berada di rumah sekitar lima hari.Diakui hal ini jarang terjadi.

Sedangkan sebelum menghembuskan napas terakhir Cok Sawitri tidak pernah menunjukkan gejala sakit ataupun diketahui memiliki riwayat sakit.

"Riwayat sakit tidak ada. Mungkin karena capek dan keluar darah dari livernya, serta lambat pertolongan. Belum sempat dibawa ke rumah sakit, beliau ditemukan sudah meninggal dunia," ucapnya.

Tjok Sutedja yang juga kakak misan Cok Sawitri melihat banyak sahabat yang sangat men-support Cok Sawitri.

Ia pun berharap pada sahabat-sahabat Cok Sawitri agar bisa melanjutkan cita-citanya, terutama di bidang seni dan budaya.

"Almarhum basic-nya drama dan pemain teater. Namun juga bergerak di bidang lainnya, seperti menjadi penulis hingga tutor yang luar biasa," tandasnya.

Suasana duka terlihat di rumah Cok Sawitri di Puri Sidemen, Desa Sidemen, Kecamatan Sidemen, Karangasem, Jumat (5/4) siang.

Karangan bunga berbelasungkawa atas wafatnya Cok Sawitri, berjejer sekitar area parkir Puri Sidemen.

Ratusan krama yang mengenakan pakaian adat datang silih berganti ke Puri Sidemen.

Mereka datang untuk mengucapkan belasungkawa, mengirimkan doa agar mendiang mendapat tempat terbaik, serta menghadiri upacara mesiram dan narpana sebelum dikremasi di Banjar Bebalang, Bangli.

Tjok Suteja mengungkapkan, kepergian Cok Sawitri menyisakan kesedihan mendalam.

Keluarga, saudara, rekan, teman, dan masyarakat sekitar mengaku kehilangan sosok wanita tangguh, optimistis, dan berani.

Tjok Sutedja mengatakan, pukul 09.00 Wita digelar mesiram. Dilanjutkan upacara narpana pukul 11.00 Wita.

Narpana dipuput langsung oleh Ida Pedanda Istri Agung.

Menurutnya, ngaben masih menunggu rembuk keluarga karena kakak kandung Cok Sawitri yakni Cokorda Widnyana tinggal di Jerman, dan adiknya Cokorda Rupini bekerja di Makassar.

Cok Sawitri adalah sosok pekerja keras, humoris, serta konsisten melestarikan dan menjaga  kebudayaan Bali dari pengaruh luar yang ingin mengikisnya.

Tjok Sutedja menceritakan, sosok wanita yang dikaguminya, Cok Sawitri adalah anak ke-2 pasangan Cokorda Gede Raja serta Jero Wisma.

Di masa kecilnya, Cok Sawitri tinggal di Kota Amlapura karena orangtuanya mendapatkan tugas di sana.

Dari kecil Cok Sawitri hobi kesenian, seperti menari, menabuh, menulis, dan lainnya.

"Setelah dewasa beliau memutuskan ke Denpasar. Meneruskan cita-citanya jadi seorang sastrawan, seniman," kata Tjok Sutedja.

Selama di Denpasar, Cok Sawitri tetap berkomunikasi dengan keluarga dan berkunjung di Puri Sidemen.

Tiap bulan dan saat ada acara Cok Sawitri menyempatkan diri bercanda dengan saudara di Puri Sidemen.

"Beliau terakhir ke Puri Sidemen saat piodalan, Minggu (24/3). Tumben beliau nginap 5 hari. Biasanya nginap hanya 2 hari," katanya.

Ditambahkan, banyak candaan dan guyonan yang diceritakan saat menginap di Puri Sidemen 5 hari.

Tidak ada firasat. Komunikasi berjalan seperti biasanya. Beliau ngobrol seperti sebelumnya.

Canda, bercerita terkait kebudayaan, hingga hal-hal yang perlu diceritakan. Wajahnya terlihat biasa saat kembali ke Kota Denpasar.

"Beliau hanya bilang ada kerjaan. Dalam waktu dekat akan pentas di Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem. Saya kaget setelah mendengar beliau meninggal dunia. Keluarga merasa terpukul. Beliau sosok humoris, pekerja keras, berani," imbuhnya.

Sebelum meninggal, beliau sempat mengeluhkan sakit lantaran bagian livernya bermasalah dan menderita bronkitis karena kuat merokok.

"Namun beliau itu tetap ceria di depan keluarganya. Semua penyakitnya disamarkan. Semoga mendapatkan tempat terbaik," doa Tjok Suteja. (tribun bali/ful/mer/)

>>> Baca berita terkait <<<

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved