Kalender Bali

Besok Rerahinan Tumpek Uduh/Tumpek Pengarah atau Tumpek Wariga, Ini Mantra saat Menghaturkan Banten

Besok, 31 Agustus 2024 bertepatan dengan rerahinan atau hari raya Tumpek Bubuh/Uduh/Pengatag/Tumpek Wariga.

Editor: Putu Kartika Viktriani
istimewa
Ilustrasi - Besok, 31 Agustus 2024 bertepatan dengan rerahinan atau hari raya Tumpek Bubuh/Uduh/Pengatag/Tumpek Wariga. 

TRIBUN-BALI.COM - Besok, 31 Agustus 2024 bertepatan dengan rerahinan atau hari raya Tumpek Bubuh/Uduh/Pengatag/Tumpek Wariga.

Hari raya ini juga menandai 25 hari sebelum Hari Raya Galungan, atau dikenal sebagai "selae dina" di Bali, umat Hindu merayakan Tumpek Wariga.

Tumpek Wariga juga dikenal dengan berbagai sebutan, seperti Tumpek Uduh, Tumpek Bubuh, Tumpek Panuduh, Tumpek Pengarah, atau Tumpek Pengatag.

Perayaan ini dirayakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada Saniscara Kliwon Wuku Wariga.

Tumpek Wariga merupakan hari suci untuk memuja Dewa Sangkara, dewa penguasa kesuburan semua pepohonan dan tumbuhan.

Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada Wuku Wariga, Sabtu Kliwon, yang disebut Tumpek Panguduh, merupakan hari suci pemujaan Sang Hyang Sangkara, karena beliau adalah dewa penguasa kesuburan.

 

 Dalam lontar Sundarigama disebutkan sebagai berikut.

Wariga, saniscara kliwon, ngaran tumpek panuduh, puja kreti ring sang hyang sangkara, apan sira amredyaken sarwa tumuwuh, kayu-kayu kunang.

Baca juga: Besok Tumpek Landep dalam Kalender Bali, Siapkan Banten Berikut Untuk Dihaturkan saat Rerahinan Ini

Ini artinya pada wuku Wariga, Sabtu Kliwon disebut Tumpek Panguduh, merupakan hari suci pemujaan Sang Hyang Sangkara, karena beliau adalah dewa penguasa kesuburan semua tumbuhan dan pepohonan.

Lebih lanjut untuk sesajennya disebutkan sebagai berikut.

Widhi widananya, pras, tulung sasayut, tumpeng, bubur, mwah tumpeng agung 1, iwak guling bawi, itik wenang, saha raka, panyeneng, tatebus, kalinganya, anguduh ikang sarwa ning taru asekar, awoh, agodong, dadi amreta ning urip. Rikang wwang, sasayut nyakra gni 1, maka pangadang ati, anuwuhaken ajnana sandhi.

Artinya:

Adapun sesajen yang dihaturkan berupa peras, tulung sasayut, tumpeng, bubur, tumpeng agung 1, babi guling atau boleh juga guling itik, disertai jajan, panyeneng, tatebus.

Hal ini bermakna untuk memohon keselamatan tanaman agar dapat berbunga, berbuah, dan sesajen berupa sesayut cakragni 1 sebagai simbol penguatan hati dan pikiran untuk menumbuhkan kekuatan batin.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved