bisnis
Kenaikan Harga Kopi Dunia Sumbang Inflasi
Komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,09 persen dan berikan andil inflasi terbesar yakni 1,34 persen.
TRIBUN-BALI.COM - Pelaksana tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, inflasi bulan September 2024 disumbang kenaikan harga kopi dunia.
Kontribusi kopi bubuk terhadap laju inflasi secara bulanan (month to month/mtm) memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen dan secara tahunan memberikan andil inflasi sebesar 0,09 persen.
"Bertepatan dengan hari kopi internasional (1 Oktober 2024), kami juga mengutip dari International Coffee Organization bahwa telah terjadi tren kenaikan harga kopi dunia hingga September 2024," ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (1/10/2024).
Baca juga: CAIR! Jelang Hari Raya Kuningan Bonus Atlet dan Pelatih Buleleng Keluar, Total Mencapai Rp 347 Juta
Baca juga: Dana Adat Prioritas Parta, Sudirta Soroti Bule Nakal,9 DPR RI & 4 DPD Dapil Bali Dilantik di Jakarta

Ia mengatakan, kenaikan harga kopi bubuk pada bulan ini karena disebabkan sejumlah faktor, salah satunya naiknya harga kopi global. "Ada banyak faktor yang memengaruhi perkembangan harga kopi global, mulai dari sisi produksi ataupun permintaan global. Dan sama mungkin perspektif atau persepsi dari masyarakat global," jelasnya.
Komoditas yang memberikan andil inflasi pada September 2024 di antaranya ikan segar dan kopi bubuk dengan andil inflasi masing-masing sebesar 0,02 persen. Kemudian ada juga biaya kuliah, akademi atau perguruan tinggi, tarif angkutan udara dan juga sigaret kretek mesin (SKM).
Komponen ini memberikan andil inflasi masing-masing sebesar 0,01 persen. "Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah kopi bubuk dan biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi," ucapnya.
Selain kopi, secara tahunan inflasi terjadi pada seluruh komponen. Komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,09 persen dan berikan andil inflasi terbesar yakni 1,34 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi di antaranya adalah emas perhiasan, kopi bubuk, gula pasir, nasi dengan lauk, dan minyak goreng.
Kemudian komponen harga diatur pemerintah mengalami inflasi tahunan sebesar 1,40 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi sebesar 0,27 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah sigaret kretek mesin, sigaret kretek tangan, sigaret putih mesin, dan juga tarif angkutan udara.
Sedangkan untuk komponen harga bergejolak, mengalami inflasi sebesar 1,43 persen, di mana andil inflasinya sebesar 0,23 persen. Komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah beras, cabai rawit, dan bawang putih.
Selanjutnya, sebaran inflasi tahunan berdasarkan wilayah, di mana secara tahunan seluruh provinsi mengalami inflasi. "Inflasi tertinggi terjadi di Papua Pegunungan sebesar 4,14 persen, sementara itu inflasi terendah terjadi di Kepulauan Bangka Belitung sebesar 0,49 persen," tuturnya. (kompas.com)
BRI Finance Genjot Transformasi Bisnis |
![]() |
---|
OKUPANSI Mal di Kisaran 75Persen, Bisnis Pusat Perbelanjaan Moderat, Dampak Masuknya Investasi Asing |
![]() |
---|
PUTUS Rantai Kemiskinan, BPJS Ketenagakerjaan Banuspa dan Pemrov Papua Selatan Teken MoU Jamsostek! |
![]() |
---|
HARGA Beras Tembus Rp15.500 Per Kg, Zulhas Sebut Terus Alami Kenaikan |
![]() |
---|
Pengembangan AI di 9 Kota Termasuk Bali, Begini Cara Telkom Melakukannya |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.