Pandemi HMPV

Waspadai Virus HMPV, Bandara Ngurah Rai Bali Pasang Thermal Scanner, KKP Pantau Penumpang dari China

Virus HMPV baru-baru ini merebak di China dan dilaporkan telah ditemukan di Indonesia. 

TRIBUN BALI/ZAENAL NUR ARIFIN
THERMAL SCANNER – Sejumlah penumpang melintas di area thermal scanner di terminal kedatangan internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Selasa 7 Januari 2025 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Angkasa Pura Indonesia selaku pengelola Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali kembali memasang alat thermal scanner atau alat pengecekan suhu tubuh. 

Pemasangan thermal scanner ini sebagai langkah antisipasi dan pencegahan masuknya virus Human Metapneumovirus (HMPV) ke Provinsi Bali. 

Dari pantauan Tribun Bali, Selasa 7 Januari 2025, pada sekira pukul 09.30 WITA, di terminal kedatangan internasional, 2 unit thermal scanner milik BBKK Denpasar telah terpasang. 

Namun tak terlihat petugas dari BBKK Denpasar yang bertugas untuk monitor thermal scanner tersebut. 

Baca juga: HEBOH Kasus Penyakit Endemik Baru di China, Kemenkes Minta Publik Waspada Penyebaran Virus HMPV

Virus HMPV baru-baru ini merebak di China dan dilaporkan telah ditemukan di Indonesia. 

“Kami selaku pengelola dari Bandara I Gustu Ngurah sudah menyiapkan 3 thermal scanner yaitu 2 di kedatangan internasional dan 1 di kedatangan domestik,” ujar Communication and Legal Division Head Bandara I Gusti Ngurah Rai, Gede Eka Sandi Asmadi saat ditemui usai menghadiri penutupan Posko Terpadu Nataru 2024/2025 pada Selasa 7 Januari 2025.

Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Denpasar. 

Ditegaskan, jika ada suspect akan dicek lebih lanjut baru dirujuk ke rumah sakit. 

“Kami imbau jangan panik dan tetap jaga Kesehatan,” kata dia.

Eka Sandi mengatakan, peningkatan kewaspadaan tentu dilakukan dari pihak bandara, tetapi pihaknya menunggu Surat Edaran (SE) dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terkait meningkatkan kewaspadaan virus HMPV

“Imbauan sudah ada terkait virus ini tentu leading sektornya di Karantina Kesehatan tetapi menunggu surat edaran itu. Sejauh ini belum ada (SE Kemenkes), tetapi imbauan sudah,” ungkap Eka Sandi.

Pihaknya juga menyampaikan belum ada pembatalan penerbangan dari China dan Malaysia. 

“Dari China belum ada cancel penerbangan. Secara khusus kami tetap mengantisipasi dari segala penyakit. Pengawasan khusus penumpang dari China ke Bali masih menunggu edaran dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Perhubungan. Kami sebagai operator menjalankan,” papar Eka Sandi.

Sementara itu, Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas I Denpasar, Anak Agung Ngurah Kesumajaya menjelaskan, pihaknya telah mengambil langkah antisipasi untuk mencegah masuknya virus HMPV ke Bali. 

“Yang pertama ini informasinya sudah kita monitor terus. Di China sudah merebak, di Malaysia mungkin sudah ratusan juga terdeteksi. Yang kita lakukan, memang secara resmi arahan dari Kemenkes belum ada, tetapi kita sudah beberapa langkah di Bali,” ujarnya, Selasa 7 Januari 2025. 

Kesumajaya menjelaskan, salah satu upaya antisipasi yang dilakukan adalah melalui pengisian Health Alert Card (SSHP). Menurutnya, data kesehatan penumpang bisa dipantau dari kartu tersebut. 

“Memang perlu kita antisipasi, terkait kita sekarang punya yang namanya pengisian SSHP, yaitu kartu sehat. Gejala penyakitnya itu hampir mirip sama, seperti gejala panas influenza. Kita koordinasi dengan maskapai untuk memastikan penumpangnya mengisi itu. Kalau dia ada kondisi kurang bagus, itu bisa kita cek lebih dalam,” imbuhnya.

Kesumajaya mengungkapkan, pengisian SSHP bisa dilakukan sejak dua hari sebelum keberangkatan hingga saat kedatangan di Bandara Ngurah Rai. 

Pihaknya juga memastikan di pintu masuk kedatangan internasional telah dipasang barcode untuk memudahkan penumpang mengisi data kesehatan.

“Kita juga masih pasang thermo scanner. Kalau suhu tubuhnya tinggi, jelas harus dicek ulang. Kalau di atas 38 derajat, kita ambil swab. Kita ada alat tes cepat monoculer di laboratorium kecil di bandara. Hasilnya bisa keluar dalam waktu 30 menit,” katanya.

Jika ditemukan kasus positif, penumpang langsung dirujuk ke rumah sakit rujukan seperti RSUP Prof. Ngoerah, RS Bali Mandara, atau RS Siloam untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

“Kita cek lebih detail untuk melihat variannya. Apakah ini H1N1 seperti di China atau yang lain? Itu kita koordinasikan dengan laboratorium daerah,” tambahnya.

Kesumajaya mengakui, penerbangan dari China dan Malaysia mendapat perhatian khusus karena jumlah penumpang cukup tinggi setiap harinya. 

“Dari China itu 1.100 per hari, dari Malaysia sekitar 2.500 per hari. Maskapai dari kedua negara ini kita pantau khusus walaupun belum ada penerapan protokol kesehatan tertentu, tetapi sifatnya masih anjuran. Kalau ada gejala flu, kita minta pakai masker untuk melindungi diri dan orang lain,” tegasnya.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada kasus HMPV yang terdeteksi di Bali. 

“Kita belum menemukan, tetapi kita sangat menaruh atensi. Semoga yang dari Malaysia masuk ke sini tidak ada yang terjangkit. Sampai hari ini (kemarin) laboratorium kami belum menemukan,” kata dia. 

Di sisi lain, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gede Anom menjelaskan HMPV yang merebak di China memang telah ditemukan di Indonesia. 

Namun, Anom menjelaskan virus ini dilaporkan tidak menyebabkan kematian dan masyarakat diminta tidak panik. 

“Virus itu sebenarnya ada di Indonesia sudah lama, tetapi ini kan tidak menimbulkan kematian,” kata Anom, Selasa 7 Januari 2025. 

Meskipun virus serupa tengah booming di China, virus tersebut belum masuk ke Indonesia. 

“Yang di China itu memang cepat menyebar, tetapi yang sejenis itu belum masuk. Tetapi kalau dikaitkan dengan virus apa itu namanya, memang ada dari dulu. Hanya yang sejenis yang ada di China belum masuk ke Indonesia,” imbuhnya.

Untuk mengantisipasi, pemeriksaan ketat diterapkan di pintu masuk seperti Bandara Ngurah Rai. 

“Di bandara, untuk deteksi demam di sana itu khan pasti kita lihat. Misal kalau dari China, kalau dia demam kita pasti berpikir ke arah sana (virus baru), cepat kita arahkan untuk diperiksa cek lengkap,” ungkapnya.

Prosedur ini, lanjutnya, serupa dengan penanganan virus Monkeypox. 

“Dulu waktu Monkeypox dari Afrika, setiap dari Afrika kalau udah demam pasti kita (tangani) khusus waktu di bandara,” tambahnya.

Anom mengimbau masyarakat untuk tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat. 

“Yang penting pertama pola hidup bersih dan sehat, menjaga kesehatan kita, minum vitamin, makan makanan bergizi. Kalau lagi pilek, batuk pakai masker, jaga jarak itulah akhirnya,” katanya.

Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada arahan khusus untuk melarang perjalanan atau aktivitas tertentu. 

“Belum ada arahan khusus untuk melarang orang itu ndak ada,” ujarnya.

Virus HMPV ini, menurutnya, memiliki gejala yang mirip dengan flu biasa. 

“Gejalanya sama kayak batuk pilek itu,” katanya. 

Namun, ia mengingatkan bahwa hingga saat ini belum ada vaksin untuk mencegah virus ini. 

“Tetap protap kita jaga ini saja karena belum ada vaksin, vaksin pencegahan belum ada,” imbuhnya.

Ia juga menegaskan bahwa virus ini tidak mematikan dan belum dinyatakan sebagai penyakit global oleh WHO. 

“Yang jelas virus ini tidak mematikan, WHO pun belum menyatakan ini bukan sebagai penyakit global, belum,” ujarnya.

Dinkes Bali tetap melakukan koordinasi dengan BBKK untuk menjaga keamanan. 

Sedangkan untuk deteksi lebih lanjut, Dinkes Bali mengandalkan RS Prof. Ngoerah.  

“Yang menjaga pintu masuk dari BBKK itu, Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, mereka begitu ada sesuatu, mereka selesaikan dulu di klinik mereka baru ke rumah sakit,” katanya. (zae/sar)

Tingkatkan Faskes dan Promosi Kesehatan 

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat untuk tidak panik tetapi tetap waspada dan menjaga kesehatan guna mencegah resiko penularan virus ini. 

Juru Bicara Kemenkes, drg. Widyawati, MKM, menjelaskan langkah-langkah preventif seperti menjaga pola hidup sehat, mencuci tangan secara teratur, dan menggunakan masker di tempat umum dapat membantu mengurangi risiko tertular penyakit menular. 

“Saat ini belum ada laporan kasus HMPV di Indonesia. Meski begitu, kami mengimbau agar masyarakat tetap menjaga kesehatan dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini penting untuk memperkuat daya tahan tubuh dan mencegah penularan berbagai virus yang berpotensi mengancam Kesehatan,” jelas Widyawati.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. I Nyoman Gde Anom untuk wisatawan asing yang masuk ke Bali, sudah dilakukan deteksi di pintu masuk oleh BBKK atau KKP. 

“Kalau ranah pintu masuk bisa ditanyakan ke kantor BBKK atau KKP apakah ada isolasi atau screening lainnya,” jelas Anom, Senin 6 Januari 2025. 

Sementara terkait upaya dan antisipasi, pihaknya menyatakan Bali tetap siap siaga terhadap apapun penyakit berpotensi Kejadian Luar Biasa (wabah). 

“Kesiapan kami dari segi koordinasi dengan KKP di pintu masuk wilayah, kemudian kewaspadaan dengan meningkatkan surveilans di wilayah apakah ada peningkatan kasus influenza serta koordinasi dengan faskes untuk kesiapan faskes serta meningkatkan promosi kesehatan sampai di tingkat Puskesmas,” kata Plt. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti. 

Disinggung mengenai pencegahan khusus bagi wisatawan mancengara (wisman) asal China, Raka mengatakan bukan ranah Dinkes yang menjawab melainkan negara. 

“Yang pasti deteksi dini di pintu masuk pasti sudah dilakukan oleh KKP,” jelasnya. (sar)

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin: Mirip dengan Flu Biasa

Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat untuk tidak panik, karena HMPV bukanlah virus baru dan sudah dikenal dalam dunia medis. 

“HMPV sudah lama ditemukan di Indonesia, kalau dicek apakah ada, itu ada. Saya sendiri kemarin melihat data di beberapa lab, ternyata beberapa anak ada yang terkena HMPV,” kata Menkes Budi di Jakarta, dalam keterangan tertulisnya pada Senin 6 Januari 2025.

Menkes Budi menjelaskan, virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19.  

Menurutnya, COVID-19 merupakan virus baru, sedangkan HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu. 

Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu merespons dengan baik.

“Berbeda dengan COVID-19 yang baru muncul beberapa tahun lalu, HMPV adalah virus lama yang sudah ada sejak 2001 dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Selama ini juga tidak terjadi apa-apa juga,” ujar Menkes Budi.

Mengenai pemberitaan tentang meningkatnya kasus HMPV di China, Menkes Budi menegaskan informasi tersebut tidak benar. 

Hal ini juga telah dikonfirmasi oleh pemerintah China dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Menurutnya, peningkatan kasus flu biasa di negara 4 musim seperti China sering terjadi saat musim dingin. 

“Saya sudah melihat datanya, yang naik di China itu virusnya bukan HMPV tetapi melainkan tipe H1N1 atau virus flu biasa. HMPV itu ranking nomor 3 di China dari sisi prevalensi, jadi itu tidak benar,” kata Menkes Budi.

Menkes Budi menegaskan HMPV bukanlah virus yang mematikan. 

Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk, demam, pilek, dan sesak napas. 

Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus. 

Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi. 

Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak-anak, orang lanjut usia (lansia), dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada. 

Karena itu, Menkes Budi mengimbau masyarakat untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan tenaga medis jika muncul gejala yang mencurigakan.

“Yang terpenting adalah tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama seperti Covid-19, kita dapat mengatasi virus ini dengan baik,” kata Menkes Budi. (zae)

Kumpulan Artikel Bali

Sumber: Tribun Bali
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved