UMKM Bali

KISAH 1 Dekade Pendiri JFC Bali, Hampir Tumbang Namun Bangkit Lagi, Kini Target Ekspansi

Konsistensi dan inovasi menjadi kunci, bisnis JFC bertahan di tengah hiruk pikuk persaingan bisnis ayam goreng, khususnya di Bali.

ISTIMEWA
PERAYAAN - Hari jadi 1 dekade JFC. 

TRIBUN-BALI.COM – Memang butuh mental baja menjadi pengusaha, demikian yang dihadapi Founder JFC, I Made Agus Putra Jaya.

Pelaku UMKM di bisnis ayam goreng ini, tidak serta merta sukses begitu saja. Aral terjal ia lalui, badai pun ia hadapi, selama 1 dekade menjalani bisnis ini.

Konsistensi dan inovasi menjadi kunci, bisnis JFC bertahan di tengah hiruk pikuk persaingan bisnis ayam goreng, khususnya di Bali.

“Tepat di tahun 2016 kami (JFC) berdiri, dan kini sudah ada 200 lebih outlet JFC tersebar di Bali,” jelasnya di Lapangan Lumintang, Denpasar, 25 Januari 2025.

Baca juga: Sebanyak 147 UMKM di Bali Terima Sertifikat Halal Program Pembinaan dan Dukungan dari BCA

Baca juga: Dorong Pertumbuhan Wirausaha Nasional, Menteri UMKM Ajak IMM Berkiprah di Dunia Bisnis

w3gherhr54j
AYAM - Ayam goreng JFC.

Tidak muluk-muluk, sang pendiri hanya ingin bisa ekspansi ke luar Bali dan memperluas bisnis JFC ini. “Wilayah bidikan saja sementara itu, seperti Banyuwangi, Lombok, termasuk Jawa, ya masih area yang dekat dengan Bali,” sebutnya.

Berbisnis ayam goreng, kata dia, tidaklah mudah. Keunggulan dan konsistensi serta rasa yang enak harus tetap dijaga. Meluncurkan menu baru yang menarik minat pelanggan juga penting, sesuai dengan minat pasar tentunya.

“Sebab yang kekal itu adalah perubahan, kami selalu ikut dan inovasi terhadap perubahan ini,” katanya. Siapa sangka, kini JFC terbilang menjadi salah satu ayam goreng terbesar di Bali yang diminati masyarakat.

Made Agus Putra Jaya, menceritakan bahwa selama 10 tahun jatuh bangun ia rasakan dalam berkelana di dunia usaha. “Covid kemarin kami hampir tumbang, tentu semua lini kena ya. Namun kami berhasil melewatinya,” tegasnya.

Ia terbilang bermodal nekat saat awal membuka bisnis, mengaku modal tidak besar dan meminjam dana di bank adalah jalan ninja dalam mengembangkan bisnis JFC ini. “Terus terang ini modal dengkul,” ujarnya di sela-sela acara perayaan HUT JFC ke-10.

Ia mengaku merintis dari minus, hanya saja keberanian itu datang karena ia optimistis bisnis ini akan besar dan kini terbukti demikian. “Saya sendiri terjun, dan melihat langsung apa yang diminta masyarakat,” sebutnya.

Kesukaannya pada kegiatan memasak, mendorongnya untuk memberikan menu dengan kualitas dan rasa yang enak. “Saya coba eksperimen,” katanya. Lalu pemilihan ayam goreng, karena mudah didapatkan bahan bakunya dan disukai banyak orang.

POSE - Founder JFC, I Made Agus Putra Jaya (kiri) dan I Ketut Ngurah Aryawan, Ketua Karang Taruna Denpasar dan Komisi I DPRD Denpasar (kanan).
POSE - Founder JFC, I Made Agus Putra Jaya (kiri) dan I Ketut Ngurah Aryawan, Ketua Karang Taruna Denpasar dan Komisi I DPRD Denpasar (kanan). (ISTIMEWA)

Kemudian bisa diolah dengan banyak variasi, seperti ayam goreng, ayam geprek, dan lain sebagainya. Ia pun mengajak siapa saja yang ingin berbisnis JFC, bisa mendatangi outlet yang sudah ada untuk mendapatkan informasi.

“Tentunya kami melihat apakah tempat dari calon patner itu strategis atau tidak. Jarak antar outlet juga diatur,” jelasnya. Target 2025 ini, adalah ekspansi keluar. Dalam perayaan 10 tahun, dilakukan jalan sehat, lomba mewarnai, melibatkan UMKM, dan acara menarik lainnya serta pameran kuliner.

I Ketut Ngurah Aryawan, Ketua Karang Taruna Denpasar dan Komisi I DPRD Denpasar, sangat mendukung pelaku UMKM dan pebisnis lokal Bali untuk maju. Salah satunya bisnis JFC ini.

“Saya sebagai Ketua Karang Taruna Denpasar, sangat mengapresiasi program-program JFC yang selama ini konsisten di bidang permasalahan sosial. Khususnya fasilitas tentang ambulance, lalu kini ikut dalam program makan siang gratis bergizi yang diamanatkan Pak Presiden Prabowo Subianto,” sebutnya.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved