Berita Karangasem
Nyepi Adat Desa Geriana Kangin Karangasem, Dilaksanakan 10 Tahun Sekali
Desa Adat Geriana Kangin, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali menggelar Nyepi adat, Jumat (4/4/2025).
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
Nyepi Adat Desa Geriana Kangin Karangasem, Dilaksanakan 10 Tahun Sekali
TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Desa Adat Geriana Kangin, Kecamatan Selat, Karangasem, Bali menggelar Nyepi adat, Jumat (4/4/2025).
Tradisi ini dilaksanakan 10 tahun sekali, dan merupakan upaya warga setempat untuk menyucikan alam, menjaga keseimbangan antara manusia dan semesta.
Suasana di Desa Adat Geriana Kangin di Kecamatan Selat, Karangasem, tampak sunyi, Jumat(4/4/2025).
Baca juga: NEKAT! Bule Snorkeling Saat Nyepi di Desa Bunutan Karangasem, Ngeyel Akhirnya Ditegur Pecalang!
Tidak seperti biasanya, tak ada deru kendaraan, tidak terdengar tawa anak-anak, dan tidak satu pun warung membuka pintu.
Keheningan menyelimuti setiap sudut desa.
Hanya sesekali terlihat sosok pecalang berdiri tegak di perbatasan desa, bersanding dengan aparat kepolisian yang turut berjaga dalam diam.
Nyepi Adat berlangsung selama 12 jam, dimulai sejak pukul 00.01 WITA hingga tengah hari.
Baca juga: Momentum Kedamaian Antar Umat Beragama, DPRD Karangasem Ucapkan Selamat Nyepi dan Idul Fitri
Selama itu, seluruh krama atau warga adat diwajibkan melaksanakan brata penyepian seperti tidak keluar rumah, tidak melakukan aktivitas dan tidak menerima tamu.
Warga lain dipersilakan lewat, namun tidak diperkenankan membunyikan suara klakson, untuk menjaga heningnya suasana nyepi.
Nyepi adat ini merupakan rangkaian dari upacara Karya Tawur Agung Tabuh Gentuh Padudusan Agung, Suda Bumi, Yama Raja yang telah dilangsungkan pada Kamis (4/4/2025) di Pura Puseh setempat.
Baca juga: Jelang Nyepi 2025, Harga Kebutuhan Pokok Merangkak Naik di Karangasem Bali
Bendesa Adat Geriana Kangin, Jro Mangku Sudharma Yasa mengungkapkan, Karya Tawur Agung Tabuh Gentuh Padudusan Agung, Suda Bumi, Yama Raja ini dilaksanakan oleh Desa Adat Geriana Kangin setiap kurun waktu 10 tahun sekali. Upacara ini termasuk kedalam Bhuta Yadnya yang bertujuan untuk jagat kertih atau mensucikan alam semesta.
Dalam pelaksanaannya, karya Tawur Agung Tabuh Gentuh ini dipusatkan pada areal jabe tengah pura puseh atau pempatan.
Baca juga: Jelang Nyepi 2025, Harga Kebutuhan Pokok Merangkak Naik di Karangasem Bali
Ada 9 sulinggih yang muput seluruh rangkaian karya tersebut di mana untuk upakara yang dihaturkan terdapat 9 jenis caru dengan sarana utama adalah hewan kerbau.
"Untuk persiapan sudah kami lakukan sejak dua bulan lalu bersama krama. Karya ini erat kaitannya dengan keseimbangan alam dan rutin kami laksanakan setiap 10 tahun sekali," terang Sudarma Yasa. (*)
Berita lainnya di Tradisi Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Suasana-tradisi-Nyepi-Adat-di-Desa-Geriana-Kangin-22.jpg)