Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Bali

Dikenal Akademisi Arstitektur, Ini Profil Prof Rumawan Sebagai Pengamat Pendidikan Bali

Ia sempat menjabat sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di Universitas Ngurah Rai, Ketua Tim KKN UNUD, hingga Wakil Rektor III UNUD

Istimewa
Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain - Dikenal Akademisi Arstitektur, Ini Profil Prof Rumawan Sebagai Pengamat Pendidikan Bali 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Selain sebagai akademisi arsitektur, Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si., IAI, juga sebagai sosok intelektual yang kerap menyuarakan kritik terhadap kondisi sosial, termasuk dunia pendidikan. 

Baru-baru ini, pernyataannya mengenai ratusan siswa SMP di Buleleng yang belum bisa membaca menggugah kesadaran publik akan lemahnya literasi di Indonesia. 

Bagi Prof. Rumawan, fenomena tersebut adalah ironi dari semangat literasi yang sempat digaungkan pemerintah beberapa tahun terakhir.

Lahir di Denpasar pada 25 Desember 1952, Prof. Rumawan adalah akademisi yang menapaki jalur keilmuannya dari dunia arsitektur hingga budaya. 

Baca juga: KISAH Kutus Kutus ke Sanga Sanga, Perjalanan Bambang Pranoto Menemukan Kembali Hak dan Jati Diri

Ia menyelesaikan studi Arsitektur di Fakultas Teknik Universitas Udayana (UNUD) tahun 1977 dan meraih gelar insinyur pada 1980. 

Tidak berhenti di situ, ia memperdalam keilmuannya dengan meraih gelar Magister Sains pada 1998 dan menyandang gelar Doktor di bidang Kajian Budaya pada 2011.

Dalam dunia akademik, ia telah mengabdi sebagai pengajar di berbagai jenjang, dari S1 hingga S3. 

Ia sempat menjabat sebagai Ketua Jurusan Arsitektur di Universitas Ngurah Rai, Ketua Tim KKN UNUD, hingga Wakil Rektor III UNUD periode 2002–2006. 

Pada 2014, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Konservasi Arsitektur di Fakultas Teknik UNUD, sebelum akhirnya pensiun pada 2022. 

Saat ini, ia tetap aktif mengajar di Program Studi Arsitektur Universitas Warmadewa.

Keterlibatannya di dunia pendidikan tak hanya di ruang kelas. Ia pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan Kota Denpasar selama 15 tahun, anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kota Denpasar, hingga Tim Ahli DPRD Provinsi Bali

Ia juga menjadi bagian dari Dewan Adipura Nasional hingga 2023 serta tergabung dalam Shared Built Heritage–ICOMOS, sebuah jaringan internasional yang fokus pada pelestarian warisan budaya bangunan.

Berangkat dari latar belakang akademis yang kuat dan kepedulian terhadap masyarakat, Prof. Rumawan melihat langsung problematika mendasar dalam dunia pendidikan, khususnya literasi. 

Ia menilai, meskipun pemerintah telah menyediakan buku pelajaran, tidak ada evaluasi yang menyeluruh terhadap efektivitasnya. 

Ketimpangan distribusi buku, lemahnya pengawasan sekolah, hingga dampak dari kebebasan berlebih yang diberikan oleh Kurikulum Merdeka disebut sebagai faktor-faktor penyebab lemahnya kemampuan membaca siswa.

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved