Berita Gianyar
Tangani Kemacetan Ubud Gianyar, Pemprov Bali Rencana Investasi Sentra Parkir
Kendaraan yang datang dari arah Sukawati dan Gianyar melalui Jalan Raya Teges, bisa ditampung di kawasan Desa Mas.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pemprov Bali melalui Pusat Investasi Kerti Bali Sadhana berencana menanamkan investasi untuk pengadaan areal parkir di Kota Ubud.
Investasi ini akan menggunakan Lapangan Astina Ubud seluas 7.560 meter persegi, dan akan dibangun menjadi lahan parkir berlantai 2 dengan daya tampung untuk 968 kendaraan roda 2 dan 192 kendaraan roda 4.
Berdasarkan data website Pusat Investasi Kerti Bali Sadhana, tujuan dari investasi ini adalah untuk mengurangi kemacetan di Kota Ubud dengan menyediakan central parkir yang dapat menampung kendaraan wisata dan pribadi.
Nilai investasi untuk sentral parkir ini sebesar Rp 372 miliar dan diharapkan bisa mencapai Break-Even Point (BEP) dalam waktu 25 tahun.
Baca juga: Kapal Cepat Banyuwangi-Denpasar Pangkas Jalur Macet ke Gilimanuk, Pengamat: Jadi Angkutan Publik
Selain investasi parkir, Pusat Investasi Kerti Bali Sadhana juga berencana berinvestasi di bidang pertanian agro di beberapa desa, serta mengembangkan destinasi wisata di Desa Taro, Desa Kenderan, dan Sidan dengan mengemas kegiatan budaya-keagamaan sebagai paket wisata kalender event.
Kadishub Gianyar, I Made Arianta, menyatakan belum mengetahui rencana investasi ini dan menyebutkan bahwa jika benar-benar ada investasi, domainnya akan berada di Bappeda Gianyar atau PUPR Gianyar.
"Kami belum mengetahui tentang adanya rencana investasi ini," ujarnya.
Namun kata Arianta, berdasarkan diskusinya dengan pengamat transportasi, penanganan kemacetan di pusat pariwisata Ubud, bisa dilakukan dengan membangun sentra parkir di kawasan pinggiran Ubud, dan meminimalisir kendaraan yang masuk ke kawasan Ubud.
Minimalisir bisa dilakukan dengan membatasi kendaraan yang bisa masuk Ubud. Yang boleh melintas di Ubud hanya kendaraan warga lokal, kendaraan drop barang namun diatur jamnya, serta kendaraan suttle.
Sementara untuk kendaraan wisatawan, baik itu transportasi seperti bus dan kendaraan lainnya, bisa diparkir di sentral parkir yang dibuat di pinggiran Ubud.
Seperti untuk kendaraan dari arah Denpasar dan Badung, bisa diparkir di kawasan Desa Sayan dan Desa Singakerta.
Sementara kendaraan yang datang dari arah Sukawati dan Gianyar melalui Jalan Raya Teges, bisa ditampung di kawasan Desa Mas.
Tentunya hal ini membutuhkan investasi besar, karena harus menyediakan setra parkir, dan kendaraan suttle sebagai tunggangan wisatawan menuju ke Ubud.
Dengan sistem tersebut, tidak ada lagi kendaraan yang menaik-turunkan wisatawan di pusat Ubud.
"Sampai saat ini hanya hal tersebut yang sekiranya bisa menangani kemacetan di Ubud. Sebab volume kendaraan saat ini lebih tinggi dari luas jalan yang ada, terutama di persimpangan. Di persimpangan pasti macet, karena sempit," ujarnya. (*)
Kumpulan Artikel Bali
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.