Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Sponsored Content

12 Cakep Lontar Kuno Belancan Diselamatkan, dari Usadha hingga Mantra Penjaga Kebun

Menurutnya, karakter isi lontar sangat berkaitan dengan kondisi geografis Belancan sebagai wilayah perkebunan.

Tayang:
Tribun Bali/ISTIMEWA
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengonservasi, mengidentifikasi, dan mendigitalisasi 12 cakep lontar milik warga Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Kamis 5 Februari 2026. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Upaya penyelamatan warisan intelektual Bali kembali dilakukan.

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengonservasi, mengidentifikasi, dan mendigitalisasi 12 cakep lontar milik warga Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Kamis 5 Februari 2026. 

Kegiatan ini menemukan belasan lontar dalam kondisi relatif baik dan masih dapat dibaca. Lontar-lontar tersebut memuat beragam pengetahuan tradisional, mulai dari usadha atau pengobatan, tutur keagamaan, hingga mantra pelindung kebun dari hama dan gangguan.

Baca juga: Bulan Bahasa Bali VIII Digelar, Pelajar dan Ibu PKK Ikuti Lomba Nulis Aksara 

Baca juga: Bulan Bahasa Bali di Klungkung, Ruang Revitalisasi Bahasa dan Aksara Bali

Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengonservasi, mengidentifikasi, dan mendigitalisasi 12 cakep lontar milik warga Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Kamis 5 Februari 2026.
Dinas Kebudayaan Provinsi Bali mengonservasi, mengidentifikasi, dan mendigitalisasi 12 cakep lontar milik warga Desa Belancan, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Kamis 5 Februari 2026. (Tribun Bali/ISTIMEWA)

Koordinator Penata Layanan Operasional sekaligus Penyuluh Bahasa Bali Dinas Kebudayaan Provinsi Bali di Bangli, I Wayan Sudarsana, mengatakan konservasi ini merupakan bagian dari rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026. Dari hasil identifikasi, sedikitnya 12 cakep lontar berhasil didata dari koleksi milik Jro Mangku I Ketut Kuatis.

 

“Jenis lontarnya beragam, antara lain Tutur Angastya Prana, Bhagawan Garga, Dharma Laksana Undagi, hingga Pangijeng Abian yang berfungsi sebagai sarana atau mantra penjaga kebun,” ujar Sudarsana.

 

Menurutnya, karakter isi lontar sangat berkaitan dengan kondisi geografis Belancan sebagai wilayah perkebunan. Karena itu, beberapa lontar berisi doa, mantra, dan sarana perlindungan kebun dari hama maupun perbuatan tidak bertanggung jawab.

 

Selain konservasi fisik berupa pembersihan dan perawatan, Dinas Kebudayaan juga memberikan edukasi kepada pemilik lontar tentang cara penyimpanan dan pemeliharaan yang benar. Ke depan, lontar-lontar tersebut akan diproses secara bertahap untuk digitalisasi, alih aksara, dan alih bahasa.

 

“Langkah ini penting agar isi lontar tidak hanya terselamatkan secara fisik, tetapi juga bisa dipahami dan diwariskan ke generasi berikutnya,” jelas Sudarsana.

 

Pemilik lontar, Jro Mangku I Ketut Kuatis, mengaku lontar-lontar tersebut merupakan warisan leluhur yang selama ini belum terawat optimal. Ia menyambut baik bantuan konservasi dari pemerintah.

 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved