Lindungi Nasabah dari Dampak Penyakit Kritis, Prudential Luncurkan PRU Critical Benefit 88
Guna melindungi pasien dan keluarga dari dampak keuangan, akibat penyakit kritis, Prudential Indonesia meluncurkan PRUCritical Benefit 88
Penulis: AA Seri Kusniarti | Editor: Irma Budiarti
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Guna melindungi pasien dan keluarga dari dampak keuangan, akibat penyakit kritis, Prudential Indonesia meluncurkan PRU Critical Benefit 88.
Melalui slogan 'Proteksi Terjamin Uang Pasti Kembali’ produk anyar Prudential ini menawarkan banyak manfaat.
Mengingat banyaknya penyakit yang kian menggerogoti belakangan ini.
Penelitian ASEAN Cost ini Oncology (ACTION), mengungkapkan bahwa dari 9.513 pasien pengidap kanker.
Pada penelitian yang dilakukan dari 2014-2015 ini, hampir 50 persen pasien tersebut mengalami kebangkrutan, dan 29 persen meninggal dunia.
Kemudian data WHO menunjukkan, penyakit tidak menular (PTM) diperkirakan menjadi penyebab 73 persen kematian di Indonesia.
“Berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan. Prevalensi berbagai PTM seperti kanker, stroke, penyakit ginjal kronis, dan hipertensi naik,” ujar Jens Reisch, Presidential Director Prudential Indonesia, di Harris, Sunset Road, Badung, Jumat (18/1/2019).
Baca: Gubernur Usulkan Desa yang Turut Sukseskan Pemilu 2019 Dapat Hadiah, Begini Kata KPU Bali
Baca: Terima Audensi BKS LPD dan LP LPD, Gubernur Koster Sebut Tak hanya Ubah Nama tapi juga Tata Kelola
Lanjutnya, hipertensi naik dari 25,8 persen menjadi 34,1 persen.
Kemudian prevalensi stroke naik dari 7 persen menjadi 10,9 persen, penyakit ginjal kronis naik dari 2 persen menjadi 3,8 persen.
Serta prevalensi kanker naik dari 1,4 persen menjadi 1,8 persen.
“Untuk itu melalui PRU Critical Benefit 88 ini, Prudential berharap dapat memberikan kekuatan kepada nasabah, sehingga saat terjadi sesuatu nasabah bisa menggunakan uang perlindungannya untuk biaya pengobatan. Tanpa harus menguras emosi dan fisik keluarga pasien,” tegasnya.
Sehingga bisa membantu dalam pengelolaan apabila terjadi kondisi kritis.
Apalagi kesibukan dan pekerjaan adalah salah satu kendala dalam penerapan pola hidup sehat.
Untuk itu, semua orang berisiko terkena penyakit.
“Ditambah lagi kebiasaan buruk seperti merokok, tidak olahraga rutin, kurang makan buah dan sayur, kurang istirahat dan sebagainya. Semua itu adalah penyebab dari PTM,” jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pimpinan-prudential-dan-narasumber.jpg)