Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Badung

Tak Hanya Dirawat, Naskah Kuno di Badung Mulai Digitalisasi

Pelestarian naskah kuno atau lontar di Kabupaten Badung kini tidak hanya melalui perawatan fisik.

Tayang:
istimewa
KONSERVASI - Pelaksanaan Konservasi Lontar, di Griya Prabhu, Banjar Denkayu Baleran, Desa Werdi Bhuwana, Kecamatan Mengwi pada Senin 17 Februari 2025. Pelestarian Naskah Kuno, Disbud Badung Gelar Konservasi Lontar 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Pelestarian naskah kuno atau lontar di Kabupaten Badung kini tidak hanya melalui perawatan fisik.

Namun pemerintah setempat mulai melakukan Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskerpus) Badung mulai mengakselerasi digitalisasi.

Hal itu dilakukan untuk mengamankan naskah kuno itu. Setidaknya hampir 200 cakep lontar telah berhasil dialihmediakan hingga saat ini.

Kepala Bidang Pelestarian Bahan Perpustakaan Diskerpus Badung, Kadek Wiratnata menjelaskan jika langkah ini menjadi solusi konkret menjaga warisan budaya leluhur agar tetap lestari di tengah perkembangan zaman.

Baca juga: Kesbangpol Badung Bali Cairkan Banpol Rp 8,28 Miliar Untuk Empat Parpol

Digitalisasi dinilai mampu melindungi isi lontar dari kerusakan sekaligus membuka akses pembelajaran bagi generasi mendatang.

"Lontar bukan sekadar benda pusaka, melainkan sumber ilmu pengetahuan yang harus dijaga bersama," ujarnya Kamis 28 Mei 2026

Disebutkan, lontar maupun naskah kuno yang ada di Badung perlu dirawat dan dilestarikan agar tetap terpelihara dengan baik. Isi dari lontar tersebut juga penting diketahui oleh pemiliknya sebagai warisan leluhur yang harus dijaga.

"Jumlah lontar yang tersebar di Kabupaten Badung diperkirakan mencapai ribuan cakep. Sejak tahun 2022 hingga 2025, Kami Diskerpus Badung bersama Penyuluh Bahasa Bali telah melakukan preservasi terhadap sekitar 1.500 cakep lontar," bebernya.

Baca juga: 2 Hari Beruntun, Dua Bayi Ditemukan di Badung Bali: Satu di Semak-semak, Satu Lagi di Tukad Mati

Program digitalisasi sendiri mulai dijalankan pada tahun 2024 dan terus menunjukkan perkembangan positif. Hingga kini, hampir 200 cakep lontar telah berhasil didigitalisasi, menjadi tonggak penting dalam upaya penyelamatan naskah kuno di Badung.

"Pemilik lontar sangat antusias untuk mendigitalisasikan lontar warisan mereka. Ini menjadi langkah penting agar isi lontar tetap aman dan dapat dipelajari oleh generasi mendatang," katanya.

Meski demikian, pihaknya masih menghadapi sebuah tantangan. Sebagian masyarakat masih menganggap lontar sebagai benda sakral yang tidak boleh disentuh, sehingga enggan dilakukan konservasi.

“Melalui sosialisasi ini kami ingin mengubah mindset masyarakat terhadap lontar dan naskah kuno. Lontar bukan hanya warisan yang disakralkan, tetapi juga sumber pengetahuan yang harus dijaga bersama,” jelasnya.

Kendati demikian,  dengan kombinasi konservasi fisik dan digitalisasi, Wiratnata mengaku optimistis pelestarian lontar dapat berjalan lebih efektif, sekaligus memastikan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup di tengah masyarakat modern.

"Kami tidak ingin warisan leluhur ditaruh begitu saja, hingga nanti rusak. Lontar-lontar kita bersihkan dan rawat, bahkan isinya digitalisasi agar semua lontar isinya dapat diselamatkan," imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved