Berita Bali
Ini Dampak Langsung yang Dialami Bali Jika Perang AS-Israel vs Iran Berkepanjangan
Ini Dampak Langsung yang Dialami Bali Jika Perang AS-Israel vs Iran Berkepanjangan
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Konflik militer yang memanas antara Amerika Serikat dan Israel, melawan Iran memang terjadi ribuan kilometer dari Pulau Dewata.
Namun, dampaknya mulai terasa nyata di Bali khususnya di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.
Kondisi ini kembali menyingkap realitas pahit tentang fondasi ekonomi Bali yang masih sangat rentan terhadap guncangan stabilitas geopolitik dunia.
Pengamat Pariwisata dari Universitas Warmadewa, Dr. I Made Suniastha Amerta, S.S., M.Par., CPOD., mengungkapkan, dampak konflik ini langsung menyasar pada konektivitas, dimana penerbangan dibatalkan, rute diputar, dan harga tiket melonjak.
Baca juga: Bulan Rawan Pencurian, Polsek Gianyar Bali Intensifkan Patroli Malam
"Selama ini, denyut pariwisata Bali dari Eropa dan Timur Tengah sangat bergantung pada hub penerbangan utama seperti Doha, Dubai, dan Abu Dhabi. Ketika ruang udara di kawasan Timur Tengah dibatasi, rantai kedatangan wisatawan internasional otomatis tercekik," ungkap Suniastha Amerta, Senin, 2 Maret 2026.
Ia pun menyoroti potensi penyusutan jumlah wisatawan secara signifikan jika eskalasi ini terus berlanjut.
"Sulit untuk memprediksi persentase Bali kehilangan tamu dari wilayah terdampak secara pasti, tapi jika mengacu pada data sebelumnya, wisatawan dari Timur Tengah sekitar 10-20 persen dari total kunjungan wisatawan asing ke Bali," ungkapnya.
Baca juga: Parade Ogoh-ogoh Jembrana Bali Digelar 12 Maret, Pasikian Yowana Harap Tetap Gunakan Jalur Sudirman
"Jika konflik berlanjut, kemungkinan kehilangan tamu dari wilayah terdampak bisa mencapai 10-30 persen. Harapan kita semoga perang AS-Israel vs Iran tidak berlanjut," imbuhnya.
Ia pun menambahkan, permasalahan yang kemudian muncul bukan sekadar pembatalan sejumlah jadwal penerbangan, melainkan menyasar struktur ekonomi Bali yang hampir sepenuhnya bertumpu pada pariwisata internasional.
Ketika konflik meletus, harga minyak dunia melonjak.
Hal ini akan memaksa maskapai menaikkan tarif tiket penerbangan.
Rantai ini pada akhirnya akan membuat wisatawan berpikir ulang untuk bepergian.
"Jika perang ini berlanjut hingga berbulan-bulan, pasar wisatawan Eropa dipastikan akan menyusut drastis. Dampaknya akan memukul tingkat hunian hotel berbintang, menekan industri MICE, dan secara langsung mencekik UMKM serta pekerja lapangan yang menggantungkan hidupnya pada daya beli wisatawan," paparnya.
Ironisnya, meski Indonesia mengambil posisi non-blok dan netral dalam konflik tersebut, netralitas politik tidak otomatis menjamin keamanan ekonomi dalam sistem global yang saling terhubung.
Baginya, krisis ini menjadi alarm keras bagi pemerintah dan pelaku industri bahwa Bali tidak bisa lagi hanya terjebak dalam euforia angka kunjungan dan berharap pada stabilitas global.
"Selama ini pemerintah bangga pada statistik kedatangan wisatawan. Tetapi sedikit yang berbicara tentang diversifikasi ekonomi. Sedikit yang serius membangun industri penunjang di luar pariwisata. Ketika dunia stabil, Bali bersinar. Ketika dunia bergejolak, Bali goyah," imbuh pria yang juga Ketua Forum Semeton Karangasem (Forum Sekar) ini.
| MTI Bali Desak Gubernur Tanggung Jawab dan Bongkar Dugaan ‘Permainan’ di Pelabuhan Gilimanuk |
|
|---|
| Kali Ini Gema Takbir di Masjid Besar Kepaon Tanpa Pawai Obor Keliling, Ini Kata Pengurus |
|
|---|
| Keberangkatan Ribuan Pemudik di Terminal Mengwi Sempat Ditunda, Ternyata Ini Alasannya |
|
|---|
| Warga Datangi Banjar Tainsiat Saat Ngembak Geni Buntut Ogoh-ogoh Batal Diarak ke Catur Muka |
|
|---|
| 10 Rumah Rusak Diterjang Angin Puting Beliung Saat Hari Raya Nyepi, Kerugian Belasan Juta Rupiah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Perang-di-Timur-Tengah-Memanas-Ribuan-Penumpang-Bandara-Bali-Terdampak-Polres-Tingkatkan-Keamanan.jpg)