Seputar Bali
Akibat Perang, Bahlil Sebut Stok BBM Indonesia Bertahan 20 Hari, Bagaimana dengan Pariwisata Bali?
Akibat perang, menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut stok BBM di Indonesia bertahan sampai 20 hari.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Akibat perang, menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia menyebut stok BBM di Indonesia bertahan sampai 20 hari.
Hal ini tentu membuat banyak pihak bertanya-tanya apakah Indonesia bisa bertahan ditengah gempuran geopolitik timur tengah..
"Kalau cadangan BBM saat ini masih 20 hari," kata Bahlil, dikutip dari Kompas..
Menurut dia, cadangan minyak itu cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri di tengah konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Baca juga: RAMALAN Cuaca Bali, Musim Kemarau 2026 Lebih Awal Terjadi di Sejumlah Daerah Termasuk Bali
Lantas, bagaimana dengan nasib pariwisata Bali yang sangat ketergantungan dengan kondisi ekonomi dan geopolitik dunia.
Salah satu pemilik usaha jasa transportasi pariwisata di Bali atau Mr. Bali Tour, Gustu Kompyang mengeluhkan pembatalan kunjungan wisatawan asing ke Bali pasca perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran memanas.
Gustu memaparkan, dari total pemesanan travel yang sudah masuk untuk bulan ini, sekitar 60–70 persen mengalami pembatalan.
Angka ini masih berpotensi meningkat karena sebagian tamu memilih untuk menunda (postpone) perjalanan mereka.
“Pembatalan mulai terjadi sejak minggu lalu dan terus berlangsung hingga saat ini,” ungkapnya pada, Rabu 4 Maret 2026.
Saat disinggung apakah ada kekhawatiran pariwisata akan kembali sepi seperti saat Pandemi Covid-19, dia merasa khawatir.
Gustu tak menampik hal tersebut. Tentu ada kekhawatiran, meskipun Bali dikenal sebagai destinasi wisata dunia, situasi perang tetap berdampak secara global, baik dari sisi penerbangan maupun kondisi ekonomi.
Baca juga: ASTAGA, Sumedika Nekat Hamili Gadis 16 Tahun, Mejalis Hakim PN Singaraja Jatuhi Hukuman 9 Tahun!
“Beberapa tamu yang telah melakukan pemesanan untuk bulan Maret, termasuk dari Malaysia dan India, juga membatalkan atau menunda perjalanan mereka,”
“Namun demikian, kami tetap berharap situasi ini justru dapat berbalik menjadi peluang, di mana wisatawan memilih Bali sebagai destinasi yang aman dan damai untuk berlibur, sehingga roda perekonomian masyarakat tetap berjalan dengan baik,” imbuhnya.
Gustu juga memaparkan saat ini merupakan periode low season. Berdasarkan grafik tahunan, biasanya masih terdapat pergerakan wisatawan yang stabil.
Namun, saat ini terjadi penurunan yang cukup drastis, bahkan sebelum situasi perang berlangsung.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bahlil-lahadalia-5.jpg)