Berita Denpasar
Film Screening The Sacrifice, Angkat Kisah ODGJ dan Perjuangan Keluarga Hadapi Gangguan Mental
Kisah Ketut Sudirta, seorang dengan gangguan jiwa yang sempat membunuh kakak tirinya
Penulis: Ni Luh Putu Wahyuni Sari | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR — Kisah Ketut Sudirta, seorang dengan gangguan jiwa yang sempat membunuh kakak tirinya hingga akhirnya ditemukan meninggal dunia di sebuah sumur di dalam Pura Panti Gede, Kesiman pada Tahun 2022 lalu diangkat menjadi sebuah film screening bertajuk ‘The Sacrifice’.
Film garapan Elemental Productions ini sekaligus mengungkapkan sebuah keluarga di Bali yang berjuang menghadapi gangguan mental berat, kekerasan hingga ulah pati.
Film ini ditayangkan di Aula Gedung E, Universitas Dhyana Pura pada, Rabu 4 Maret 2026 dan disaksikan oleh ratusan mahasiswa dari berbagai program studi (prodi).
Baca juga: Prodi Psikiatri FK Unud Gelar Sosialisasi Kesehatan Mental dan Gangguan Jiwa di Era Digital
Usai pemutaran film, Agus Saka selaku Keponakan Ketut Sudirta mengungkapkan gangguan jiwa yang dialami oleh Ketut Sudirta mulanya terjadi saat pamannya berusia remaja.
“Saat itu Paman saya bekerja di money changer biarpun ODGJ, beliau pintar berbahasa inggris. Sampai akhirnya beberapa kejadian seperti di film terdapat kejadian ekstrem, ada kejadian pembunuhan, sampai akhirnya bunuh diri. Pada dasarnya film ini kompleks dari sudut pandang segi budaya hingga kesehatan,” ungkap Agus Saka.
Lebih lanjutnya, Agus mengungkapkan keluarga tak pernah menganggap Ketut Sudirta sebuah aib.
Baca juga: Sempat Jadi Bulan-bulanan Warga di Buleleng Bali, Kadek Ar Ternyata Punya Riwayat Gangguan Jiwa
Justru berkatnya keluarga besar Agus Saka mengalami sebuah perubahan yang besar.
“Keluarga besar di Kesiman alami perubahan besar. Dulu di rumah keluarga besar banyak sekat tercerai berai, akhirnya setelah terjadi kejadian seperti itu kami memperbaiki tatanan rohani di rumah. Agar tak terjadi kejadian seperti itu mari semua bersatu dibuka semua sekat tembok rumah dan dilakukan upacara,” imbuhnya.
Sementara itu, Gus Indra selaku Co-Producer, Narator dan Etnografer Film The Sacrifice mengatakan alasannya tertarik mengangkat cerita dari Ketut Sudirta secara sederhana sebab ia dekat dengan adik Ketut Sudirta.
Baca juga: INI Alasan Konsumsi Obat Gangguan Kejiwaan Bikin Gemuk! Paham Perbedaan Gangguan Jiwa & Kepribadian
Gus Indra dan Adik dari Ketut Sudirta merupakan teman sejak SD hingga SMA.
“Jadi saya berpikir kenapa sih harus jauh mencari obyek? Tetangga kita sendiri saja bisa diteliti kok. Sebelumnya paman saya sendiri yang mengerjakan (film ini) sementara saya dan ada saudara saya namanya Putra juga mengerjakan itu lalu karena Putra tidak bisa ikut dalam film ini akhirnya saya yang melanjutkan film ini,” kata Gus Indra.
Selain itu, Gus Indra juga menerangkan bahwa sejak ia SD rumah Ketut Sudirta merupakan tempat bermainnya sehingga secara tidak langsung ia jadi mengetahui bagaimana seluk-beluk keluarga Ketut Sudirta.
Isu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di sebuah keluarga di Bali tentunya masih menjadi urgensi hingga saat ini.
Terlebih masih banyak keluarga yang menganggap bahwa memiliki salah satu anggota keluarga mengidap gangguan jiwa merupakan sebuah aib.
“Nah, kita kan harus mendalami itu sebenarnya. Makanya ODGJ itu bukan hanya dari segi medis saja yang harus kita tahu tapi dari segi budaya dan tentang keluarga juga harus harus kita teliti ya. Kenapa bisa menjadi seperti itu? Kalau saya menurut saya sih seperti itu,” imbuhnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Film-screening-bertajuk-The-Sacrifice-garapan-Elemental-Productions-ditayangkan.jpg)