Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Perang Timur Tengah

Rentan PHK Massal hingga Melemahkan Daya Beli, Celios: WFH Bukan Solusi Efektif Hemat BBM 

Work from home (WFH) dinilai tidak efektif untuk menghemat BBM selama konflik Israel-Amerika dan Iran berlangsung.

Istimewa/Humas Pertamina Patra Niaga Area Jatimbalinus
SPBU - Suasana salah satu SPBU di Denpasar. Rentan PHK Massal hingga Melemahkan Daya Beli, Celios: WFH Bukan Solusi Efektif Hemat BBM  

TRIBUN-BALI.COM, DENPASARWork from home (WFH) dinilai tidak efektif untuk menghemat BBM selama konflik Israel-Amerika dan Iran berlangsung.

Hal tersebut diungkapkan oleh, Director Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira saat dikonfirmasi, Senin 30 Maret 2026. 

Menurutnya, WFH tidak efektif bahkan memukul ekonomi masyarakat seperti pusat perbelanjaan, warung, restoran, pedagang informal akan mengalami penurunan omzet yang ekstrem. 

Baca juga: BALI Tunggu Keputusan Pemerintah Pusat, Tanggapi Kebijakan ASN WFH Terkait Hemat BBM

"Siapa yang mau tanggung hilangnya pembeli selama WFH? APBN dan APBD jelas tidak cukup. Ini bukan kondisi Covid-19 dan pemerintah belum deklarasi krisis energi juga, jadi pelaku usaha pasti tidak siap," jelas, Bhima. 

Lebih lanjut ia mengatakan, daya beli juga sedang melemah kalau dilihat kredit UMKM bulan Januari 2026 sebelum Ramadhan minus 0,5 persen.

UMKM sedang terpukul, bahkan pekerja bisa di PHK jika perusahaan lakukan WFH

"Kecuali pemerintah mau tanggung gaji nya lewat Bantuan Subsidi Upah. Kan belum ada kompensasi bagi perusahaan swasta juga," tandasnya. 

Baca juga: Belum Dipastikan, Pemkab Badung Tunggu Instruksi Resmi Terkait Wacana WFH

Dibanding lakukan WFH, Bhima berikan  beberapa opsi paket mitigasi lonjakan harga energi diantaranya: Soal subsidi energi harus dijaga bukan dengan naikan harga BBM atau LPG, tapi geser anggaran dulu.

Perlu ada pembicaraan APBN Perubahan di DPR. Ada pos belanja yang belum urgent dapat dipangkas seperti MBG dan Kopdes MP dan pembangunan IKN.

Masyarakat khususnya menengah ke bawah tidak siap menghadapi kenaikan harga BBM.

Efeknya bisa downward spiral ke pelemahan daya beli, kemiskinan naik, PHK massal terlalu berisiko. 

Program kedua adalah pengurangan konsumsi BBM lewat subsidi dan menggratiskan transportasi publik.

Baca juga: WARGA Bali Harap Harga BBM Tak Naik! Waspada Krisis Dampak Perang Timur Tengah, Ini Kata Pertamina

Spanyol tahun 2022 menggratiskan kereta dalam kota, dan bus biar kendaraan pribadi nya bergeser ke transportasi umum. 

"Program ketiga adalah mempercepat transisi energi terbarukan, 100 GW panel surya segera gantikan desa yang pakai pembangkit listrik dari BBM."

"Porsi energi fosilnya harus turun. Ini momentum untuk gantikan fosil dengan energi yang lebih tahan guncangan," pungkasnya. (*)

 

 

Berita lainnya di Harga BBM

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved