Harga BBM
BBM Non-Subsidi di Bali Naik Lagi, Ini Tanggapan Pengguna Pertamax Turbo dan Pertamina Dex
Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di seluruh SPBU Pertamina yang ada di Provinsi Bali naik mulai Senin 4 Mei 2026 pukul 00.00 WITA.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Ida Ayu Suryantini Putri
"Kalau kita lihat permasalahan bahan bakar ini kan tidak cuma sampai di Pertamax Turbo tapi juga ada di Solar nonsubsidi karena mengagetkan tiba-tiba harga melonjak pesat. Saya ngobrol lagi dengan para pengusaha penjualan mobil Solar itu banyak yang akhirnya lumpuh. Penjualan mobil Solar seperti Fortuner itu drop atau turun harganya. Yang tadinya dia jual mungkin di pasaran Rp 550 juta akhirnya sekarang Rp 450 juta tapi orang mikir belinya," papar Dendi yang juga anggota Kadin Bali dan HIPMI Bali ini.
Ia pun berharap kebijakan Pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi dibarengi dengan Pemerintah menjamin ketersediaan stok BBM non-subsidi aman dan dapat menjaga kenaikan harga sembako serta lainnya.
Mengingat biasanya jika harga BBM naik tentu harga sembako dan kebutuhan lainnya ikut naik.
"Kita berharap bagaimana pemerintah ini bisalah menjamin ketersediaan BBM non-subsidi dan kita juga masih bisa bertahan sebagai para pengusaha serta para pengguna untuk bisa tetap kondusif gitu," harapnya.
Sementara itu, Gede Sukra Arsada seorang pengguna mobil Pajero Sport Dakkar sekaligus kontraktor mengungkapkan hal senada dan merasa pengeluaran untuk membeli BBM non-subsidi jenis Pertamina Dex menjadi lebih tinggi sejak terjadi kenaikan harga 18 April dan awal Mei ini.
"Saya pribadi tidak pernah beli Bio Solar (subsidi) belinya selalu Pertamina Dex. Biasanya sebelum kenaikan itu dan ini naiknya sudah dua kali lalu isi sekali full tank lebih dari Rp 1 juta. Sebelumnya tidak sampai segitu," ucap Gede Sada.
Disinggung bagaimana mengenai ketersediaan stok BBM non-subsidi Pertamina Dex setelah naik dua kali?
Ia menyampaikan bahwa ketersediaan stok Pertamina Dex sejauh ini aman tidak ada kendala atau stok kosong.
"Sejauh ini sih kalau saya tidak begitu susah nyarinya. Tidak begitu susah, cuma memang kalau mau pulang kampung ke Singaraja pasti isi full tank karena tidak semua SPBU sepanjang perjalanan Denpasar-Singaraja menyediakan Pertamina Dex atau Dexlite," jelasnya.
"Cuma ya itu kenaikannya yang berpengaruh terhadap kantong kita, tapi mau tidak mau tetap harus dibeli dengan harga segitu juga. Ibaratnya kalau kita mau pakai terus mobilnya tetap harus beli dengan harga segitu kalau mundur tidak beli, kita tidak bisa jalan," sambung Gede Sada.
Apakah akan menjual mobil Pajero Sport Dakkar nya karena naiknya harga BBM yang sangat tinggi?
Ia mengatakan belum terpikir ke arah sana karena harga jualnya mungkin akan anjlok atau turun drastis dari sebelumnya.
"Walaupun dijual harganya lumayan turun. Kalau dilihat dari harga pasar kan sebenarnya harga Pajero itu paling stabil sebenarnya tapi sekarang pasti turun," tuturnya.
Ia pun berharap kenaikan harga Pertamina Dex yang siginifikan ini tidak berlanjut atau mengalami kenaikan lagi beberapa waktu kedepan karena dua kali kenaikan rentan waktunya dekat sekali.
Dan tentunya ia juga tidak akan beralih ke Bio Solar (subsidi) karena dapat mengurangi performa mesin mobil serta Bio Solar khusus untuk kendaran angkutan barang.
Selain itu biasanya jika harga BBM naik tentu harga sembako dan komoditas lainnya pasti ikut naik mengikuti kenaikan harga BBM.
"Jangan naik lagi lumayan berasa. Bidang pekerjaan saya boleh dibilang kontraktor. Jadi ketika kenaikan harga solar tentunya bahan-bahan material bangunan kita juga pada naik," kata Gede Sada. (*)
Berita lainnya di Harga BBM
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Petugas-mengisi-bahan-bakar-minyak-BBM-jenis-Pertamax-ke-mobil-di-SPBU-Pertamina.jpg)