Hari Raya Galungan
Sehari Sebelum Galungan, Begini Makna Hari Penampahan Besok 16 Juni 2025
Pada Selasa, 16 Juni 2026, Penampahan tidak hanya menyiapkan sarana upacara dan kebutuhan persembahan, tetapi juga menjadi simbol pengendalian diri.
TRIBUN-BALI.COM - Sehari sebelum Hari Raya Galungan, umat Hindu di Bali akan melaksanakan Hari Penampahan sebagai bagian penting dari rangkaian persiapan menyambut kemenangan dharma melawan adharma.
Pada Selasa, 16 Juni 2026, Penampahan tidak hanya dimaknai sebagai waktu untuk menyiapkan sarana upacara dan kebutuhan persembahan, tetapi juga menjadi simbol pengendalian diri serta upaya menaklukkan sifat-sifat negatif dalam diri.
Melalui momentum ini, umat diajak membersihkan lahir dan batin agar lebih siap menyambut Hari Raya Galungan dengan hati yang tulus dan penuh kesucian.
Penampahan Galungan adalah salah satu rangkaian penting dalam perayaan hari raya Galungan bagi masyarakat Bali, yang jatuh sehari sebelum Galungan, tepatnya pada hari Anggara Wage wuku Dunggulan.
Baca juga: VIDEO Rumah di Perumahan Griya Mahadewa Buleleng Jebol Akibat Hujan Deras
Terdekat, Penampahan Galungan dirayakan pada Selasa, 24 September 2024, sebagai momen persiapan rohani dan fisik sebelum perayaan puncak Hari Raya Galungan.
Dalam tradisi Hindu Bali, Penampahan Galungan memiliki makna mendalam yang dijelaskan dalam naskah kuno bernama Lontar Sundarigama .
Menurut Lontar Sundarigama, Penampahan Galungan disebut sebagai hari ketika Sang Bhuta Galungan, perwujudan energi negatif atau kekuatan destruktif, “nadah” atau menerima korban suci berupa Bhuta Yadnya.
Ini dilakukan melalui upacara persembahan caru atau korban suci kepada Bhuta di berbagai tempat, seperti di perempatan desa atau catus pata.
Kekuatan Bhuta Galungan dianggap mewakili unsur-unsur negatif yang ada di dalam diri manusia, yang harus ditaklukkan atau diseimbangkan sebelum memasuki hari suci Galungan.
Upacara Bhuta Yadnya dalam Penampahan Galungan tidak hanya dilakukan di tempat-tempat umum seperti perempatan desa, tetapi juga di rumah masing-masing.
Dalam ritual ini, masyarakat Bali mempersembahkan segehan yang beragam, biasanya terdiri dari tiga warna: putih, merah, dan hitam.
Ketiga warna tersebut mewakili tiga arah penting: timur (putih), selatan (merah), dan utara (hitam).
Persembahan ini ditujukan untuk menjaga keseimbangan alam semesta dan mengusir energi negatif yang mungkin mengganggu keharmonisan hidup.
Segehan ini seringkali dilengkapi dengan lauk berupa olahan babi, minuman suci, dan segehan agung.
Tidak hanya terkait dengan ritual keagamaan, Penampahan Galungan juga merupakan saat bagi masyarakat Bali untuk membersihkan diri, baik secara fisik maupun spiritual.
Membersihkan rumah, pekarangan, serta tempat-tempat suci adalah bagian dari persiapan menjelang Galungan.
Kegiatan ini memiliki makna simbolis, di mana kebersihan lahiriah melambangkan kesiapan batiniah untuk menyambut hari Galungan, yang dipercaya sebagai momen kemenangan dharma (kebaikan) melawan adharma (kejahatan).
Pada hari Penampahan Galungan, keluarga juga mempersembahkan berbagai banten seperti banten pabyakala dan prayascita .
Tujuan dari persembahan ini adalah untuk memohon maaf serta pembersihan dari segala dosa atau kesalahan yang dilakukan, baik secara sadar maupun tidak sadar, dalam kehidupan sehari-hari.
Persembahan ini dianggap sebagai wujud permohonan agar kehidupan menjadi lebih harmonis, penuh berkah, serta dijauhkan dari berbagai kesulitan.
Selain itu, Penampahan Galungan juga ditandai dengan pembuatan penjor , sebuah tiang bambu yang dihiasi dengan janur, buah-buahan, padi, dan berbagai hiasan lainnya.
Penjor memiliki simbolisasi yang kuat dalam tradisi Bali, sebagai perlambang Gunung Agung , tempat bersemayamnya Bhatara Mahadewa , dewa pelindung dan pemberi kemakmuran.
Pemasangan penjor di depan rumah-rumah merupakan tanda penghormatan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas berkah dan karunia yang telah diberikan.
Penampahan Galungan termasuk dalam hari penting dalam tradisi Hindu Bali, di mana masyarakat tidak hanya melakukan persiapan fisik untuk menyambut hari Galungan, tetapi juga melakukan berbagai ritual keagamaan untuk menjaga keseimbangan spiritual.
Upacara Bhuta Yadnya, pembuatan penjor, serta membersihkan diri dan lingkungan, semuanya merupakan bagian dari proses penyucian dan perayaan kemenangan dharma atas adharma , yang menjadi inti dari perayaan Galungan itu sendiri.
(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/babi-rswgvewrg.jpg)