Sampah di Bali
Volume Sampah Ke TPA Bangli Bali Berkurang 3 Ton, DLH Optimalisasi Berbasis Sumber
Ganda Wijaya menambahkan, saat ini sampah yang masuk ke TPA tidak hanya berupa residu, tetapi masih didominasi sampah organik.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Penerapan pengelolaan sampah berbasis sumber di Kabupaten Bangli, Bali, mulai menunjukkan hasil.
Sejak diberlakukannya kebijakan tersebut, terjadi penurunan volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) mencapai 3 ton per hari.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bangli, I Putu Ganda Wijaya, Selasa 14 April 2026 mengungkapkan, bahwa sebelumnya volume sampah yang masuk ke TPA mencapai 74 ton per hari.
Namun, setelah adanya pengelolaan berbasis sumber seperti teba modern, komposter, serta kerja sama dengan pihak ketiga, jumlah tersebut berkurang menjadi 71 ton per hari.
Baca juga: Lahan Sempit dan Sampah Menumpuk, Warga Denpasar Bali Bawa Sampah Organiknya Pulang Kampung
“Sejak ada kebijakan pengelolaan sampah berbasis sumber yang ditindaklanjuti Pemkab Bangli dalam rangka efektivitas pengelolaan sampah, besaran dari penurunan volume sampah yang masuk ke TPA per hari sampai 3 ton,” ujarnya.
Ganda Wijaya menambahkan, saat ini sampah yang masuk ke TPA tidak hanya berupa residu, tetapi masih didominasi sampah organik.
Meski demikian, ia bersyukur karena terdapat perubahan komposisi jenis sampah yang dikelola di tingkat sumber.
“Sampah anorganik yang masuk ke TPA kita saat ini berkurang signifikan, karena sudah dikelola di pengelolaan sampah berbasis sumber itu,” jelasnya.
Ke depan, DLH Bangli menargetkan agar TPA hanya menerima sampah residu sesuai amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.
Dengan optimalisasi pengelolaan di sumber, penanganan sampah organik maupun anorganik telah selesai di sana.
"Ke depan kita hanya menerima sampah residu, sementara sampah organik dan anorganik telah selesai di sumbernya," ujar Ganda Wijaya.
Dalam mendukung upaya tersebut, sosialisasi terus digencarkan ke masyarakat.
DLH Bangli juga telah membentuk tim komunikasi dan edukasi pada tahun 2026, yang melibatkan unsur internal, tokoh masyarakat, hingga pemerhati pariwisata.
Tim ini menyasar desa, kelurahan, hingga banjar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah.
“Sosialisasi saat ini menyasar pemahaman masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah, setelah pemahaman meningkat baru akan ada perubahan menteri sosialisasi, seperti bagaimana mengelola sampah,” tegasnya. (*)
Kumpulan Artikel Bangli
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Volume-Sampah-Ke-TPA-Bangli-Bali-Berkurang-3-Ton-DLH-Optimalisasi-Berbasis-Sumber.jpg)