Galungan dan Kuningan
Jaga Tradisi dan Budaya Leluhur, Semeton Dadia Dalem Tarukan di Bangli Bali Gelar Mepatung
Pelaksanaan mepatung dilakukan menjelang Galungan dan Kuningan. Wadah untuk menjaga hubungan pasemetonan.
Penulis: I Wayan Eri Gunarta | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Di tengah perkembangan zaman dan kesibukan masyarakat, tradisi mepatung masih terus dijaga oleh pasemetonan Pura Dadia Dalem Tarukan di Banjar Tegal Bebalang, Kabupaten Bangli, Bali.
Tradisi warisan leluhur ini dilaksanakan sebagai bentuk upaya menjaga budaya sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan menjelang Hari Raya Galungan dan Kuningan.
Kelian Dadia Pura Dalem Tarukan, Banjar Tegal Bebalang, Putu Gede Pertama Pujawan, Selasa 16 Juni 2026 mengatakan, kegiatan mepatung atau pembagian daging babi tersebut merupakan inisiatif bersama para semeton yang sudah berjalan hampir satu dekade.
Menurutnya, dahulu tradisi mepatung dilakukan oleh masing-masing keluarga di rumah masing-masing.
Baca juga: 34 Ucapan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan 2026: Semoga Kedamaian Senantiasa Menyertai Hidup
Namun seiring waktu, sebagian warga mulai meninggalkan tradisi tersebut dan memilih membeli daging secara kiloan karena alasan kepraktisan.
“Awalnya mepatung dilakukan di masing-masing rumah. Akan tetapi, ada beberapa yang sudah berhenti dan memilih membeli daging kiloan. Dari sana kami menginisiasi bersama semeton bagaimana tradisi mepatung yang sudah diwarisi dari leluhur ini bisa tetap dipertahankan,” ujar Pujawan.
Ia menjelaskan, pelaksanaan mepatung secara bersama-sama dilakukan menjelang Galungan dan Kuningan.
Selain sebagai bagian dari persiapan upacara, kegiatan tersebut juga menjadi wadah untuk menjaga hubungan pasemetonan.
“Kita mepatung secara massal tujuannya adalah melestarikan tradisi dan budaya yang kita warisi,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, warga secara bersama-sama melakukan proses pengolahan daging babi secara tradisional. Setelah seluruh rangkaian selesai, hasil olahan kemudian dinikmati bersama dalam suasana kebersamaan.
Pujawan menyampaikan, kegiatan ini tidak hanya mempertahankan tradisi, tetapi juga memperkuat nilai gotong royong antar semeton.
“Astungkara, dengan adanya kegiatan yang mempererat pasemetonan ini, sekarang gotong royong tetap terjaga dengan baik. Kita akan tetap pertahankan tradisi seperti ini,” ungkapnya.
Ia berharap tradisi mepatung tetap bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.
Menurutnya, di tengah perubahan zaman dan padatnya aktivitas masyarakat, keberadaan tradisi seperti ini menjadi penting agar budaya Bali tetap hidup.
“Harapan kami, tradisi dan budaya di tengah kesibukan tetap bisa dipertahankan. Salah satunya melalui mepatung, karena selain menjaga budaya, kita juga bisa berkumpul, bercengkrama, dan mempererat hubungan antar semeton,” pungkasnya. (*)
Kumpulan Artikel Bangli
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Jaga-Tradisi-dan-Budaya-Leluhur-Semeton-Dadia-Dalem-Tarukan-di-Bangli-Bali-Gelar-Mepatung.jpg)