Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bisnis

JAMIN Harga Beras Stabil, Bulog Pastikan Tidak Ada Kenaikan, Tak Terpengaruh Biaya Kemasan Melonjak!

Menurutnya, kenaikan harga plastik menjadi isu yang dirasakan hampir seluruh sektor industri, termasuk sektor pangan.

Tayang:
Tribun Bali/KONTAN/BAIHAKI
STOK BERAS – Pekerja menata beras di gudang Perum Bulog. 

TRIBUN-BALI.COM -  Harga sejumlah kebutuhan pokok kembali bergerak pada Selasa (14/4). Data dari Bank Indonesia melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) menunjukkan cabai rawit merah masih menjadi komoditas dengan harga tinggi.  

Sedangkan harga komoditas pangan kelompok beras diklaim stabil. Harga beras kemarin, di tingkat pedagang eceran berdasarkan data PIHPS seperti dilansir Kompas TV yaitu beras kualitas bawah I seharga Rp14.550 per kilogram (kg). Beras kualitas bawah II senilai Rp14.550 per kg, beras medium I Rp16.050 per kg, beras medium II  Rp15.900 per kg, dan beras super I seharga Rp17.300 per kg serta beras super II Rp16.850 per kg.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan tidak akan ada kenaikan harga beras meskipun biaya produksi meningkat akibat lonjakan harga plastik kemasan. Rizal mengatakan keputusan tersebut merupakan hasil kesepakatan dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara beberapa waktu lalu.

“Sesuai dengan arahan Presiden saat rapat di istana kemarin memang sudah diputuskan tidak ada kenaikan pangan termasuk harga beras,” kata Rizal dalam konferensi pers di kantornya, Senin (13/4).

Baca juga: TRANSAKSI Kartu Kredit Tumbuh pada Kuartal I-2026, Simak Alasannya

Baca juga: PENCARIAN Antari 3 Minggu Tanpa Kabar, Gadis Asal Kusamba Dilaporkan Hilang oleh Keluarga

Rizal menegaskan langkah ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian situasi global yang dapat memicu tekanan inflasi.

Menurutnya, kenaikan harga plastik menjadi isu yang dirasakan hampir seluruh sektor industri, termasuk sektor pangan. Namun Bulog berupaya agar kenaikan biaya kemasan tidak dibebankan kepada masyarakat melalui kenaikan harga jual beras.

Untuk itu, Bulog telah berkoordinasi dengan Kementerian Perindustrian agar mendapatkan keringanan kebijakan yang dapat membantu industri tetap berjalan, tanpa mengurangi kualitas produksi maupun menaikkan harga di tingkat konsumen.

“Kita juga sudah rapat direksi, HPS-nya (Harga Perkiraan Sendiri) disesuaikan dengan kondisi sekarang, namun dengan harga yang betul-betul ditekan supaya cost tidak terlalu tinggi,” lanjut Rizal.

Menteri Perdagangan Budi Santoso sebelumnya menjelaskan, kenaikan harga plastik terjadi karena pasokan bahan baku biji plastik terganggu. Selama ini, Indonesia masih mengimpor bahan baku utama berupa nafta dari kawasan Timur Tengah. Gangguan pasokan tersebut terjadi akibat situasi konflik geopolitik yang berdampak pada rantai pasok global.

“Kan memang kita itu impor bahan bakunya untuk biji plastik itu kan nafta yaitu dari Timur Tengah selama ini. Karena imbas perang sehingga terganggu,” ujar Budi kepada awak media di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (13/4).

Sebagai langkah antisipasi, Kementerian Perdagangan telah menjalin komunikasi dengan sejumlah negara lain guna mencari sumber pasokan bahan baku alternatif. Beberapa negara yang sedang dijajaki antara lain India, Amerika Serikat, serta sejumlah negara di kawasan Afrika. 

Budi mengatakan proses pengadaan dari negara alternatif tersebut sudah berjalan. Namun, pengalihan pasokan membutuhkan waktu karena berkaitan dengan proses pengiriman, kesiapan suplai, serta penyesuaian jalur distribusi. “Jadi pada prinsipnya kita cari solusi negara lain yang menyuplai bahan baku,” katanya. (kontan)
Jajaki Peluang Ekspor ke Malaysia

Pemerintah mengklaim tengah menjajaki peluang ekspor 200.000 ton beras ke Malaysia. Hal itu ditegaskan langsung oleh Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam Konferensi Pers Realisasi Pendanaan Penyerapan Gabah/Beras Petani di Kantor Perum Bulog, Senin (13/4). 

Menurut Rizal, rencana ini dilakukan usai otoritas Malaysia meminta langsung permintaan beras dari Indonesia. “Kemarin salah satu direktur kami diminta berangkat ke Malaysia karena mereka ada permintaan beras tidak kurang dari 200.000 ton,” kata Rizal. 

Menurut Rizal, permintaan ini sekaligus membuktikan bahwa Indonesia berhasil mencapai cadangan beras tertinggi. Dia mengklaim per Senin (13/4), stok beras Bulog mencapai 4,7 juta ton. Menurutnya, jumlah ini terus bertambah seiring dengan berlangsungnya panen raya di beberapa kawasan sentra produksi. 

Sumber: Kontan
Halaman 1/2
Tags
beras
Bulog
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved