Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

BBM Naik

Kinerja Industri Pelayaran Tertekan Harga BBM Naik 150 Persen 

Bahkan, peningkatan harga bahan bakar tercatat berada di kisaran 50% hingga 83%, dengan potensi kenaikan lebih lanjut hingga 150%.

Tribun Bali/ISTIMEWA/ELPI
BATU BARA – Kapal Bulk Carrier atau Kapal Curah MV Maharaja Nusantara S01 yang dikelola PT Elpi Nusantara Armada (ENA) saat bongkar muat batu bara di lepas pantai (offshore) wilayah perairan Indonesia Timur atau Kalimantan. 

TRIBUN-BALI.COM - Kinerja industri pelayaran di Indonesia mengalami tekanan seiring dengan kenaikan biaya operasional akibat lonjakan harga bahan bakar pada awal 2026. Satu di antaranya PT Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari Tbk (ELPI).

Corporate Secretary ELPI Wawan Heri Purnomo mengungkapkan, sejak awal tahun ini perseroan mencatat kenaikan biaya operasional, khususnya pada komponen bahan bakar yang bersifat fluktuatif.

Bahkan, peningkatan harga bahan bakar tercatat berada di kisaran 50 persen hingga 83 % , dengan potensi kenaikan lebih lanjut hingga 150 % .

“Di mana terdapat peningkatan harga bahan bakar dari 50 % -83?hkan terdapat informasi potensi kenaikan hingga 150 % . Sedangkan kenaikan biaya operasional berkisar pada 20 % -30 % ,” ujar Wawan, pekan lalu.

 

Baca juga: RAIB Kotak Emas & 2 Celengan Senilai Rp253 Juta Kagetkan Ayu, Digondol Pekerja Serabutan di Bangli!

Baca juga: KERIS Kuno Dipamerkan Saat Hari Puputan Klungkung, Jumlahnya Ratusan dari Berbagai Sumber

 

Ia melanjutkan, kondisi ini sejalan dengan dinamika global, termasuk pengaruh ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang secara tidak langsung berdampak terhadap pergerakan harga minyak dunia. Tekanan yang terjadi dinilai cukup signifikan bagi kinerja ELPI di periode kuartal I-2026. 

Di mana kinerja keuangan terdapat potensi mengalami penyesuaian yang sejalan dengan perubahan pendekatan bisnis yang dilakukan perusahaan, khususnya pada segmen drybulk.  

Data kinerja ELPI menunjukkan bahwa segmen drybulk masih menjadi salah satu kontributor utama pendapatan perusahaan. Berdasarkan kinerja tahun 2025, segmen drybulk memberikan kontribusi sebesar 41 % terhadap total pendapatan perseroan.

“Adanya faktor geopolitik di Timur Tengah memberikan pengaruh pada segmen bisnis drybulk yaitu pada harga minyak yang mengalami kenaikan dimana hal tersebut memberikan naiknya biaya operasional,” katanya. 

Namun, perusahaan masih memaksimalkan dan melakukan efisiensi operasional agar kenaikan harga minyak yang berimbas pada biaya operasional dapat ditekan. 

Dari sisi operasional, aktivitas ELPI diklaim tetap berjalan dengan lancar dan stabil tanpa kendala yang bersifat material, sehingga keberlangsungan bisnis secara keseluruhan berjalan dengan baik di tengah tantangan yang terjadi saat ini. 

Manajemen berharap pergerakan fluktuatif harga bahan bakar ini bersifat sementara dan akan membaik di kuartal kedua, sehingga kinerja akan terus terjaga dan berpotensi mengalami perbaikan.

“Dengan pengelolaan kontrak yang disiplin serta pendekatan operasional yang efisien dan peran Pemerintah dalam menjaga stabilitas harga minyak industri (bahan bakar kapal), Perseroan tetap optimis dapat menjaga stabilitas kinerja di tengah fluktuasi harga minyak,” papar Erwin. 

Sepanjang 2025, ELPI tercatat membukukan pendapatan sebesar Rp1,01 triliun, dengan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp213,30 miliar. (kontan)

Sumber: Kontan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved