Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

bisnis

RUPIAH Rontok di Level Rp 17.529 Per Dolar AS, Rekor Nilai Tukar Terlemah Sepanjang Masa

Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina sebesar 0,56%. Baht Thailand melemah 0,4%. Dolar Singapura melemah 0,36%.

Tayang:
Penulis: Kambali | Editor: Anak Agung Seri Kusniarti
Tribun Bali/TRIBUNNEWS/JEPRIMA
UANG PECAHAN - Pegawai menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di money changer DolarAsia, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu. Nilai tukar rupiah di level Rp 17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5). 

TRIBUN-BALI.COM - Nilai tukar rupiah rontok terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Selasa (12/5). Kurs rupiah di pasar spot melemah tajam Rp 115 atau 0,66 persen menjadi Rp 17.529 per dolar AS. Kurs rupiah Jisdor pun melemah Rp 99 atau 0,57 % menjadi Rp 17.514 per dolar AS. 

Pelemahan nilai tukar rupiah ini adalah rekor baru rupiah paling lemah sepanjang masa. Ini juga merupakan pelemahan paling tajam rupiah dalam hampir dua pekan terakhir.

Kenaikan harga minyak memicu kekhawatiran atas inflasi, defisit fiskal, dan pasokan energi. Kekhawatiran ini telah muncul beberapa bulan terakhir di tengah laporan pertumbuhan ekonomi yang mencapai 5,6 % . 

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, berpandangan pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik yang masih membebani pasar keuangan Indonesia. 

Baca juga: LPG Oplosan dari Karangasem Diduga Dikirim Hingga NTB

Baca juga: STATUS Guru Non-ASN Dihapus 2027, Kemendikdasmen Pastikan Tak Ada PHK Massal, Simak Alasannya!

NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan tumpukan mata uang dolar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta, Kamis (5/3) kemarin.  Nilai tukar rupiah di level Rp 17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5).
NILAI TUKAR RUPIAH - Petugas merapikan tumpukan mata uang dolar di Kantor Cabang Muamalat Tower, Jakarta, Kamis (5/3) kemarin.  Nilai tukar rupiah di level Rp 17.529 per dolar AS pada Selasa (12/5). (Tribun Bali/TRIBUNNEWS/JEPRIMA)

Dari eksternal, Ibrahim menyoroti memanasnya kembali tensi geopolitik di Timur Tengah. Negosiasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri konflik dinilai masih rapuh setelah muncul berbagai perbedaan tuntutan di kedua belah pihak.

“Pada saat yang sama, hanya beberapa hari sebelum pertemuan Trump yang direncanakan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, Washington menjatuhkan sanksi kepada tiga individu dan sembilan perusahaan, termasuk perusahaan yang berbasis di Hong Kong, Uni Emirat Arab, dan Oman, karena memfasilitasi pengiriman minyak Iran ke Tiongkok,” jelas Ibrahim, seperti dilansir Kontan.co.id. Selasa (12/5).

Secara terpisah, Wall Street Journal melaporkan pada hari Senin bahwa UEA melakukan serangan militer terhadap Iran, termasuk serangan pada awal April yang menargetkan kilang minyak di Pulau Lavan, Iran. UEA belum secara terbuka mengakui serangan tersebut.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 % secara tahunan belum cukup kuat menopang rupiah. Menurut dia, pertumbuhan tersebut lebih dipengaruhi efek basis rendah atau base effect karena pembanding tahun sebelumnya relatif lemah.

“Angka 5,61 % terlihat tinggi bukan karena ekonomi tiba-tiba maju pesat, tapi karena kita membandingkannya dengan titik yang memang sedang rendah. Dalam pelajaran statistik, ini namanya base effect, atau efek basis,” jelasnya.

Ia menambahkan, pasar juga masih mengkhawatirkan kondisi fiskal domestik. Ketidakpastian arah kebijakan royalti tambang serta belum jelasnya strategi peningkatan pendapatan negara di tengah besarnya kebutuhan belanja pemerintah dinilai menambah tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, pelaku pasar turut mencermati pengumuman dari MSCI terkait potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks global yang dapat memicu arus keluar modal asing dari pasar domestik.

Sementara itu, Bank Indonesia menyatakan tetap proaktif dalam menstabilkan rupiah. Bank Indonesia sekarang diprediksikan mengerek suku bunga acuan BI Rate sebesar 25 basis points dalam rapat dewan gubernur pada 20 Mei mendatang.

Namun Rupiah tidak sendirian, mayoritas mata uang Asia melemah. Won Korea adalah satu-satunya mata uang dengan persentase pelemahan yang lebih besar ketimbang rupiah, yakni 1,21?lam sehari.

Pelemahan juga terjadi pada peso Filipina sebesar 0,56 % . Baht Thailand melemah 0,4 % . Dolar Singapura melemah 0,36 % . Rupee India melemah 0,34 % . Dolar Taiwan melemah 0,28 % . Ringgit Malaysia melemah 0,25 % . 

Yen Jepang melemah 0,25 % . Dolar Hong Kong melemah 0,006 % .  Hanya yuan China yang mampu menguat 0,04 % terhadap dolar AS. Indeks dolar yang mencerminkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama dunia menguat 0,30 % menjadi 98,25.

Untuk perdagangan Rabu (13/5), Ibrahim mengatakan pasar akan fokus pada rilis data inflasi Amerika Serikat (AS), khususnya indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI), yang dapat memengaruhi ekspektasi arah suku bunga Federal Reserve.

Ibrahim memproyeksikan rupiah pada perdagangan Rabu (13/5) akan bergerak di kisaran Rp 17.520 hingga Rp 17.580 per dolar AS. (ali)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved