Sampah di Bali
Hasil Survei, 30 Persen Warga Denpasar Bali Sudah Lakukan Pemilahan Sampah Dari Rumah
Hasil survey menunjukkan 25,8 persen warga yang memiliki akses ke fasilitas pengelolaan sampah yang benar-benar aktif di lingkungannya.
Penulis: Putu Supartika | Editor: Putu Dewi Adi Damayanthi
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Pemkot Denpasar bekerja sama dengan Universitas Udayana menggelar survei tentang pemilahan sampah yang dilakukan oleh warga Denpasar.
Dari hasil survei, 30 persen warga telah memilah sampah di sumbernya.
"Kami lakukan survei, 30 persen warga di Denpasar sudah mulai memilah sampah. Jumlah ini cukup tinggi. Ini harus dijaga agar tidak hilang," kata Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara.
Sementara itu, sebanyak 53,8 persen warga menyatakan baru memilah sampah secara kadang-kadang.
Baca juga: Wali Kota Denpasar Temui Swakelola Sampah & Pengelola TPS3R, Maksimalkan Pengelolaan Berbasis Sumber
Sementara 15,8 persen lainnya mengaku tidak pernah memilah sampah sama sekali.
Selain itu, survei juga dilakukan untuk ketersediaan fasilitas pengelolaan sampah.
Hasil survey menunjukkan 25,8 persen warga yang memiliki akses ke fasilitas pengelolaan sampah yang benar-benar aktif di lingkungannya.
Lalu sebanyak 25,5 persen warga menyebut fasilitas tersedia namun tidak aktif.
Dan 29,3 persen warga bahkan menyatakan tidak ada fasilitas pengelolaan sampah di wilayah mereka.
Terkait operasional pengangkutan, survei menunjukkan bahwa performa petugas cukup terlihat oleh publik.
Sebanyak 54,5 persen responden mengaku pernah melihat langsung proses pengangkutan sampah.
Namun, 45 persen sisanya mengaku tidak pernah melihat proses tersebut, yang kemungkinan disebabkan oleh perbedaan waktu pengangkutan atau lokasi tempat tinggal.
Meski layanan pengangkutan berjalan, gangguan akibat tumpukan sampah masih dirasakan oleh sebagian warga.
Tercatat 12 persen warga mengaku sering terganggu oleh tumpukan sampah, sementara mayoritas atau 42 persen warga menyatakan gangguan tersebut terjadi kadang-kadang.
Untuk penanganan sampah di Denpasar, Jaya Negara mengatakan pihaknya melakukan pengadaan mesin dengan kapasitas 500 ton.
Mesin ini ditarget beroperasi penuh pada bulan Juli 2026.
"500 ton tapi itu bulan Juli baru, artinya sampai bulan Juli baru bisa operasional," paparnya.
Mesin tersebut akan dipasang dengan kapasitas 200 ton di TPST Tahura 2, 100 ton Tahura 1, dan 200 ton lagi satu di Kesiman Kertalangu.
"Tapi kami harus sosialisasi dulu yang di Kertalangu ini," imbuhnya.
Sementara terkait dengan penutupan TPA Suwung, Jaya Negara bersama Gubernur Bali dan Bupati Badung akan menemui Menteri LH pada 20 Februari 2026.
Sebelumnya, sempat akan bertemu pada 16 Februari, namun dijadwalkan ulang. (*)
Kumpulan Artikel Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/tumpukan-sampah-di-kos-di-Denpasar-78.jpg)