Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Denpasar

PKB Tahun 2026, Denpasar Absen Drama Gong, Regenerasi Jadi Kendala

Selama ini, Denpasar dikenal tidak pernah absen menampilkan kesenian drama gong dalam PKB.

Tayang:
Penulis: Putu Supartika | Editor: Aloisius H Manggol
Istimewa
Penampilan duta Denpasar dalam PKB sebelumnya. Dalam PKB Tahun 2026, Denpasar Bali Absen Drama Gong, Regenerasi Jadi Kendala 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam Pesta Kesenian Bali (PKB) 2026 ini, Kota Denpasar tak mengirim duta drama gong.

Hal ini dikarenakan permasalahan regenerasi seniman drama gong.

Selama ini, Denpasar dikenal tidak pernah absen menampilkan kesenian drama gong dalam PKB.

Kepala Bidang Kesenian Kota Denpasar, I Wayan Narta mengatakan, absennya drama gong tahun ini terkait persoalan regenerasi seniman yang menjadi hambatan utama untuk mempertahankan eksistensi seni pertunjukan klasik tersebut.

Baca juga: Libur Kenaikan Yesus Kristus, Penyeberangan Sanur ke Nusa Penida dan Lembongan Capai 6 Ribu per Hari

"Selama ini pemainnya itu-itu saja. Regenerasi menjadi tantangan besar untuk melahirkan bibit-bibit seniman baru, khususnya di drama gong," katanya.

Menurutnya, drama gong membutuhkan kemampuan kompleks, mulai dari olah dialog, kemampuan menembang, improvisasi, hingga penguasaan karakter tradisional Bali. 

Baca juga: Bukan Penyelewengan, Koster Beberkan Sebab Pungutan Wisman Rp150 Ribu Belum Optimal

Minimnya generasi muda yang tertarik mendalami kesenian tersebut membuat Denpasar akhirnya memilih tidak memaksakan diri mengirim duta pada PKB tahun ini.


Meski demikian, Denpasar tetap menunjukkan komitmennya dalam pelestarian seni budaya Bali. 


Pada Pesta Kesenian Bali, Kota Denpasar tercatat mengirim sebanyak 21 materi dan kegiatan kesenian yang akan tampil di berbagai panggung PKB.


Pemkot Denpasar tahun ini lebih menitikberatkan pengiriman duta berdasarkan akar historis dan kekuatan seni yang memang tumbuh di desa adat tertentu. 


Salah satunya adalah pengiriman duta Arja klasik khas Banjar Bukit Buwung, Desa Adat  Kesiman Petilan.


Menurut Wayan Narta, keberadaan seni arja di kawasan Kesiman memiliki jejak sejarah yang kuat. 


Bahkan, sejumlah atribut dan perlengkapan kesenian lama seperti gelungan arja masih tersimpan dan kembali diangkat sebagai bagian dari upaya revitalisasi seni tradisi.


"Secara historis memang ada kesenian Arja di desa tersebut. Itu yang sekarang kami angkat kembali," katanya.


Arja sendiri merupakan salah satu seni dramatari klasik Bali yang memadukan unsur tembang, dialog, tari, dan lawakan. 

Sumber: Tribun Bali
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved