Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Berita Jembrana

TAK ADA AKSES LAIN! Warga Pendem Jembrana Terpaksa Lintasi Jembatan Bambu Rawan Ambruk

TAK ADA AKSES LAIN! Warga Pendem Jembrana Terpaksa Lintasi Jembatan Bambu Rawan Ambruk

Istimewa
Warga di Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana terpaksa melintasi jembatan bambu yang rawan ambruk untuk aktivitas, berangkat kerja hingga sekolah, Rabu 3 Desember 2025. Akses Utama Aktivitas, Warga Lintasi Jembatan Bambu Rawan Ambruk di Jembrana Bali, Harapkan Bantuan 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Sejumlah warga nampak sangat berhati-hati saat melintas jembatan bambu di atas sungai wilayah Kelurahan Pendem, Kecamatan Jembrana, Rabu 3 Desember 2025.

Adalah jembatan alternatif rawan ambruk yang sudah difungsikan belasan KK wilayah setempat sejak beberapa tahun lalu. 

Warga berharap, pemerintah bisa membantu membuatkan jembatan yang lebih layak atau bahkan permanen untuk menjamin keselamatan jangka panjang warga sekitar. Mengingat jembatan ini jadi akses utama untuk melakukan aktivitas sehari-hari juga digunakan siswa dari jenjang TK hingga SMA untuk sekolah.

Baca juga: SELAMAT JALAN Bayu, Niat Baik Berubah Jadi Petaka di Pekutatan Jembrana, Alami Luka Berat

Menurut informasi yang diperoleh, jembatan darurat tersebut menjadi akses utama sebanyak 15 KK menuju tempat tinggalnya. Jembatan ini kerap ambruk dan hanyut ketika terjadi air bah. Beberapa kali air bah terjadi sempat menghancurkan jembatan tersebut sehingga warga secara swadaya memperbaiki atau membangun kembali akses berbahan bambu tersebut.

Jika rusak atau hanyut,warga yang hendak melakukan aktivitas diluar rumah nekat harus menyeberangi sungai. Disisi lain, warga setempat harus swadaya untuk membangun kembali jembatan bambu tersebut.

Baca juga: HITUNGAN DETIK! Satu Keluarga Meninggal Dunia di Ungasan, Sang Ayah Sempat Lakukan Hal ini

"Kami setiap hari lewat jembatan ini, termasuk siswa yang mau ke sekolah. Kalau dibilang takut, ya takut juga, tapi mau gimana lagi," ungkap salah satu warga, Komang Suryadi.


Menurutnya, ketika melintas jembatan ini harus ekstra sabar. Sebab, penggunaannya harus bergiliran atau hanya digunakan satu orang saja. Hal ini untuk antisipasi kemungkinan terburuk misalnya ambruk ketika digunakan secara bersama-sama. Mengingat beban berat tak memungkinkan ditopang oleh Jembrana bambu tersebut. 


"Kami harap nantinya jembatan ini diperbaiki. Minimal hanya untuk perjalanan kaki atau kalau bisa untuk kendaraan juga bisa lewat," harapnya. 


Terpisah, Kepala Lingkungan Pendem, Nyoman Nala mengakui jembatan bambu tersebut menjadi akses satu-satunya bagi belasan KK. Jembatan tersebut sangat vital karena jadi akses utama untuk menuju tempat kerja bagi warga dan juga ke sekolah.


"Setiap hari memang banyak warga yang melintasi jembatan ini dan ini merupakan akses jalan satu-satunya. Kalaupun ada akses jalan lain warga harus melewati rumah-rumah penduduk," ungkapnya. 


Selama ini, kata dia, pihaknya sudah berupaya untuk mengusulkan bantuan pembangunan jembatan misalnya jembatan permanen kepada pemerintah. Namun, sampai saat ini masih belum bisa direalisasikan. 


"Kami sudah berupaya beberapa kali mengusulkan bantuan. Namun, sampai saat ini belum juga ada realisasinya. Berapa kali kalau banjir atau air bah, jembatan ini seringkali hanyut terbawa banjir nah warga seringkali juga terus memperbaiki jembatan ini saat jembatan tersebut hanyut terbawa banjir sehingga bambu yang ada di sekitar sungai ini hampir habis," jelasnya.


"Kami harap bisa diperhatikan karena jadi akses utama," harapnya.

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved