Seputar Bali
Menelisik Kedaruratan Radang Usus Buntu, Ketika Sesuatu yang Kecil Mengancam Nyawa
Di dalam rongga perut, terdapat sebuah organ kecil berbentuk kantung silinder berukuran sekitar 5 hingga 10 sentimeter yang melekat pada usus besar.
Penulis: Zaenal Nur Arifin | Editor: Ngurah Adi Kusuma
Laporan Wartawan Tribun Bali, Zaenal Nur Arifin
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Di dalam rongga perut manusia, terdapat sebuah organ kecil berbentuk kantung silinder berukuran sekitar 5 hingga 10 sentimeter yang melekat pada usus besar. Organ ini dikenal sebagai umbai cacing atau apendiks.
Selama bertahun-tahun, fungsinya sering kali dianggap sepele, namun ketika organ kecil ini mengalami peradangan—kondisi yang secara medis disebut Appendisitis atau radang usus buntu—ia bisa berubah menjadi bom waktu yang mengancam nyawa pasien.
“Berdasarkan data klinis epidemiologi global, appendisitis akut tetap menempati urutan teratas sebagai penyebab paling umum dari kasus nyeri perut akut yang memerlukan tindakan bedah darurat (acute abdomen),” ujar dr. Christopher Y. P. Kairupan, Rabu 3 Juni 2026.
Lalu mengapa usus buntu bisa meradang?
Baca juga: Akhiri Masa Lajang, Kadek Arel Resmi Nikahi Kania Andjani, Kenakan Baju Adat Bali Modern
Menurutnya, peradangan pada apendiks tidak terjadi begitu saja.
Secara anatomis, rongga dalam apendiks (lumen) sangat sempit.
Appendisitis umumnya dipicu oleh adanya sumbatan pada lumen tersebut.
Penyebab sumbatan ini bervariasi, antara lain:
• Fekalit: Pengerasan feses atau kotoran yang menyumbat pintu masuk apendiks.
• Hiperplasia Limfoid: Pembengkakan jaringan limfa di dinding usus, sering kali dipicu oleh infeksi virus atau bakteri saluran cerna.
• Benda Asing atau Tumor: Meskipun lebih jarang terjadi, akumulasi materi asing yang tidak tercerna dengan baik dapat menyumbat saluran ini.
“Ketika lumen tersumbat, bakteri yang secara alami hidup di dalam usus akan terperangkap dan berkembang biak dengan sangat cepat,”
Baca juga: KRONOLOGI LENGKAP Anak SMP Tewas di Jembrana, Ceburkan Diri Hingga Tenggelam
“Akibatnya, apendiks membengkak, dipenuhi nanah, dan mengalami peningkatan tekanan intra-luminal yang mengganggu aliran darah,” jelas dr. Christopher.
Jika dibiarkan tanpa penanganan medis dalam waktu 24 hingga 48 jam, dinding apendiks akan mengalami nekrosis (kematian jaringan) dan berujung pada perforasi (pecah usus buntu).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/Kondisi-ilustrasi-radang-usus-buntu-yang-diperlihatkan-melalui-alat-peraga.jpg)