Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

BBM Naik

4 PAKET Perbaikan Jalan Tender Ulang, Harga Aspal Naik Tajam, Imbas Perang Timur Tengah

Kedua proyek tersebut adalah ruas jalan Sampalan-Kampung Toyapakeh dan Lembongan-Klatak, yang kontraknya dijadwalkan segera ditandatangani.

Tayang:
Tribun Bali/DOK TRIBUN BALI
PERBAIKAN JALAN - Proses perbaikan jalan di Nusa Penida. 

TRIBUN-BALI.COM - Empat paket proyek perbaikan jalan di Kecamatan Nusa Penida harus ditender ulang. Hal ini lantaran lonjakan harga material, khususnya aspal dan solar industri, yang membuat nilai proyek dinilai tak lagi sesuai.

Kondisi ini dipicu oleh dampak ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang berimbas pada kenaikan harga energi dan material konstruksi. Akibatnya, para kontraktor enggan mengajukan penawaran karena khawatir merugi.

Empat paket proyek yang gagal tender tersebut memiliki total nilai mencapai Rp 32,5 miliar. Rinciannya meliputi perbaikan ruas jalan Telaga-Desa Klumpu senilai Rp 6 miliar, ruas Pertigaan Desa Batumadeg-Desa Batukandik senilai Rp 9 miliar, ruas Desa Suana-Desa Pejukutan dan sekitarnya senilai Rp 15 miliar, serta perbaikan jalan di Dusun Cemelagi senilai Rp 2,5 miliar.

Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Klungkung, Gede Mertajaya, mengatakan selain empat paket yang gagal tender, terdapat tiga paket pekerjaan lain yang sementara ditunda. Penundaan dilakukan untuk menyesuaikan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dengan kondisi pasar terkini.

Baca juga: ATASI Timbunan Sampah TPA Tabanan, PT Aksara Cristy Legal Tawarkan Teknologi Pirolisis Solusi Aksara

Baca juga: STOP Pencarian Made Dibya, Lansia yang Hilang di Gunung Batukaru, Simak Keterangan Basarnas Bali! 

“Ada juga tiga paket lagi yang kami tunda, kalau dipaksakan tender dikhawatirkan tidak ada yang menawar,” ujarnya, Minggu (3/5).

Sementara itu, dua paket pekerjaan lainnya tetap berjalan karena proses tender dilakukan sebelum lonjakan harga terjadi. Kedua proyek tersebut adalah ruas jalan Sampalan-Kampung Toyapakeh dan Lembongan-Klatak, yang kontraknya dijadwalkan segera ditandatangani.

Mertajaya menjelaskan, kenaikan harga material pasca monflik di Timut Tengah menjadi faktor utama tender ulang. Harga aspal melonjak dari Rp 15.500 per liter menjadi Rp 20.000 per liter. 

Sementara solar industri naik drastis dari Rp 18.000 menjadi Rp 32.000 per liter. Selain itu, biaya mobilisasi material ke wilayah kepulauan juga turut memperbesar beban operasional.

Pihaknya kini telah melakukan survei ulang harga pasar untuk menyusun kembali HPS yang lebih relevan. Namun, penyesuaian tersebut berkonsekuensi pada pengurangan volume pekerjaan.

“Sebagai dampak penyesuaian HPS, pasti akan ada pengurangan volume pekerjaan,” tegasnya.

Setelah dokumen rampung, proyek-proyek tersebut akan kembali ditenderkan melalui Bagian Pengadaan Barang dan Jasa. Meski sempat terkendala, Mertajaya optimistis seluruh pekerjaan masih bisa diselesaikan tepat waktu.

Proyek-proyek tersebut didanai dari berbagai sumber, di antaranya Dana Alokasi Khusus (DAK), Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Kabupaten Badung, serta pinjaman daerah.

Sementara itu, Pj Perbekel Desa Suana, Nyoman Suarta, mengaku belum mendapat informasi terkait gagalnya tender proyek ruas Suana-Pejukutan. Meski demikian, ia berharap proses tender ulang dapat berjalan lancar mengingat kondisi jalan yang rusak parah.

Ruas tersebut diketahui menjadi akses penting menuju sejumlah destinasi wisata populer seperti Bukit Molenteng, Diamond Beach, dan Atuh Beach.

“Yang penting ditangani tahun ini, karena kondisinya sudah rusak parah. Kalau harus ada pengurangan volume, kami bisa memaklumi. Prioritaskan yang paling membahayakan,” ujarnya. (mit)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved