Bali United Pusam
Pieter: Bali United Harus Selamanya di Bali
OWNER Bali United Pusam, Pieter Tanuri, merasa semakin terpacu melihat dukungan masyarakat Bali terhadap kehadiran Bali United.
Penulis: Marianus Seran | Editor: Iman Suryanto
Wawancara Khusus Tribun Bali dengan Owner Bali United Pusam
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - OWNER Bali United Pusam, Pieter Tanuri, merasa semakin terpacu melihat dukungan masyarakat Bali terhadap kehadiran Bali United.
Presiden Direktur PT Multistrada Arah Sarana Tbk (pemegang merk ban Achilles dan Corsa) ini pun berkeinginan Bali United selamanya menetap di Bali. Ia ingin Bali United dikenal dunia, seperti halnya keindahan Pulau Dewata.
Berikut petikan wawancara khusus Tribun Bali dengan Pieter di Kuta, Badung, Senin (29/12) malam.
Bisa diceritakan bagaimana prosesnya Anda membeli Putra Samarinda dari H Harbiansyah Hanafiah kemudian menjadikannya Bali United Pusam?
Awalnya Pak Haji (Harbiansyah) yang sudah puluhan tahun memegang Pusam menawarkan kepada saya untuk membeli klubnya. Proses kami membeli klub ini dari Pak Haji cukup cepat. Saya terima tawarannya, tapi saya tidak mau tetap ber-home base di Samarinda. Dia juga masih berperan sebagai komisaris utama. Perjuangan cepat ini berhasil menghadirkan klub ISL bagi masyarakat Bali.
Kenapa Anda tertarik membeli klub ISL?
Alasan utama sejak saya mensponsori Manchester United dan Persib Bandung, saya melihat bola itu satu hal yang mempunyai masa depan. Sepakbola itu industri. Untuk itu kami ingin memulai dari nol di Bali. Prosesnya kami mulai dari proses pemain muda hingga profesional.
Kenapa Anda memilih Bali sebagai home base? Bukan di Samarinda?
Pilihan Bali karena kami contek dari Manchester. Di sana berawal dari kota tekstil sekarang jadi kota wisata, musik, dan sepakbola. Saya berpikir Indonésia bisa kayak gini gak? Akhirnya Bandung dipilih karena mirip. Karena ada konveksi, industri, musik, seniman, dan bola. Kota model lain Indonésia yang sama yakni Bali. Nama Bali sangat terkenal di dunia. Di sini juga ada grup band besar, Superman Is Dead.
Suporter Bali banyak yang ragu Bali United akan tinggal lama di Bali. Sudah banyak klub sebelumnya hanya numpang lewat di Bali. Tanggapan Anda? Apakah Anda punya komitmen ingin Bali United selamanya di Bali?
Bali United harus selamanya di Bali. Komitmen itu bisa dilihat dari pembaruan Stadion Kapten Dipta Gianyar. Kami pasang lampu skala internasional. Bukan sekadar lampu. Satu mata lampu Rp 37 juta, tiap sudut ada 25 lampu, jadi kita butuh 100 lampu. Belum lagi bangun tiang pancangnya. Komitmen kita berikan yang terbaik di lapangan karena lampu yang dipasang sama seperti di Gelora Bung Karno dan Jakabaring Palembang.
Padahal stadion itu milik Pemkab Gianyar. Total dana lebih dari Rp 5 miliar kita siapkan untuk stadion, lalu kenapa kami harus pergi. Kami punya komitmen jangka panjang. Selain pembaruan stadion, kami mengontrak pelatih selama lima tahun.
Dulu ada klub profesional yang terpaksa hengkang dari Bali karena minimnya pemasukan dari tiket akibat penonton yang masuk tanpa tiket. Apa Anda tidak khawatir ini terulang?
Saya justru semakin terpacu karena dukungan masyarakat Bali dan media massa di Bali. Saya juga bangga karena fans sudah berkomiten no ticket no game. Artinya mereka mulai sadar. Suporter harus merasa malu masuk stadion tanpa tiket.
Trik yang akan dilakukan manajemen agar suporter atau penonton punya kesadaran membeli tiket masuk?
Kita akan buat sistem penjualan tiket dengan libatkan tim profesional karena hidupnya klub salah satu dari penjualan tiket. Memang akan ada harga khusus bagi suporter tapi kembali lagi pada kesadaran para suporter dan penonton.
Untuk penggunaan nama Bali United Pusam, apakah ada upaya mempercepat menghilangkan nama Pusam?
Kita masih menulis surat resmi ke PSSI mau minta mengubah nama jadi Bali United. Tapi kami tetap masih menunggu persetujuan dan keputusan PSSI. Kami sementara proses. Dan ini akan jadi kejutan bagi Semeton Dewata --julukan suporter Bali United.
Lalu apa saja agenda yang akan dilakukan manajemen sebelum kick off ISL?
Pemusatan latihan di Yogyakarta 2-8 Januari 2015. Launching Bali United di Bali, 24 atau 31 Januari. Rencana launching di Monumen Bajra Sandhi Renon Denpasar. Kemudian pembagian 1.000 bola bagi SSB se-Bali. Pembagian jersey kepada masyarakat Bali.
Misi Anda untuk musim pertama dan jangka panjang seperti apa?
Membuat fondasi tim. Karena di Bali kita ingin dicintai seluruh masyarakat Bali. Kami juga ingin cari bibit di Bali dengan pembinaan usia dini.
Terakhir, adakah suatu saat nanti Anda ingin menjadikan Bali United sebagai tim elite di Indonesia?
Nama Bali sudah mendunia, harapannya Bali United bisa mendunia. Tapi jangan bicara sekarang. Karena semua bertahap. Kita harus memulai dari apa yang ada. Yang penting, jangan degradasi musim pertama ISL. (*)