Smart Women
Ida Ayu Widiati Terapkan Ajaran Jnana Marga
24 tahun Ida Ayu Putu Widiati SH MHum menjalankan pengabdiannya dalam bidang pendidikan.
Penulis: Ni Ketut Sudiani | Editor: Uploader bali
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - 24 tahun Ida Ayu Putu Widiati SH MHum menjalankan pengabdiannya dalam bidang pendidikan. Selama itu juga, ia telah melalui proses yang cukup panjang, dan mengatasi sekian tantangan juga cobaan.
Perjalanannya berawal dari menjadi seorang dosen, dan hingga kini dipercaya sebagai Dekan Antar Waktu, sekaligus Wakil Dekan I Fakultas Hukum, Universitas Warmadewa, Denpasar. Bagi perempuan asal Tabanan yang kerap dipanggil Dayu itu, apa yang dilakukannya guna merapkan ajaran Jnana Marga.
“Profesi ini sebagai satu di antara cara pengabdian ilmu pengetahuan, menuju kesadaran bersama. Ya apapun yang dipilih, harus ditekuni dan digeluti dengan sungguh-sungguh, apapun tantangannya,” ujarnya kepada Tribun Bali di ruang kerjanya, Senin, (29/12).
Sebagai pemimpin sebuah perguruan tinggi swasta, lembaga yang menyangkut harkat banyak orang, Dayu dituntut untuk selalu kreatif dan berinovasi. Begitu pula dengan segenap tim yang dipimpinnya, baik dosen maupun karyawan, diharapkan bisa memberi yang terbaik.
“Tugas merangkap ini memang berat, tapi ya, setiap profesi pasti ada tantangannya sendiri. Pengalaman selama ini mengajari saya banyak hal. Tentunya, apa yang saya capai sekarang, tidak ada yang instan,” katanya.
Dayu mengaku seberapa pun beratnya pekerjaan, masih bisa diatasi. Namun, dia merasa perlu berjuang lebih keras untuk menghadapi tantangan sumber daya manusia.
“Me-manage orang itu tidak mudah, perlu cara khusus. Saya sedang dalam upaya untuk meningkatkan kinerja dan kualitas tim, termasuk pegawai dan mahasiswa,” kata Dayu yang terlipih sebagai Dekan Antar Waktu pada 1 Oktober 2014 lalu.
Menurutnya, apapun yang diperjuangkannya, tidak akan berhasil apabila tidak ada kerjasama yang baik antartim. Kemajuan dan kemunduran sebuah lembaga tidak hanya tergantung di satu tangan.
Selain memperhatikan kemajuan kualitas sumber daya manusia (SDM), Dayu juga memiliki tantangan untuk mempertahankan status akreditasi lembaga yang dipimpinnya. “Ini pekerjaan yang berat, karena menyangkut legalitas sebuah lembaga,” kata istri dari Ir I Made Catur Harsana itu.
Guna mencapai tujuan bersama, Dayupun tidak henti-hentinya memotivasi timnya untuk melanjutkan pendidikan. Dia juga mendorong para pegawai yang belum sempat menempuh ilmu di perguruan tinggi untuk kuliah.
“Kami juga membentuk Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Warmadewa yang disiapkan untuk memberi bantuan hukum untuk yang memerlukan. Beberapa dosen juga sering diminta untuk menjadi saksi ahli di Polda,” ujar perempuan yang sempat menjadi Kepala Laboratorium Hukum FH Unwar ini.
Dayu pernah menjalin kerjasama dengan Mahkamah Agung dalam penyelenggaraan pelatihan mediator. Sementara itu, para mahasiswa terus diajak untuk membangun kreativitas dalam bentuk apapun.
“Ya, intinya, apapun tugas yang dijalani, kita perlu komitmen. Apabila ditekuni dengan baik, pasti hasilnya akan baik,” ujarnya Dayu yang sempat ingin menjadi guru agama.
Sebelumnya Dayu tidak pernah membayangkan akan menjadi pemimpin di salah-satu fakultas yang cukup banyak diminati itu.
“Saya pikirnya, ya mengalir sajalah, karena awalnya saya kira bekerja sebagai dosen, waktunya bisa lebih longgar, ternyata tugas dan intensitasnya juga tinggi. Saya berusaha bekerja dengan cerdas, keras, dan ikhlas,” kata Dayu sembari tersenyum.
Di samping sebagai pendidik, Dayu juga dikenal sebagai aktifis. Dia pernah menjadi Pengurus Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (PERADAH) Bali, Wakil Ketua DPD Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) Bali, dan Wakil Ketua Komite Nasional Indonesia (KNPI) Bali. (*)