Virus Zika Merebak Lagi, Thermal Scanner di Bandara Ngurah Rai Rusak
Alat khusus pendeteksi suhu badan manusia itu rusak sejak pekan lalu.
Penulis: Manik Priyo Prabowo | Editor: Eviera Paramita Sandi
TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA – Alat khusus pendeteksi suhu badan manusia atau yang dikenal dengan Thermal Scanner di Bandara Ngurah Rai dikabarkan rusak.
Saat ini sejumlah negara sedang giat menanggulangi masuknya penyebaran virus zika yang sudah sampai di negeri tetangga Singapura.
Informasi yang dihimpun Tribun Bali dari petugas di bandara, bahwa alat khusus pendeteksi suhu badan manusia itu rusak sejak pekan lalu.
Dari data yang dipaparkan, alat deteksi yang disebut Thermal Scanner ini bisa mendeteksi seluruh penumpang yang masuk ke terminal kedatangan.
"Kabarnya rusak sudah seminggu lalu. Alatnya bisa mendeteksi seluruh penumpang tanpa terkecuali dan seluruh penumpang bisa dilihat langsung melalui layar. Akan kelihatan bahwa suhu badanya tinggi karena sakit atau sehat," jelas sumber Tribun Bali yang juga petugas kesehatan bandara, Rabu (31/8/2016).
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas I Denpasar, Dr Lucky Tjahjono membenarkan hal itu.
Namun ia mengatakan, alat itu sudah ada penggantinya, dengan menggunakan termometer infrared.
Thermometer yang menggunakan sinar merah ini juga dirasa sudah maksimal apabila petugas bandara selektif dan mengawasi dengan detail penumpang yang datang.
"Termometer infrared ini kinerjanya juga cepat. Petugas kesehatan bandara lihat orang bergelagat sakit atau berciri-ciri sakit maka langsung dicek.
Pengecekannya juga cepat dan hanya satu menit gak sampai," paparnya.
Menurutnya, ada tiga petugas yang berjaga setiap shif.
Upaya lain yang dilakukan untuk mengantisipasi adalah bekerjasama dan mengimbau seluruh maskapai dan awak kapal memerhatikan penumpang yang sakit.
Jika terdapat penumpang sakit demam atau panas, maka petugas maskapai maupun awak kapal akan melaporkan ke petugas kesehatan bandara.
"Selain itu pemerintah di seluruh negara lain juga selektif dan tegas kalau penumpang sakit tidak diperbolehkan keluar atau masuk. Apalagi juga orang sakit banyak yang enggan keluar negeri,” terangnya.
Karena itulah, pihaknya merasa alat deteksi infrared termometer ini sudah efektif melakukan pengawasan.