Bambang Ekalawya Serahkan Ibu Jarinya pada Drona Demi Ini
Bagi mereka yang suka membaca kisah Mahabharata maka tidak akan asing lagi dengan tokoh Bambang Ekalawya
Penulis: Putu Supartika | Editor: Irma Budiarti
Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bagi mereka yang suka membaca kisah Mahabharata maka tidak akan asing lagi dengan tokoh Bambang Ekalawya.
Ia adalah seseorang yang memiliki kemauan keras agar bisa memanah.
Ia memohon kepada Bhagawan Drona untuk dijadikan murid, namun ditolak.
Dengan kemauannya yang keras ia membuat sebuah patung Bhagawan Drona.
Ekalawya membayangkan bahwa patung itu adalah Bhagawan Drona dan secara tidak langsung ia belajar memanah secara otodidak.
Perjuangan yang keras ia lewati dengan ketekunannya berhari-hari belajar memanah, hingga akhirnya ia pandai memanah.
Pada jaman dahulu, karena sistem kewangsaan sangat ketat, maka hanya kaum ksatria yang boleh mengangkat senjata.
"Misal orang tuanya ksatria, maka anaknya juga ksatria. Mati dalam perang dianggap rana yadnya dan tidak ada istilah takut maju di medan perang," kata Staf Pusat Kajian Lontar Unud, Putu Eka Guna Yasa.
Nah dikarenakan Bambang Ekalawaya yang tidak jelas asal-usulnya dan agar murid kesayangannya yaitu Arjuna tidak gundah karena kemampuan memanahnya tersaingi, maka Bhagawan Drona meminta daksina atau persembahan untuk guru kepada Ekalawya.
"Drona meminta guru daksina atau imbalan kepada guru dan daksina yang diminta adalah ibu jarinya. Artinya kemampuan memanahnya diminta," imbuh Guna.
Walaupun awalnya ragu, namun akhirnya Ekalawya menyerahkan ibu jari kanannya kepada Drona yang otomatis pengorbanannya tersebut menyebabkan ia kehilangan kemampuan memanahnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/arjuna_20180329_102256.jpg)