Rata-rata per Hari, 100 Orang Tergigit Hewan Penular Rabies di Bali
Beberapa daerah terpaksa melakukan pengadaan VAR dengan meng-import ke Perancis yang tentu jumlahnya juga terbatas dan proses yang lebih panjang
Penulis: Eka Mita Suputra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Korban rabies di Bali terus meningkat menyebabkan kekhawatiran masyarakat dan pemerintah.
Tidak tanggung-tanggung, hingga tanggal (27/7/2015) kemarin, Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat telah terjadi 17.624 kasus gigitan hewan penular rabies di Bali.
Dari angka tersebut, baru 13.638 kasus yang mendapatkan suntikan VAR dan 12 orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia karena suspect Rabies.
"Rata-rata per harinya 100 orang tergigit hewan penular rabies di Bali. Dan itu angka yang sangat mengkhawatirkan," ujar Kepala Bidang Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Gede Wira Sunetra, Selasa (28/7/2015).
Hingga per (27/7/2015) stok VAR yang tersebar di seluruh Bali sebanyak 13.795 vial dan SAR (serum anti rabies) sebanyak 250 Heterolog.
Dari angka tersebut, 2 Kabupaten diantara yaitu Karangasem dan Gianyar bahkan nihil stok VAR.
Sampai saat, Dinkes Provinsi Bali masih dipusingkan dengan masalah penyediaan VAR semenjak Bio Farma sebagai pemegang hak ijin edar VAR di Indonesia menghentikan produksi VAR.
"Anggaran untuk penyediaan VAR di Bali sebenarnya aman. Tapi yang menjadi permasalahannya adalah pengadaannya, karena pemegang hak ijin edar VAR di Indonesia sudah tidak memproduksi VAR, padahal vaksin yang lain mereka masih memproduksi," keluh dr.Wira
Akibatnya, beberapa daerah terpaksa melakukan pengadaan VAR dengan meng-import ke Perancis yang tentu jumlahnya juga terbatas dan melalui proses yang lebih panjang.
Selain itu, kualitas VAR di luar negeri juga ditakutkan tidak terlalu baik karena adanya perbedaan kondisi di Indonesia dan tempat dimana VAR tersebut diproduksi.
Saat dimintai konfirmasinya beberapa waktu lalu melalui email, Drajat Alamsyah sebagai Kepala Divisi Penjualan Dalam Negeri PT Bio Farma (Persero) tidak menjelaskan secara mendetail mengapa pihaknya tidak lagi memproduksi VAR (Verorab).
Namun, pihaknya mengakui tetap menyediakan VAR melalui PT. Sanofi sebagai produsennya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/vaksin-rabies_20150609_191637.jpg)