Liputan Khusus

Ini Asal dan Lokasi Tujuan yang Paling Diminati Transmigran dari Bali

Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah menjadi daerah yang paling banyak menjadi tujuan transmigrasi yakni sekitar 26 persen atau sekitar 365 jiwa

Ini Asal dan Lokasi Tujuan yang Paling Diminati Transmigran dari Bali
kompas.com
Ilustrasi transmigrasi 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A.A. Gde Putu Wahyura

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Data dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Bali menunjukkan, sejak tahun 2010 sampai 2014, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah menjadi daerah yang paling banyak menjadi tujuan transmigrasi yakni sekitar 26 persen atau sekitar 365 jiwa transmigran Bali ditujukan ke sana.

Setelah itu, Morowali, Sulawesi Tengah dengan jumlah sekitar 313 jiwa, dan paling sedikit yakni Minahasa Selatan, Sulawesi Utara dengan jumlah hanya 35 jiwa.

Sedangkan untuk daerah asal transmigran, daerah yang paling banyak menyumbang transmigrasi yakni Buleleng dengan 302 jiwa, diikuti Karangasem dengan 248 jiwa, dan Tabanan 239 jiwa.

Menurut Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Bali, I Gusti Ngurah Sudarsana, angka ini akan terus bertambah karena animo masyarakat untuk melakukan transmigrasi mencapai angka 2.416 jiwa.

Calon transmigran sebagian besar dari Buleleng mencapai 1.838 jiwa diikuti Tabanan dengan jumlah 192 jiwa dan Karangasem dengan jumlah 132 jiwa. 

“Transmigrasi ini memang keinginan mereka, jadi program transmigrasi ini bukan seperti dahulu lagi yang dipaksa untuk transmigarasi. Apalagi realitanya banyak transmigran sukses, itu yang membuat mereka sangat tertarik. Selain itu, kita sudah banyak melakukan pelatihan, tetapi pesertanya selalu sedikit, ada yang alasannya umur mereka sudah tua ikut pelatihan. Mencari peserta aja susah, kalau kita membendung mereka berangkat itu nanti melanggar HAM mereka,” ujar Sudarsana.

Anggota Komisi III Bidang Pembangunan DPRD Provinsi Bali, Kariasa Adnyana tidak heran dengan tingginya animo transmigran Bali.

Ia mengatakan, banyaknya jumlah transmigran yang ingin keluar Bali dan besarnya animo dari trasnmigran ini memperlihatkan tidak berhasilnya program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan pemerataan di Bali.

Menurutnya, pemerintah baik provinsi maupun kabupaten dan kota harus mampu melindungi para warga Bali, calon transmigran yang sebagian besar memiliki karakteristik sebagai petani. 

“Pada idelanya daerah itu harus bisa mensejahterahkan warganya. Apakah ini berbanding lurus dengan data dari BPS (Badan Pusat Statistik) Provinsi Bali bahwa tingkat kemiskinan kita nomor dua terendah setelah DKI Jakarta. Ini kan suatu cerminan bahwa kebijakan di daerah tidak menunjukkan adanya kesejahteraan yang merata bagi masyarakat Bali. Apalagi sebenarnya masyarakat Bali itu karakteristiknya sebagai pertani, tetapi di sini mereka hanya buruh tani, sistem kita dengan warisan ini kan jadi habis, tentu untuk mereka ingin mencari lahan yang luas makanya mereka ingin transmigrasi,” papar politisi PDIP ini. 

Politisi asal Buleleng ini juga mengatakan, saat ini daerah Bali sudah mengalami pergeseran dari sektor pertanian ke sektor jasa.

Sektor pertanian juga cenderung menjadi pilihannomor dua karena sekarang orang bertani tidak mampu untuk memenuhi kehidupan mereka, apalagi jika gagal panen atau berproduksi maka kerugian mereka semakin besar.

Walaupun memiliki lahan yang luas tetap tidak bisa untuk memenuhi kehidupan keluarga mereka. 

“Kita kan sudah ada pergeseran, pertanian kan cenderung menjadi nomor dua. Orang yang bertani di Bali tidak bisa menghidupi, mensejahterakan keluarganya. Perlindungan terhadap petani juga kurang, makanya kita usulkan kepada gubernur agar ada subsidi untuk urusan pajak, membeli hasil pertanian dari petani. Dan nanti untuk menstabilkan harga agar tidak tinggi di pasaran, maka pemerintah yang memberikan subsidi, selain karena sebagian besar daerah konservasi sudah dialihfungsikan” tegasnya. (*)

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved