Balingkang Kintamani Festival Digelar Februari 2019, Tampilkan Alkulturasi Bali-Cina

Bertempat di jaba Pura Ulundanu, Desa Batur, Kintamani, Bangli akan digelar Balingkang Kintamani Festival

Balingkang Kintamani Festival Digelar Februari 2019, Tampilkan Alkulturasi Bali-Cina
TRIBUN BALI/NYOMAN MAHAYASA
Ilustrasi - Tari Gambuh Anyar “Kang Cing Wie” oleh SMKN 4 Kabupaten Bangli di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar, Bali, Selasa (28/6/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Sebuah helatan akbar tengah dipersiapkan untuk mengisi awal Februari mendatang.

Bertempat di jaba Pura Ulundanu, Desa Batur, Kintamani, Bangli akan digelar Balingkang Kintamani Festival.

Festival ini merupakan acara pertama kali. Digelar pada tanggal 6 Februari, acara ini disebut-sebut mampu menggairahkan kembali kunjungan wisatawan Cina yang sempat lesu beberapa waktu lalu.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud), I Wayan Adnyana menjelaskan festival ini diprakarsai oleh Dinas Pariwisata Provinsi Bali yang bekerja sama dengan Disparbud Kabupaten Bangli, serta sejumlah pelaku pariwisata.

“Puncak acara pada tanggal 6 Februari berpusat di jaba Pura Ulundanu Batur. Acara ini sekaligus menyambut hari raya imlek,” ujarnya Minggu (27/1/2019).

Adnyana melanjutkan, sejatinya festival ini digelar spontanitas untuk meningkatkan citra pariwisata Bali kepada wisatawan Cina.

Pada acara tersebut akan digelar seminar akulturasi budaya Cina dengan Bali, yang disusul dengan parade budaya sebagai puncak acara tersebut.

“Konsep festival ini berupa parade budaya selama dua jam, dengan menghadirkan berbagai budaya percampuran Bali – Cina, seperti lampion, pis bolong, wayang Kang Cing Wie. Sebagai acara pamungkas, digelar fragmentari kisah asmara Raja Bali Jayapangus dan Kang Cing Wie. Astungkara nanti juga akan dihadirkan gajah yang akan ditunggangi oleh Raja Jayapangus,” bebernya.

Adnyana mengatakan, digelarnya Balingkang Kintamani Festival, juga menjadi angin segar bagi pariwisata Kintamani.

Pasalnya selama ini Kintamani hanya dikenal sebagai objek wisata yang menyuguhkan keindahan alam, seperti gunung dan danau Batur.

Padahal menurutnya, masih banyak potensi yang bisa digali dari pariwisata Kintamani, terutama terkait sejarah, budaya, hingga spiritualnya.

“Contohnya salah satu palinggih di konco di Pura Ulundanu Batur yakni Ratu Gede Ngurah Subandar. Satu palinggih di sana, disembahyangi oleh orang Hindu Bali, serta orang Cina. Akulturasi di Batur ini tidak hanya sebatas potret atau wacana.

Karena konsep akulturasi ini juga diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya perbaikan pura. Konsep kebersamaan dan keakraban antar dua entis ini bisa dijumpai saat sasih kadasa nanti,” jelasnya.

Adnyana menambahkan, konsep dan skenario festival saat ini masih dibahas dalam rapat.

Melalui festival ini pula, Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) menargetkan kunjungan wisatawan asal Cina bisa tembus di angka 3000 perhari. (*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Widyartha Suryawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved