Festival Budaya Desa Kuta Ditutup dengan Grand Final JBD di Pantai Segara

Rangkaian dari Festival Budaya Desa Adat Kuta, ditutup dengan grand final dari pemilihan Jegeg Bunga Desa (JBD) Kuta

Festival Budaya Desa Kuta Ditutup dengan Grand Final JBD di Pantai Segara
Tribun Bali/Rino Gale
Suasana Festival Budaya Desa Adat Kuta, Jumat (8/3/2019). Penutupan kegiatan festival diisi dengan grand final pemilihan Jegeg Bunga Desa (JBD) Kuta di area Pantai Segara, Jumat (8/3/2019). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Rangkaian dari Festival Budaya Desa Adat Kuta, ditutup dengan grand final dari pemilihan Jegeg Bunga Desa (JBD) Kuta di area Pantai Segara, Jumat (8/3/2019).

Bendesa Adat Kuta, I Wayan Wasista menjelaskan, kegiatan JBD ini merupakan yang ke 9 kalinya.

Awal digelarnya JBD adalah kegiatan laki-laki membuat ogoh-ogoh yang membuat para perempuan merasa dianaktirikan.

Maka dari itu muncullah ide untuk membuat JBD Kuta.

Baca: Waktu Kelahiran Ternyata Bisa Mengungkap Kepribadianmu, Kamu Lahir Jam Berapa?

Baca: Aksi Dramatis Penyelamatan Satu Keluarga Terjebak Banjir, Hanya Mobil Ini yang Berhenti dan Menolong

Tujuan JBD Kuta sendiri untuk memilih perempuan-perempuan cantik yang ada di Desa Kuta.

Tidak hanya cantik secara fisik, namun juga mempunyai intelektual tinggi.

"Itu yang dicari. Ini kami adopsi dari Putri Indonesia. Nantinya yang terpilih juara 1, 2 dan 3 akan diikutkan keb jenjang yang lebih tinggi seperti Bagus Jegeg Badung nantinya," ujarnya.

Ketua panitia JBD, Ni Made Ayu Dewitasari menambahkan, para finalis JBD Kuta yang berumur 18-20 tahun ini, satu-satunya yang ada di Bali.

Baca: Pengarakan Ogoh-Ogoh di Denpasar Masih Gunakan Sound System,Satpol PP: Keberadaan Mereka Tidak Jelas

Baca: Ria Ricis Terharu, Kakaknya yang Seorang Dokter Mengaku Minder dengan Dirinya

Dalam artian, hanya pemudi Kuta saja yang mengikuti ajang ini.

Ada 13 banjar dimana masing-masing banjar mengirim satu perwakilan mengukuti JBD Kuta.

Lanjutnya, selama pembekalan tiga hari, para finalis diwajibkan untuk membuat video promosi dengan tema yang ditentukan oleh panitia.

Seperti memperkenalkan pura yang masih belum diperkenalkan kepada wisatawan, kemudian ekonomi kreatif semacam memperkenalkan nasi jinggo, dan memperkenalkan bank sampah kepada masyarakat.

"Jadi selama pembekalan itu, para finalis menunjukkan bakat masing-masing. Tujuannya untuk memberikan bekal nanti di atas panggung. Setelah itu, para finalis memasuki pra final yakni tanya jawab untuk menentukan enam besar dalam grand final. Ada lima juri yang menilai para finalis. Penilaiannya sendiri yakni 50 persen di atas panggung, 30 persen interview dan 20 persen kegiatannya sehari-hari," jelasnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved