Kisah Tiga Personel Polda Bali Bertugas di Sudan, Ajarkan Bahasa Indonesia hingga Lagu Nasional
Brigadir Brahma mengatakan, selama berada di Sudan yang menjadi kendala adalah keadaan cuaca, lingkungan dan bahasa.
Laporan Wartawan Tribun-Bali.com, Meika Pestaria Tumanggor
Kisah Tiga Personel Polda Bali Bertugas di Sudan, Ajarkan Bahasa Indonesia hingga Lagu Nasional
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kepolisian Daerah (Polda) Bali, kembali mengirimkan tiga personel anggotanya ke Sudan bergabung dalam Formed Police Unit (FPU) gelombang ke-10.
Iptu Made Martadi (29), Brigadir I Putu Brahma (29), dan Brigadir I Nengah Anggar Setiawan (29), berada di Sudan selama satu tahun dua bulan, dan baru tiba di Bali pada Sabtu lalu (13/04/2019).
Iptu Made mengatakan, selama di Sudan dirinya bertugas mengawal pejabat PBB yang bertugas di Sudan, patroli, dan pengamanan zone warden area.
Selama berada di Sudan, dirinya tidak pernah terlibat perang secara langsung.
"Kalau kontak langsung enggak, tapi sering mendengar suara tembakan dari pemberontak. Jadi di sana (Sudan) pemberontak masih menembaki warga sipil," tambah Iptu Made yang bertugas di biro operasi Polda Bali.
Baca: Begini Pengakuan Mantan Pejabat Pemprov Setelah Diperiksa Polda Bali Terkait Kasus Ketua Kadin Bali
Baca: Teringat Kekasih Sesama Jenisnya, Tangis Pelaku Mutilasi Guru Honorer di Kediri Pecah
Baca: Fakta Kasus Mutilasi Guru Honorer, Selesai Intim Korban Minta Rp 100 Ribu, Cekcok hingga Berkelahi
Selain menjalankan tugas pengawalan, Iptu Made bersama rekan-rekan dari Indonesia juga mengenalkan budaya Indonesia kepada masyarakat dan anak-anak di Sudan.
"Selain pengawal, kita juga membawa misi kebudayaan, tari-tarian, dan makanan. Khusus Bali, kami menonjolkan tentang dekorasi makanan," kata Iptu Made.
Bahkan karena yang telah dekat dengan masyarakat, Bahasa Indonesia juga di ajarkan kepada anak-anak, hingga lagu-lagu nasional.
"Kita kan sering di lapangan, jadi kita sering berinteraksi dengan anak-anak. Mereka senang dengan kita, dan pengen belajar bahasa Indonesia," kata brigadir Brahma.
"Mungkin karena kebawa budaya, kita ramah dan cepat dekat dengan masyarakat. Jadi kalau kita lewat, disambut. Bahkan saat kita mau pulang sampai jajar hormat semua," kata Iptu Made.
Sebelum di kirim ke Sudan, Iptu Made dan kawan-kawan mengikuti beberapa tes yang meliputi kesehatan, psikologi, menembak, mengemudi, Bahasa Inggris, dan jasmani.
Brigadir Brahma mengatakan, selama berada di Sudan yang menjadi kendala adalah keadaan cuaca, lingkungan dan bahasa.
"Padang pasir dimana-mana, terus panas, kering cuacanya. Bahasa pasti. Karena Bahasa Inggris hanya dipakai untuk tugas official PBB aja, kalau ke penduduk pakai Bahasa Arab. Jadi kami belajar juga dikit-dikit Bahasa Arab", kata Brigadir Brahma yang saat ini bertugas di Sat Brimob Polda Bali.